Peran Iptek Dalam Pertumbuhan Ekonomi Rendah

Focus Group Discusion (FGD) ke-2 bertema “Pembangunan Ranah Material-Teknological (Tata Sejahtera). (kabatjitu/eva)

 

JAKARTA (kabarjitu): Peran ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta inivasi masih rendah dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Padahal, percepatan pembangunan ekonomi berbasis iptek dan inovasi merupakan salah satu tahapan dalam pencapaian visi Indonesia 2045.

Demikianlah dikatakan Ketua Umum Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo kepada kabarjitu.com usai membuka Focus Group Discusion (FGD) ke-2 bertema “Pembangunan Ranah Material-Teknological (Tata Sejahtera)”, di Jakarta, Senin (16/09/2019).

“Tidak ada negara yang bisa makmur berkelanjutan hanya semata-mata mengandalkan kekayaan sumber daya alam, termasuk Indonesia. Namun, dominasi iptek dan inovasi di Indonesia baru mencapai angka 16,7 dari target angka 20. Artinya, persn iptek dan inovasi kita tidak terlalu tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, selama pemanfaatan iptek dan inovasi masih rendah, maka sulit bagi Indonesia untuk  bisa menuju tingkat kemajuan yang signifikan. Apalagi, pemerintah merespons revolusi industri 4.0 secara baik melalui beberapa kebijakan yang terfokus pada peningkatan daya saing bangsa di tengah persaingan global.

“Dengan meningkatkan peran iptek, Indonesia akan memacu produktivitas dan secara langsung akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena peran iptek dan inovasi dalam berbagai lini pembangunan amat diperlukan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Indonesia Yos Johan Utama mengakui hasil riset di Indonesia belum banyak dimanfaatkan oleh dunia industri. Padahal biaya riset yang dikeluarkan, baik oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset jumlahnya cukup besar, berkisar antara Rp40 triliun hingga Rp45 triliun per tahun.

“Seperti Universitas Diponegoro, anggaran riset menghabiskan sekitar Rp132 miliar per tahun. Dengan jumlah perguruan tinggi mencapai 4700. Sehingga bisa dibayangkan betapa besarnya biaya riset yang sudah dikeluarkan, bisa mencapai Rp40 triliun hingga Rp45 triliun pertahun,” tegasnya.

Diakuinya, untuk menjadikan hasil riset masuk dalam tahapan pabrikasi dimanfaatkan oleh dunia industri bukanlah masalah gampang. Banyak persoalan yang dihadapi, seperti banyaknya riset yang sifatnya pengulangan, obyek riset kurang membumi, dan lainnya.

“Belum lagi persoalan yang dihadapi para peneliti di lapangan. Karena hingga kini para peneliti masih disibukkan dengan pelaporan yang sifatnya administratif, seperti penggunaan atau alokasi anggaran penelitian. Sehingga menjadikan peneliti kurang focus pada kegiatan risetnya,” tutupnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password