Gagalnya Negosiasi Luhut kepada Prabowo

kreasi kabarjitu

 Syarif Hidayatullah*

 

ADA yang janggal di penghujung Pilpres ini. Luhut Binsar Panjaitan alias LBP begitu ngotot ingin menemui Prabowo. Ada apa? Bukankah LBP itu seorang menteri koordinator? Bukankah ia bagian dari petahana? Bukankah ia orang kepercayaannya presiden?

 

Kenapa pula harus dia yang ingin ketemu Prabowo? Bukan sebaliknya, Prabowo yang ingin ketemu pemerintah. Apalagi, petahana sudah koar-koar bakal dua periode, karena berpijak pada quick count (QC) lembaga survei.

Jawabannya jelas, tanpa harus berpikir keras. Sesungguhnya, Jokowi dan barisannya sudah mengakui, Prabowo-Sandi adalah pemenangan dalam kontestasi Pilpres 2019 ini.

Apalagi, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi sudah memegang 1.261 bukti kecurangan Pilpres. Kecurangan yang masif, terstruktur dan terencana.

Kecurangan yang tak bisa dibantah lagi. Terekam dengan jelas melalui tangan-tangan rakyat Indonesia, yang sejak awal menginginkan perubahan.

Tapi, bukan itu semua yang mendorong LBP ingin ketemu Prabowo. Ada “sesuatu” di balik informasi yang muncul. LBP ingin “Bernegosiasi”. Dalam bahasa rakyatnya, “Gue akui kemenangan lo, tapi lo kudu…”

Ada sejumlah persoalan yang patut diduga bakal dinegosiasikan. Pertama, Prabowo harus mengubur dalam-dalam kecurangan yang dilakukan kubu 01. Kedua, Prabowo tak kan mengutak-atik proyek-proyek yang sudah disepakati rezim Jokowi dengan China. Ketiga, Prabowo tak boleh mengungkap masa lalu para jenderal merah dan CSIS. Terutama yang terkait dengan pelanggaran HAM.

Apa cuma itu? Tidak. Prabowo juga akan diminta untuk tidak membawa kasus-kasus dugaan keterlibatan korupsi mereka. Terutama yang terkait dengan bisnis yang tengah mereka jalankan.

Pada prinsifnya, “Mereka minta kepada Prabowo agar tidak mengganggu. Mulai dari urusan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.”

Namun, jika Prabowo tak mengabaikan negosiasi LBP, maka kubu 01 akan terus melakukan rencananya. Tak peduli rencana itu melanggar konstitusi. Pasalnya, mereka juga masih punya pendukung fanatik yang bisa dibenturkan dengan massa pendukung 02.

Karena itulah, dimunculkan kalimat-kalimat bersayap oleh jubir TKN, terkait keinginan LBP ketemu Prabowo. Abdul Kadir Karding bilang, untuk perdamaian. LBP sendiri bilang, untuk masa depan yang damai.

Ada kata damai yang sama-sama keluar dari mulut kedua orang Jokowi itu. Namun, tentu saja bukan hal mudah untuk bertatap empat mata. Sebab, di sekeliling Prabowo banyak pihak yang terlibat. Apalagi, Prabowo sendiri sudah menyatakan bahwa kemenangan Prabowo-Sandi berkat kerja keras rakyat Indonesia yang mendukungnya.

Karena itulah, wajar jika Prabowo membatalkan pertemuan itu dengan alasan sakit flu. Memang, keinginan LBP itu tak perlu dituruti. Karena sangat berbahaya jika rakyat pendukung tidak merestuinya.

Pada prinsifnya, “Mereka minta kepada Prabowo agar tidak mengganggu. Mulai dari urusan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.”

 

Karena itulah, juru bicara BPN, Andre Rosiade merasa ada yang aneh dengan telepon Luhut ke Prabowo. Andre sendiri mempertanyakan, kenapa tiba-tiba muncul keinginan Jokowi untuk bertemu Prabowo.

“Kenapa Pak Luhut semangat banget? Kan agak aneh. Kita lagi berproses pemilu, lagi penghitungan suara, relawan dan pendukung kami lagi konsentrasi di kecamatan menjaga proses penghitungan ini. Kok, tiba-tiba Pak Luhut ngotot banget sih? Memang ada apa?” ujar Andre di media center BPN, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jaksel.

*) Penulis adalah wartawan senior.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password