Kampanye Anti Rokok, Memotong Pendapatan Negara

Istimewa

 

JAKARTA (kabarjitu): Kampanye anti rokok yang sekaligus meminta penerapan Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Indonesia, dinilai sudah merugikan petani tembakau, pekerja rokok Indonesia serta memotong pendapatan negara. Pasalnya, Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan industri nasional strategis yang perannya cukup besar terhadap perekonomian dalam negeri.

“Kontribusi paling besar bagi pendapatan negara melalui cukai adalah terbesar ketiga yang 95 persen di antaranya didapat dari cukai hasil tembakau,” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno kepada kabarjitu.com diusai diskusi bertema “IHT Sebuah Paradox”, di Grha AMTI, Jakarta, Rabu (22/05/2019).

Dia menjelaskan, dengan adanya tersebut, permintaan rokok turun menjadi 6 miliyar batang/tahun. Jadi kalau 1 batang rokok isinya 1 gram tembakau berarti ada 6 ribu ton tembakau kering yang terancam hilang. Bahkan, banyak juga lahan tambakau yang hilang tidak terserap. Sehingga tidak sedikit petani tembakau yang akan kehilangan mata pencariannya.

“Sebenarnya, bukan hanya kaum petani yang akan kehilangan mata pencahariannya. Tapi juga pemerintah akan kehilangan pendapatannya. Karena setiap tahun pemerintah mengandalkan IHT untuk memenuhi target penerimaan perpajakan. Rata-rata setiap tahun, rokok berkontribusi sebesar 13,1 persen dari penerimaan perpajakan,” ungkapnya.

Pada waktu yang sama, Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Budidoyo, menyatakan, saat ini sekitar 6,5 juta penduduk Indonesia bergantung hidup pada IHT. Jumlahnya kian menyusut menyusul maraknya gerakan anti tembakau dan masifnya upaya pembatasan konsumsi rokok oleh pemerintah.

“Banyaknya tekanan anti-tembakau dan regulasi yang tidak berpihak pada pelaku industri tembakau telah berimplikasi negatif terhadap produksi petani. Rata-rata penurunan produksinya sekitar 3 persen per tahun,” paparnya.

Diungkapkan, saat ini, produksi rokok setiap tahun juga mengalami penyusutan. Pada 2016 total produksi rokok mencapi 341,7 miliar batang, jumlah ini mengalami penurunan pada tahun 2017 menjadi 336,4 miliar batang dan pada 2018 hanya tersisa sebanyak 332,3 miliar batang. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password