Peredaran Daging Celeng di Jawa Tidak Bisa Sembarangan

Kabarjitu/eva

JAKARTA (kabarjitu): Peredaran daging celeng di sejumlah daerah, termasuk DKI Jakarta, masih menyisakan masalah. Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pengawasan peredaran pangan dengan memusatkan produsen untuk peredaran daging celeng.

 

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karantina, Kementan (Barantan), Agus Sunanto mengatakan, pihaknya sudah menetapkan satu produsen daging celeng di Bengkulu.

Penetapan tersebut juga dilengkapi dengan surat keputusan (SK) dari Barantan. Sehingga wilayah itu tidak asal menerima pasokan daging celeng dari luar, karena diawasi oleh dinas terkait.

“Celeng di Sumatera, khususnya di Bengkulu, Jambi, dan Palembang, merupakan masalah yang sangat meresahkan petani, karena mengganggu tanaman. Karena banyak, akhirnya para petani memburunya,” katanya kepada kabarjitu.com di Kantor Kementan, Jakarta, Jumat (04/01/2019).

Dia menjelaskan, sejak pemburuan 7 tahun lalu, daging celeng melimpah. Permintaan dari Jawa juga tak terkontrol. Namun pihaknya memastikan, daging celeng tidak akan beredar di Pulau Jawa, khususnya daging celeng yang berasal dari Sumatera, tanpa ada rekomendasi dari dinas pertanian.

“Karena banyaknya daging celeng di Bengkulu, maka kami tetap mengupayakan agar daging itu bisa masuk dan didistribusikan di Pulau Jawa dengan catatan mendapatkan izin dari kepala dinas terkait. Daging itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan dan kebun binatang,” ujarnya.

Untuk melakukan pengawasan distribusi daging celeng, lanjut Agus, pihaknya telah menerapkan sistem keamanan berbasis digital. Metode pengawasan dilakukan dengan memasang GPS pada alat pengangkut untuk melacak pejalan truk yang mengangkut daging tersebut hingga dibongkar di tempat tujuan.

“Dari Bengkulu menyebrang ke Jawa, dari Lampung terus ke Cilegon dan terakhir segel dibuka di tempat tujuan. Apabila pengangkut menyimpang akan terlacak melalui GPS tersebut,” paparnya.

Diakuinya, saat daging sapi dan kerbau mahal, daging celeng itu dioplos dan dijadikan bakso dan makanan lainnya, seperti yang ditemukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (PBOM).

“Hal tersebut menjadi tantangan kami untuk menyediakan pangan yang memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH),” pungkas Agus. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password