Kenaf Jatim Digemari Peternak Jepang

Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Mussafak Fauzi lepas ekspor kenaf di Lamongan. (kabarjitu/ist)

 

LAMONGAN (kabarjitu): Kenaf merupakan tumbuhan penghasil serat. Kenaf asal Jawa Timur, sudah diekspor ke Jepang. Tercatat, selama tahun 2019, sebanyak 76 ton kenaf senilai Rp554 juta telah dikirim ke Jepang. Jumlah itu telah mencapai 88,8 persen dari total ekspor di tahun 2018 yang mencapai 85,5 persen.

“Jepang memanfaatkan kenaf Jawa Timur ini sebagai bahan untuk alas kandang ternak, terutama kuda. Sehingga Jepang mempersyaratkan kenaf yang masuk harus bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Inilah mengapa Jepang mempersyaratkan jaminan kesehatan dan keamanan hewan bagi kenaf,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil usai melepas ekspor kenaf 38 ton senilai Rp277 miliar di Lamongan, Jawa Timur, Kamis (15/08/2019).

Menurutnya, meskipun kenaf merupakan komoditas tumbuhan, namun sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh Karantina Pertanian Surabaya adalah Health Certificate/(HC) dan bukan Phytosanitary Certificate (PC). Karena HC adalah surat kesehatan hewan. Sedangkan, PC adalah surat kesehatan tumbuhan yang biasanya digunakan sebagai jaminan kesehatan komoditas tumbuhan.

“Tugas kami hanya sebagai fasilitator perdagangan komoditas pertanian. Jadi, selaku otoritas karantina kami penuhi dengan layanan cepat, tepat dan akurat. Sehingga produk pertanian dapat diterima di negara tujuan,” urainya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PT. Global Agrotek Nusantara, Prambudi, mengakui, saat ini pohon kenaf hanya dapat tumbuh baik di bantaran sungai Bengawan Solo. Namun, kenaf juga tumbuh subur di Lamongan. Penanamannya  sekitar 99 persen dikelola oleh perusahaannya. Sistem yang djterapkan adalah sistem kemitraan dengan petani.

“Sehingga kami menjadi satu-satunya produsen kenaf yang telah diakui secara resmi oleh Jepang. Sebagai salah satu persyaratan masuk pasar Jepang, proses pembuatan kenaf harus menerapkan program zero waste, atau tidak ada limbah dalam prosesnya,” ucapnya.

Sementara Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi, menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk pengembangan industri kenaf. Karena kenaf berpotensi memiliki nilai ekspor yang cukup tinggi, sehingga dapat menambah devisa negara dan meningkatkan kesejahteraan para petani.

“Manfaat dari kenaf sangat banyak, maka masih terbuka peluang besar ekspor olahan kenaf lainnya. Karena hingga kini baru Jepang yang memanfaatkan kenaf Indonesia untuk alas kandang ternak,” tegasnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password