Sektor Pertanian Perlu Gerakan Radikal dan Revolusioner

Kepala BPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi saat memberikan arahan kepada mahasiswa dari seluruh Indonesia pada acara Konsolidasi Nasional Mahasiswa Peduli Pertanian Indonesia dengan tema "Kedaulatan Pangan Untuk Indonesia yang Berdaulat”. (kabarjitu/eva)

 

JAKARTA (kabarjitu): Untuk membangun pertanian di Indonesia, dibutuhkan gerakan radikal dan revolusioner yang dilakukan para generasi muda. Karena para pemuda merupakan penerus pembangunan pertanian yang mampu menjamin ketersediaan pangan secara nasional.

Demikianlah dikatakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi pada acara Konsolidasi Nasional Mahasiswa Peduli Pertanian Indonesia dengan tema “Kedaulatan Pangan Untuk Indonesia yang Berdaulat” di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu (09/10/2019).

Dedi mencontohkan, Uni Soviet pernah menjadi negara adidaya pada pertengahan 1980-an. Namun, runtuh setelah mengalami krisis pangan yang kemudian diikuti kritis-kritis lainnya, seperti krisis moneter dan politik. Sehingga negara kesatuan itu runtuh dan pecah menjad berbagai negara.

“Dari kasus itu, kita bisa menarik kesimpualan negara besar yang tidak mampu mengatasi persoalan pangannya akan runtuh. Sehingga kita harus radikal dan revolusioner untuk masalah pangan. Artinya, kita harus berani melakukan perubahan besar-besaran di sektor pertanian,” ujar Dedi

Oleh karena itu, pihaknya berusaha memacu mekanisasi di bidang pertanian. Karena saat ini, pihaknya sudah melakukan gerakan revolusioner di sektor pertanian. Misalnya, dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern yang berbasis mekanisasi.

“Mekanisasi pertanian yang gencar dilakukan sejak 2015 memicu generasi milenial kembali ke sektor pertanian. Alat mesin pertanian (alsintan) mampu memangkas biaya usaha pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan petani,” imbuhnya.

Dedi mengaku, mekanisasi mampu menghemat 60 persen biaya tenaga kerja. Sehingga mampu meningkatkan daya saing dan produktivitas produk pertanian. Hebatnya, alat dan mesin pertanian tersebut sudah dapat dihasilkan oleh anak bangsa.

“Saat ini sudah ada traktor otomatis (tanpa awak), mesin penanam (trasplanter) dan mesin pemanen (harvester) yang memudahkan pemanenan dan penanaman. Panen, olah tanah, kemudian tanam cuma satu hari,” pungkasnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password