Bahaya Pemanis Buatan Mengancam

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi saat merilis hasil penelitiaannya tentang pemanis buatan. (kabarjitu/red)

 

JAKARTA (kabarjitu): Masyarakat Indonesia hingga saat ini masih banyak yang mengkonsumsi pemanis buatan. Hal itu karena peringatan dan imbauan kesehatan pemanis buatan produk makanan dan minuman masih minim dan belum informatif. Sehingga pesan kesehatan tidak sampai kepada masyarakat dan dampaknya mengancam generasi muda.

Begitulah diungkapkan Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi saat merilis hasil penelitiaannya tentang pemanis buatan di Kantor YLKI, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Menurutnya, fakta yang terjadi pesan kesehatan tidak sampai dan akhirnya banyak ibu-ibu dan anak-anak yang mengkonsumsinya. Padahal bahaya terlalu banyak mengonsumsi pemanis buatan bisa mengakibatkan penyakit gangguan ginjal, kegemukan, penyakit saraf hingga kanker.

“Oleh sebab itu, kami mendesak pemerintah dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memperketat pengawasan dengan merevisi aturan pelabelan pada produk-produk yang mengandung pemanis buatan. Karena label informasi mengenai komposisi atau penanda itu kerap disembunyikan oleh produsen,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saat ini ada 13 jenis pemanis dan pemanis buatan yang memperoleh izin digunakan dalam pangan olahan dari BPOM. Di antaranya aspartam dan poliol. Tapi, ada beberapa negara sudah membatasi bahkan melarang secara ketat penggunaan pemanis buatan

“Berbagai studi telah dilakukan untuk menguji dampak konsumsi pemanis buatan terhadap kejadian penyakit. Karena pemanis  buatan adalah golongan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak memiliki kandungan gizi. Tapi di Indonesia masih diizinkan,” tegasnya. (red)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password