Petahana Panik Soal Deindustrialisasi, Pakar Indef Benarkan Prabowo dengan Data

kreasi kabarjitu

 

JAKARTA (kabarjitu): Kubu petahana kembali menyoal pernyataan Prabowo Subianto soal adanya deindustrialisasi di era Pemerintahan Jokowi-JK. Pihak yang mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin tidak terima. Mereka menuding pernyataan Prabowo tersebut tanpa didukung
data.

Sebaliknya, persoalan yang diungkit kubu petahana dibantah pakar ekonomi dari INDEF.
Bhima Yudhistira justru membenarkan pernyataan Prabowo tersebut.

Lebih memgagetkan lagi, Yudhistira justru mengungkapkan data yang lebih mencemaskan jika tidak segera diselesaikan.

Menurut Yudhistira, deindustrialisasi yang terjadi di era pemeeintahan Jokowi-JK ini semakin parah.

Share industri manufaktur (terhadap PDB), kata Yudhistira, hanya tercatat 19,66% di kuartal III 2018. “Bahkan, terus menurun secara signifikan.” kata Yudhistira seperti ditulis detik.

Yudhistira mencatat, angka ini paling rendah selama kurun dua dekade terakhir pemerintahan Indonesia. “Bisa dikatakan terendah dalam 20 tahun terakhir yang pernah mencapai di atas 26%,” tegasnya.

Yudhistira menjelaskan, deindustrialisasi yang marak ini berdampak buruk terhadap masyarakat. Misalnya serapan tenaga kerja yang terus menurun. “Kontribusi industri hanya mencapai 14,1% dari total serapan tenaga kerja,” katanya.

Parahnya lagi, data mencatat bahwa sejak Jokowi menjadi Presiden pada 2014, atau dalam 3 tahun terakhir ini, angka serapa tenaga kerja menurun hampir 50%.

“Bandingkan saja dengan periode 2010-2012, tercatat bahwa tambahan serapan tenaga kerja mencapai 758.000 orang per tahunnya. Tapi, dalam 3 tahun terakhir ini (2015-2018), rata-rata tambahan penduduk bekerja di sektor industri hanya 489.000 orang. Tampak jelas penurunannya,” ungkapnya.

Dampak buruk lainnya, lanjutan Yudhistira, terjadi penyusutan pendapat negara, karena pajak dari sektor industri otomatis mengalami penurunan.

Persoalan deindustrialisasi ini mencuat setelah Prabowo Subianto dalam Pidato Kebangsaan Indonesia Menang menyebutkan, Indonesia mengalami deindustrialisasi, hingga tertinggal dari negara-negara lainnya.

“Republik Rakyat Tiongkok berhasil menghilangkan kemiskinan dalam 40 tahun. Vietnam bangkit, Thailand bangkit, Filipina bangkit, India bangkit. Tapi para pakar menyebut Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi,” kata Prabowo.

(sumber: Tarbawia)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password