Kementan Langsung Gelar Sosialiasasi Dua RUU Yang Disahkan DPR

Kepala Barantan Ali Jamil sedang menyosialisasikan UU KHIT kepada pelaku usaha pertanian di Kementan. (kabarjitu/eva)

 

JAKARTA (kabarjitu): Pasca DPR mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Karantina, Hewan, Ikan dan Tumbuhan (KHIT) dan RUUte tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan, pada Selasa (24/09/2019). Kementerian Pertanian (Kementan) langsung bergerak cepat mensosialisasikan UU tersebut kepada sejumlah asosiasi dan pelaku usaha pertanian yang terkait langsung dengan kebijakan baru ini.

“UU ini diberlakukan untuk semua pelaku usaha pertanian di Indonesia. Kami ingin cepat, kuncinya ialah sosialisasi ke bawah. Sehingga semua memahami, bahwa UU ini positif untuk mereka, berpihak kepada mereka, tidak dipolitisir dan diarahkan bahwa UU ini tidak berpihak ke petani,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman, disela-sela kegiatan sosialisasi tersebut di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu (25/09/2019).

Dia menjelaskan, dengan kebijakan yang diatur dalam UU tersebut, maka potensi petani-petani kecil untuk bisa mendapatkan kesempatan lebih baik terbuka lebar. Karena penyusunan RUU ini didasarkan pada upaya untuk meningkatkan peran petani dalam pembangunan pertanian dengan tidak mengesampingkan perlindungan kepada masyarakat.

“Melalui UU tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan, dipastikan petani kecil akan semakin dilindungi. Sesuai ketentuan dalam UJ tersebut, maka kami wajib berupaya untuk meringankan beban petani kecil berlahan sempit yang budidaya tanamannya gagal panen karena bencana alam,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil memaparkan, RUU KHIT terdiri atas 15 Bab dan 19 Pasal yang mengatur tentang pencegahan hama dan penyakit sumber daya hayati dan keamanan pangan. RUU itu mengamanatkan agar penyelenggaraan karantina diintegrasikan dan dikoordinasikan ke dalam bentuk satu badan.

“Sehingga Barantan mampu menjadi garda terdepan dalam perlindungan negara dari masuk dan tersebarnya hama dan penyakit. Selain itu, perlindungan sumber daya hayati dari cemaran organisme produk rekayasa genetika (GMO) yang dapat digunakan sebagai senjata biologis (bioterorisme) makhluk asing invasif atau invasif yang dapat melindungi ekosistem, perlindungan terhadap tumbuhan, dan pembohong dan agensia hayati, serta keamanan pangan,” imbuhnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password