Tanaman Biotek Sudah Diadopsi 70 Negara. Bagaimana Dengan Indonesia?

Kegiatan seminar Youth Biotech Outreach. (kabarjitu/eva)

 

DEPOK (kabarjitu): Kehadiran ilmu bioteknologi selama ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh sektor pertanian di Indonesia. Padahal, teknologi pangan tersebut bersifat positif dan bisa membawa kemajuan bagi dunia pertanian Indonesia. Tidak hanya itu, bioteknologi juga bisa melepaskan ketergantungan Indonesia dari impor bahan pangan.

“Saat ini sudah ada 70 negara yang telah mengadopsi tanaman bioteknologi melalui penanaman dan impor bahan pangan. Karena tanaman bioteknologi bisa terus membantu dan memberikan solusi memenuhi tantangan global, seperti kelaparan, malnutrisi dan perubahan iklim,” kata Direktur Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC) Bambang Purwantara kepada kabarjitu.com saat seminar Youth Biotech Outreach di Depok, Jawa Barat, Selasa (10/09/2019).

Sementara itu, Tim Teknis Keamanan Hayati (TTKH) Lungkungan, M. Thohari diungkapkan alasan Indonesia belum mengembangkan tanaman bioteknologi karena hingga saat ini pengkajian untuk kemananan pangan, pakan dan lingkungan masih diproses. Sebenarnya, untuk pangan dan pakan saat ini tidak ada masalah. Namun yang ditanam sebagai bibit harus aman untuk dilepas dan harus mendapat izin pelepasan varientas.

“Jadi untuk melepas tanaman ini ada aturannya, tidak boleh seenak memproduksi. Makanya kami belum bersedia untuk membahasnya. Karena belum ada pedoman pengawasqn untuk pelepasan varientas,” tegasnya

Menurut dia, memasuki tahun ke-23 adopsi dan penerapan tanaman  bioteknologi semestinya bisa segera di kembangkan di Indonesia. Karena di negara lain sudah banyak yang menyadari bahkan menggunakannya sebagai peningkatan produksi pangan di negaranya.

“Sayangnya, penerapan produk bioteknologi di Indonesia khususnya jagung tahan hama dan tebu tahan kering masih terhambat perizinannya. Karena masih menunggu persetujuan keamanan pakan dari pemerintah,” tegasnya.

Pihaknya berharap, prosedur tersebut cepat selesai agar para petani segera dapat menanam tanaman bioteknologi dalam rangka menunjang perwujudan kedaulatan pangan. Karena dengan tanaman rekayasa genetik swasembada pangan akan menjadi ringan.

Pada kesempatan yang sama, Penelitin Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Bahagiawati menjelaskan, di Indonesia sudah ada beberapa institusi penelitian telah mengembangkan tanaman bioteknologi. Namun upaya penamaman tanaman bioteknologi secara komersial saat ini sedang menjalani pengkajian keamanan hayati yang dilakukan oleh Komisi Keamanan Hayati beserta tim teknisnya.

“Kami memang sangat berhati-hati untuk masalah ini. Karena sekali sudah dilepas, maka tidak dapat ditarik kembali. Namun, status ini penting untuk para peneliti, karena pasti peneliti akan lebih bergairah jika ada kejelasan tentang masa depan bioteknologi di Indonesia,’’ ungkapnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password