Tuduhan Makar kepada Sunarko dan Kivlan Zen, Fitnah Keji

Kabarjitu/Rama

 

JAKARTA (kabarjitu): Tuduhan makar kepada Mayjen TNI (Purn) Sunarko dan Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen seperti diberitakan secara luas di media massa, adalah fitnah yang sangat keji. Fitnah dilakukan demi membunuh karakter kedua jenderal. Padahal, tanpa didukung bukti bukti apapun.

 

“Kami prihatin dengan penangkapan purnawirawan TNI dan Polri. Sebab, mereka tidak mungkin melanggar sumpah TNI dan Polri. Kalau mereka berbeda pendapat, seharusnya dijawab juga dengan pendapat,” ungkap KPAA Ferry Firman Nurwahyu, S.H, Wakil Ketua Advokat Senopati-08 dalam konferensi pers pada Jumat (31/5/2019).

Konferensi pers yang digelar di ruang Kesatria Wira Yudha Lt. 1, Hotel Atlet Century Park, Gelora Senayan, Jakarta Pusat, itu bertajuk “Mayor Jenderal TNI (Purn.) Soenarko (Mantan Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda) Trial By The Press”.

Menurut Ferry, tuduhan yang diarahkan kepada Mayjen TNI (Purn) Sunarko di media massa adalah pernyataan yang tidak benar. Itu menyesatkan, dan menimbulkan keresahan di masyarakat. “Kami menghimbau kepada pers untuk menghormati prinsip praduga tidak bersalah,” tanda Ferry.

Mayjen TNI (Purn) Sunarko dengan ini membantah isu bahwa tidak pernah memasukkan senjata M16 A1 maupun M4 Carbine ke Indonesia.

Mayjen TNI (Purn) Sunarko tidak pernah membuat senjata M16 A1 maupun M4 Carbine.

Mayjen TNI (Purn) Sunarko tidak pernah menerima senjata M16 A1 maupun M4 Carbine.

Mayjen TNI (Purn) Sunarko tidak pernah menyimpan senjata M16 A1 maupun M4 Carbine.

Mayjen TNI (Purn) Sunarko tidak pernah menyembunyikan senjata M16 A1 maupun M4 Carbine.

Mayjen TNI (Purn) Sunarko tidak pernah mengangkut senjata M16 A1 maupun M4 Carbine.

Mayjen TNI (Purn) Sunarko tidak pernah melakukan, tidak pernah menyuruh melakukan, tidak turut serta melakukan perbuatan atau terlibat kericuhan dalam aksi massa pada 22-23 Mei 2019, sebagaimana dimaksud dalam surat dari Bareskrim Polri Direktorat Tipidum Nomor : B/98-5a. Subdit I/V/2019/Dit Tipidum, Perihal Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan tanggal 18 Mei 2019.

Sementara itu, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Johannes Suryo Prabowo mengatakan, pihaknya minta agar media jangan mudah menuduh dengan mengutip statemen orang. “Kok kesannya, media benci sekali dengan purnawirawan. Ini mirip dengan tahun 65. Sebelum menangkap para jenderal, dihembuskan isu Dewan Jenderal. Saya sakit hati dengan pemberitaan soal penangkapan Pak Sunarko,” ujar Suryo Prabowo.

Menurut Suryo Prabowo, tidak ada jenderal yang pengalaman tempurnya menyamai Pak Sunarko. Sekalipun Menkopolhukam, mungkin kakinya belum pernah berlumpur. “Tidak benar Pak Sunarko ditangkap di bandara, itu tidak benar. Tidak benar Pak Sunarko menggunakan senjata rakitan. Boleh Pak Narko dibilang bersalah tetapi jangan dibilang makar,” tandasnya.

Suryo Prabowo minta, jangan mudah menggunakan kata makar. “Jangan sekali sekali menuduh kami tidak cinta merah putih. Pemberitaan mengenai Pak Sunarko jelas bukan hanya menyakiti hati keluarga Pak Sunarko dan menyakiti korps baret merah,” akunya.

Senada, Mayor Jenderal TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim juga mengaku, kedatangannya pada konferenai pera itu karena khawatir dengan keamanan Indonesia ke depan. “Ada ribuan pensiunan Kopassus datang menyampaikan kerisauan mereka. Situasi ini tidak bagus. Kami menghargai jalur hukum yang ada. Pak Sunarko punya jasa sangat besar, mendapat pujian dari dunia Internasional,” katanya.

Menurut Zacky, jangan sampai mengalami perang saudara karena persoalan ini. Sekarang Pak Sunarko yang merupakan seorang patriot dituduh makar. “Saya masih percaya dengan aparat penegak hukum kita agar klir masalahnya. Jangan sampai kita mengalami situasi yang dapat membubarkan NKRI,” ujarnya.

Kolonel Inf. (Purn) Sri Radjasa Chandra, MBA mengatakan, tuduhan kepada Sunarko yang telah menyelundupkan senjata jenis M4, senjata sniper untuk aksi 22 Mei 2019, jelas tuduhan bohong.

“Pak Sunarko tidak pernah sekalipun menghukum anak buahnya dengan kekerasan. Pak Narko tidak pernah memiliki senjata tersebut seperti yang dituduhkan Pak Wiranto, Pak Moeldoko dan Pak Tito. Pak Sunarko tidak pernah menyelundupkan senjata. Senjata yang dikirim ke Jakarta bukan untuk 22 Mei 2019,” bebernya.

Demikian juga Letjen TNI (Purn) Yayat Sudrajat (Mantan Sesmenkopolhukam) mengaku, tahu persis Pak Narko. Jadi, aneh kalau diberitakan Pak Narko mau makar dan menyelundupkan senjata. “TNI itu disumpah siap mati untuk bangsa dan negara. Masa seorang Pak Narko dituduh menyelundupkan senjata untuk makar. Senjatanya hanya satu bagaimana mau makar? Senjatanya juga sudah kadaluarsa, dan dimodifikasi. Kami ini siap mati untuk bangsa dan negara,” jelasnya.

“Kami sangat marah mendengar Pak Narko dituduh makar. Ini hanya kepentingan politik. Kami tidak pernah melihat selama bertugas, pak Narko berbuat yang aneh aneh. Kopassus itu lingkupnya sangat kecil, sehingga hubungan antara atasan dan bawahan sangat erat. Ini menyangkut harga diri Kopassus. Ini dagelan politik. Kalau Pak Narko seperti itu, leher saya taruhannya,” tandasnya. (Ram)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password