Prabowo, Antara Kongsi Korporasi, Intimidasi, dan Legitimasi MRT

istimewa

Syarif Hidayatullah *)

PERTEMUAN Prabowo dan Jokowi di MRT Lebak Bulus dengan ending makan bareng di Senayan, menyisakan obrolan warung. Beragam tafsir muncul.

Ada yang bilang, itu strategi Prabowo, sang jenderal yang cerdas. Buktinya, Prabowo milih ketemu di MRT Lebak Bulus. Tempat terbuka, publik area, tidak di istana.

Bahkan ada yang membuat cocokologi, bahwa Lebak diartikan sebagai “dataran rendah” dan Bulus adalah “licik”. Maksudnya, “Orang licik itu rendah.”

Ada lagi pendapat, pihak Jokowi, melalui Pramono, ‘nyembah-nyembah’ kepada Prabowo agar mau ketemu Jokowi. Pasalnya, kas negara kosong. Untuk mengisinya, pihak peminjam (China), memberi syarat, Jokowi harus ketemu Prabowo, rekonsiliasi, minimal ucapan selamat (sama saja).

Prabowo juga memberi syarat, agar aktivis yang ditangkapi, segera dilepas. Tidak ada lagi diskriminasi dan kriminalisasi terhadap ulama dan nasionalis.

Ada juga yang berpikir, pertemuan itu tak lebih dari sekedar memenuhi undangan belaka. Sebagai negarawan, Prabowo menghormati pemerintah, apalagi terkait dengan kepentingan publik.

Bullshit. Semua itu hanya tafsiran fatamorgana. Cocokologi-justifikasi, tak lebih.

Loh kok begitu? Memang begitu. Lihat saja, tafsiran-tafsiran itu keluar dari para politisi. Apatah dari orang Gerindra atau orang BPN. Orang partai, selalu ada kepentingan saat berpolitik. Tujuan akhirnya adalah KEKUASAAN, setidaknya menjadi bagian dari kekuasaan. Minimal, bisa ambil kue dari kekuasaan, walau cuma sepotong.

Coba, teliksik lagi. Di tubuh koalisi O2 sendiri sudah terburai. Demokrat lebih dulu merapat ke 01, walau kabar burungnya ditolak. PAN, ambil sikap sama. Praktis, tinggal Gerindra dan PKS.

Santer terdengar, di tubuh Gerindra sendiri sudah terpecah. Antara mereka yang air liurnya sudah netes (ngeceh, istilah Betawi) melihat peluang jabatan, dengan mereka yang loyalitasnya tinggi terhadap Prabowo.

Ditambah, adanya dugaan, ancaman-ancaman tingkat tinggi terhadap Prabowo, Sandi, dan elit 02 yang punya bisnis menengah-besar. Bisnisnya terancam kolaps, jika Prabowo masih bertahan dengan sikapnya.

Dari sekian multitafsir, yang bisa dicerna akal sehat adalah perpecahan koalisi dan dugaan ancaman.

Mari kita teliksik keduanya. Jelang bertemu Jokowi, Prabowo membubarkan BPN. Bau amis tercium menyengat. Terjadi perpecahan di lingkar satu BPN. Penghianatan pun tak terelakan. Dimulai dari munculnya desakan agar Prabowo bersedia menerima kekalahan sampai dorongan agar 02 melakukan gugatan ke MK.

Di sini, muncul drama penunjukan Oto Hasibuan sebagai kuasa hukum 02 (padahal dia pendukung keras 01). Hingga terjadi penghilangan barang bukti saat pengajuan ke MK. Luar biasa penghianatan itu..!

Puncaknya, pasca putusan MK, Prabowo tak mau mengucapkan selamat. Jelas dalam pidatonya, hanya menghormati keputusan MK. Tidak menerima dan tidak ada ucapan selamat kepada Jokowi.

Dalam situasi inilah, senjata pamungkas 01 dikeluarkan. Dan, Prabowo pun akhirnya luluh tak berdaya.

Prabowo punya bisnis besar, perkebunan, pertambangan, dll. Sandiaga Uno juga. Tak terkecuali orang-orang di lingkaran 02. Mereka para user perusahaan yang terkait erat dengan kebijakan pemerintah.

Contoh saja, Prabowo adalah pemilik perusahaan PT Alas Helau, yang bergerak di bidang pembuatan kertas. Perusahaan itu terancam tak bisa memperpanjang ijin. Bahkan, baik Prabowo maupun Sandi, adalah pemain lama usaha pertambangan dan energi berskala besar.

Di lingkaran 02 ada juga Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Maher Al Gadrie, Hashim Djojohadikusumo, Sudirman Said, dan Zulkifli Hasan.

Bahkan, tak bisa dielakkan, Sandiaga Uno sudah lama berkolaborasi dengan Luhut Binsar Pandjaitan, Wahyu Sakti Trenggono dalam kasus tambang emas Tumpang Pitu, Banyuwangi. Mereka sama-sama memiliki hubungan bisnis dalam jejaring kepemilikan tambang emas di Tumpang Pitu.

Relasi politik dan bisnis inilah yang pada akhirnya meluluh-lantakan sikap Prabowo. Maka, tak ada pilihan lain, kecuali melegitimasi kemenangan Jokowi. Sebab, tak ada jalan lain untuk mengubah kekalahan Prabowo-Sandi menjadi kemenangan.

Posisi Prabowo-Sandi sudah di pojok ring. Wasit tak mau melerai, bahkan cenderung berpihak pada 01. Mau tidak mau, handuk putih pun berkibar.

Untuk ‘mengkamuflasekan’ pemberian legitimasi kepada Jokowi, maka Prabowo memanfaatkan momentum peresmian MRT sebagai tempatnya.
Bagi Jokowi, tak peduli dimana tempatnya. Yang penting, legitimasi itu diraih. Selesai.

Buktinya, sehari setelah “Hari Sakit Hati” itu terjadi, Jokowi dengan lantangnya berpidato, “Siapa pun yang menghalangi investasi (asing), akan disikat”.

*) Wartawan Tuwir

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password