Kurang 10 Persen UKM di Indonesia Memiliki Standarisasi

Workshop Pemanfaatan Technical Barriers to Trade (TBT) di WTO Agreement Dalam Menembus Perdagangan Perdagangan Global Bagi Industri. (kabarjitu/eva)

 

JAKARTA (kabarjitu): Usaha kecil dan menengah (UKM) memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Oleh sebab itu, Badan Standarisasi Nasional (BSN) berupaya mendorong seluruh UKM di Indonesia bisa menjual produknya hingga ke pasar global. Sayangnya, mayoritas produk UKM belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) atau sertifikasi. Sehingga produk-produk yang dihasilkan belum memiliki daya saing internasional.

“Banyaknya UKM di Indonesia hingga sulit di data, namun kurang dari 10 persen yang memiliki SNI. Karena untuk masuk ke pasar global harus memiliki SNI dari BSN,” kata Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Bidang UKM dan Koperasi, Muhammad Lutfi kepada kabarjitu.com disela Workshop Pemanfaatan Technical Barriers to Trade (TBT) di WTO Agreement Dalam Menembus Perdagangan Perdagangan Global Bagi Industri di Jakarta, Kamis (08/08/2019).  

Dia menjelaskan, masih minimnya sektor UKM yang berstandar karena lemah atau rendahnya kesadaran pelaku usaha, baik dilevel bawah maupun atasnya tentang pentingnya SNI. Selain itu juga biaya sertifikasi ini cukup tinggi karena harus melewati testing dan laboratorium.

“Banyak UKM kita miskin modal, miskin pengalaman dan miskin akses usaha. Apalagi, sertifikasi itu tergantung produknya, kalau produknya simpel, testingnya sederhana, biayanya murah. Karena itu, kita harus datang dan memberikan satu advokasi supaya mereka mau ikut di dalam tatanan dunia yang baru,” paparnya. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala BSN, Bambang Prasetya mengakui saat ini persentase produk UKM yang telah memiliki sertifikasi SNI masih sangat kecil sekali. Sehingga perlu upaya serius dari berbagai pihak untuk mendorongnya. “Memang SNI terdengar sederhana, tapi jika dijalankan maka akan benar-benar berdampak positif hingga menembus pasar global,” tegasnya. 

Akan tetapi, lanjutnya, tidak semua UKM memiliki kesadaran serupa karena pengetahuan tentang SNI masih kurang. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait standardisasi. Selain itu, pihaknya juga terus meningkatkan standardisasi dengan terus mengadvokasi pelaku UKM agar tembus ekspor. 

“Standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) menjadi syarat minimal agar produk UKM bisa tembus pasar ekspor. Jadi kita minimalisasi sistem manajemen yang agak rumit itu, sehingga mereka bisa menerima,” tutupnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password