Ada Tol Laut, Harga Ternak Tetap Mahal

Kapal pengakut ternak di Indonesia yang melalui jalur Tol Laut. (kabarjitu/red)

 

JAKARTA (kabarjitu): Masalah pasokan dan harga komoditas sapi tak kunjung usai. Salah satunya, sistem transportasi logistik dengan Tol Laut masih belum efektif. Sebab harga sapi lokal dari sentra-sentra di luar Jawa tetap mahal. Oleh karena itu, perlu dibangun Rumah Potong Hewan (RPH) dan cold storage khusus sapi di sentra sapi lokal. Sehingga sapi bisa dikirim dalam bentuk daging dan tidak memerlukan biaya pemulihan atas penyusutan hewan sapi di perjalanan.

“Kami mengusulkan agar pemerintah memfasilitasi pembangunan RPH dan cold storage di sentral sapi di Bali, NTB dan NTT untuk penyusutan daging sapi saat pengiriman dengan Tol Laut,” kata Direktur Operasional Berdikari, Oksan Panggabean di Jakarra, Kamis (10/10/2019).

Dia menjelaskan, penyusutan itu mengharuskan sapi yang tiba di Jawa mendapatkan perawatan intensif agar bobot daging kembali naik. Dengan begitu, volume daging sapi yang diperoleh dapat lebih besar. Sehingga perlu waktu untuk pemulihan sapi setelah sampai. Hal Itu membuat harga pengiriman dengan Tol Laut menjadi tinggi dan tidak efisien.

“Rata-rata biaya pengiriman sapi dari luar Jawa ke Jawa sebesar Rp500 ribu per ekor. Itu merupakan tarif subsidi. Karena biaya normal pengiriman lebih dari Rp1 juta per ekor. Masalah inefisiensi ini, bukan sebatas dari tarif saja melainkan dari penyusutan daging sapi saat pengiriman dengan Tol Laut,” paparnya.

Sementara itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita mengaku, saat ini memang baru terdapat satu unit RPH di Kupang, NTT untuk sapi yang dikelola oleh pemerintah setempat. Sayangnya, keberadaan RPH belum begitu dimanfaatkan dengan maksimal.

“Melihat fakta yang ada, pembangunan RPH harus disertai komitmen pengelola kawasan peternakan maupun pemerintah daerah dalam mengelolanya. Makanya, pembangunan RPH harus atas usulan daerah, baru kita kaji,” kata Ketut di Kantor Kementan, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Mengenai usulan perubahan pola distribusi dari hewan hidup ke daging beku, lanjutnya, itu adalah usulan yang baik. Sebab, distribusi daging akan meningkatkan nilai tambah bagi pemerintah daerah setempat. Namun, hal itu menemui kendala dari kebiasaan masyarakat di Indonesia.

“Masyarakat kita masih menganggap daging segar adalah daging yang baru dipotong. Padahal, daging yang sehat adalah daging yang dipotong dan dibekukan. Jadi, tidak ada yang salah dari fungsi Tol Laut saat ini. Karena 7 kapal ternak yang adasudah cukup baik dalam membantu distribusi sapi ke Jawa,” pungkasnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password