Laporan Jurnalis Dianiaya Saat Liput Demo Ditolak Bareskrim

Tim Advokasi AJI saat melaporkan dugaan penganiayaan jurnalis. (kabarjitu/red)

 

JAKARTA (kabarjitu): Laporan tindak kekerasan terhadap dua jurnalis oleh oknum aparat kepolisian saat meliput aksi demonstrasi mahasiswa ditolak untuk kedua kalinya. Justru korban diminta melapor ke Propam terlebih dahulu sekaligus langsung menyurati Kepala Bareskrim Polri terkait laporan tersebut.

Demikian disampaikan Direktur LBH Pers Ade Wahyudin saat mendampingi dua jurnalis dari Tirto.id dan Narasi TV yang melapor ke Bareskrim Polri, Rabu (09/10/2019).

“Ini adalah pelanggaran hukum dan merupakan tindak pidana. Karena sudah jelas ada bukti dan saksinya. Tapi malah belum bisa buat laporan polisinya. Padahal, untuk kekuatan bukti kami sudah siapkan foto, list saksi, rekaman. Namun dengan alasan belum masuk akal, kami malah diminta mengirim surat ke Kabareskrim,” terang Ade.

Arahan tersebut, kata Ade, sudah menunjukkan bahwa laporan tindak kekerasan yang dialami bukan merupakan jalur laporan polisi. Sehingga, pihaknya sangat menyayangkan penolakan laporan di Bareskrim Polri ini serta sebelumnya di Polda Metro Jaya.

“Padahal, dengan laporan ini kami hanya ingin menguji fungsi Undang-Undang (UU) Pers Nomor 40 Tahun 1999. Apakah UU itu cukup kuat melindungi pers atau tidak. Terlebih, korban juga sudah memiliki bukti yang kuat untuk dapat melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarya Erick Tanjung menambahkan, dua laporan ditolak karena pihaknya menduga pelaku kekerasan adalah oknum polisi. Seharusnya Bareskrim dapat menerima laporan itu. Intimidasi yang dialami wartawan masuk dalam tindak pidana.

“Semisal pelaku terbukti oknum kepolisian, kami akan mempersilakan Polri menindak dari sisi kode etiknya. Karena laporan kami bukan melalui jalur polisi,” imbuhnya. (red)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password