Pembebasan Abu Bakar Baasyir, Pencitraan, dan Kegagalan Jaring Suara

kreasi kabarjitu

KABARJITU: BARU kali ini rasanya, presiden berhasil ditekan sama pembantunya. Menteri yang seharusnya manut terhadap titah presiden, justru menekuk lutut presiden, hingga tak berkutik. Jadi, siapa sesungguhnya yang jadi presiden? Apakah benar kata orang-orang, kalau presiden kali ini hanya party doll alias do-doll saja?

 

Satu hal lagi yang membuat otak bertanya-tanya. Kenapa, setiap orang pinter sekelas profesor sekalipun, jika masuk ke kolam di Merdeka Utara, langsung berubah jadi “dungu”? Tak lagi berpikir rasional sesuai kapasitas dan kapabilitasnya?

Kedua persoalan itu sangat jelas terlihat dalam rencana pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (Ust. ABB). Presiden yang ingin kembali mencitrakan dirinya sebagai presiden cinta ulama, melalui pembebasan Ust. ABB, justru dibantai oleh pembantunya sendiri, Menkopolhukam Wiranto dan Kepala KSP Moeldoko.

Inilah pembantaian yang menyakitkan, sepanjang sejarah bangsa ini dipimpin seorang presiden. Kewibawaan presiden tersungkur ke dalam kubangan lumpur. Apa pun argumentasi yang diungkapkan, tak kan mampu mengembalikannya ke posisi semula.

Bencana tsunami di Merdeka Utara itu bermula dari manuver Prof. Yusril Ihza Mahendera yang direkrut menjadi kuasa hukum paslon Jokowi-Ma’ruf.

Tentu saja, manuver YIM bukan tanpa alasan. Ia melakukan upaya membebaskan Ustad ABB itu atas perintah Presiden Jokowi dengan pertimbangan kemanusiaan, yang sudah lama disimpan di laci kerjanya.

Manuver yang masih mentah itu disambut gegap gempita oleh kelompok garis keras Jokowi-Maruf dan buzzer bayaran. Mereka secepat kilat memblow-up hastag “Jokowi-sayang-ulama”, “Ini Bukti Jokowi Cinta Islam”, dll.

Seolah, mereka ingin membungkam kelompok oposisi yang selalu mengangkat isue Jokowi sebagai rezim anti Islam dan pembenci ulama.

Bahkan, yang lebih boom lagi, Cawapres Kyai Maruf sangat memuji Jokowi. Ia berujar, kalau Jokowi ingin merawat Ustad ABB yang sudah berusia 81 tahun itu.

Aktivis medsos, Zeng Wei Jian menulis, Ahoker, Kafir, Aktifis HAM, dan liberal bereaksi (terhadap rencana pembebasan Ust. ABB). Di televisi, Prof Yusril menyatakan Ustad ABB positif bebas minggu. Aroma kemenangan tercium. (Yusril) Bakal jadi hero nih. “Persiapan penyambutan digelar di Pesantren Ngeruki Solo. Makanan, bus, detailnya dipesan,” tulisnya.

Golongan liberal menekan. Ahokers say good bye ke Jokowi. Umat Islam tidak goyah. Mereka tau ini intrik Jokowi. Tidak ada migrasi suara. Mereka tetap menyerukan Prabowo-Presiden.

“Istana klojotan. Aktifis HAM dan Australia semakin keras menekan,” tulis Zeng Wei Jian.

Lalu, apa yang terjadi kemudian? Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto justru mengeluarkan pernyataan resmi pada Senin (21/1/2019). Wiranto menegaskan, pembebasan Ba’asyir membutuhkan pertimbangan dari sejumlah aspek terlebih dahulu.

“(Pembebasan Ba’asyir) masih perlu dipertimbangkan dari aspek-aspek lainnya. Seperti aspek ideologi Pancasila, NKRI, hukum dan lain sebagainya,” kata Wiranto di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin (20/1/2019).

Tidak hanya Wiranto yang berstatement, Moeldoko pun ikut melemparkan pernyataan. Seolah mempertegas statmennya Wiranto. Bahkan, Kepala Kantor Staf Presiden ini menegaskan, pemerintah tidak akan membebaskan terpidana terorisme, Ust. ABB, selama ia tak memenuhi persyaratan yang berlaku.

“Pembebasan Baasyir saat ini bukan di sisi pemerintah, melainkan di pihak terpidana. Intinya, presiden memberikan pendekatan kemanusiaan, tapi ada prinsip yang harus dipenuhi,” kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/1/2019).

Selama pihak Baasyir enggan memenuhi syarat itu, maka pemerintah tidak akan memberikan status bebas bersyarat. “Persyaratan yang tidak boleh dinegosiasikan,” kata Moeldoko.

Perintah Jokowi
Sikap pemerintah itu seolah menjadi tamparan keras bagi YIM. Mungkin, jika dibahasa-meme-kan, tertulis begini, “Jangan sok tau lo, anak baru.”

Memang, YIM adalah orang terakhir yang gabung ke kubu Istana sebagai pengacara pasangan calon Jokowi-Ma’ruf.

Menyikapi tamparan itu, YIM pun tak bisa berkutik. Tak ada perlawanan sengit, sebagaimana yang selalu ia lakukan, jika manuver-manuvernya diganggu.

YIM hanya berkata, “Bisa memahami sikap pemerintah yang berubah. Yang penting bagi saya, apa yang sudah diperintahkan Pak Presiden sudah saya laksanakan,” kata YIM di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019).

Perintah dari Jokowi itu adalah bertemu dengan Ba’asyir di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. Pertemuan itu sudah dilakukannya dua kali.

YIM juga mengatakan, setelah pemerintah berubah sikap soal Ba’asyir, dia belum bertemu lagi dengan Presiden Jokowi. Langkah selanjutnya dari pemerintah terkait masalah ini juga belum diketahuinya.

Ust. ABB Tak Mau Tanda Tangan
Keluarga Ust. ABB telah mengajukan permintaan pembebasan sejak 2017. Sebab, Ba’asyir yang divonis 15 tahun penjara (sejak 2011) oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu, sudah sepuh.¬†Kesehatannya pun semakin memburuk.

Wacana pembebasan Ba’asyir itu sempat tenggelam. Wacana itu kembali mencuat, awal Januari 2019. Penasehat hukum Jokowi, Yusril Ihza Mahendra, Jumat (18/1/2019) pagi, mendatangi LP Gunung Sindur untuk memberitahukan rencana pembebasan Ba’asyir.

Yusril mengatakan, pembebasan Ba’asyir akan dilakukan secepatnya sambil membereskan urusan administrasi pribadi di Kementerian Hukum dan HAM.

“Setelah bebas nanti, Ba’asyir akan pulang ke Solo dan akan tinggal di rumah anaknya, Abdul Rahim,” ujar Yusril, kala itu.

Namun, lagi-lagi sogokan kepada kelompok muslim gagal. Sama seperti pencitraan nyawah, nyukur rambut, esemka, masuk gorong-gorong dan sebagainya.

Ada dugaan, terpidana kasus dugaan pendanaan pelatihan teroris di Bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar, pada 2010 itu enggan menandatangani surat pernyataan setia pada Pancasila, yang tertuang dalam peraturan pemerintah.

Namun, selain dugaan itu, ada dugaan lain yang bisa jadi tak diungkap, yakni menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kedua pernyataan inilah yang membuat Ust. ABB sempat menyatakan tak mau buru-buru bebas. Sayangnya? tak ada statement langsung yang keluar dari mulut Ust. ABB. Semuanya dilemparkan oleh YIM kepada pers.

Mungkin, sekedar menutupi malu, pemerintah membatalkan pembebasannya dengan alasan Ust. ABB tak mau menandatangi pernyataan setia kepada Pancasila.

Jokowi Batal Sayang Ulama
Dalam tulisannya, Zeng Wei Jian menulis, beredar kabar “Ustad Abu Bakar Basyir Batal Bebas”. Video Pernyataan Batal Presiden Bebaskan ABB marak di media sosial. Hanya selang 2-3 hari pernyataannya berubah. Mencla-mencle once more judulnya.

“Kejadian macam begini sudah sering. BBM naik-turun. Menteri-menteri bersilang pendapat seputar impor beras dan jagung. Setelah Mahfud MD, Muldoko dan Jusuf Hamka, Ustad Abu Bakar Basyir jadi korban PHP ketiga.”

“Jiaaahhh…preettt…Gabruk. Hastag berubah jadi “Jokowi Batal Sayang Ulama”.

Penyambutan di Pesantren Ngeruki batal. Makanan yang dipesan terlanjur dikirim. Terpaksa dimakan sendiri. Prof Yusril batal jadi pahlawan. Malah akan jadi kambing-hitam untuk meredam disgruntled Ahokers.

“Profesor kena PHP. Yang ngasi 60 miliar dihianati. Apa lagi elo yang cuma modal 1 suara..??” tulis Zeng Wei Jian.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password