Pesta Rakyat Cianjur, Replika Pesta Pasca April 2019

kreasi kabarjitu

 

KABARJITU: Ada kejadian unik di Cianjur, Jawa Barat. Ketika bupatinya ditangkap KPK, rakyatnya berpesta. Gubernur Jawa Barat menyebut warga Cianjur “belegug” (kurang ajar). Begitu juga warga Cianjur, menyebut bupatinya yang “belegug”. Karena belegug itulah, mereka berpesta.

______

Gubernur Ridwan Kamil menyebut belegug karena Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar, itu satu partai dengannya, Nasdem. RK loncat ke Nasdem dari Gerinda, sedangkan IRM loncat dari Golkar.

Tentu saja, kejadian ini layak disebut Anomali. Di sisi lain, sangat ironis. Kejadian unik ini (jika tidak disebut aneh), mirip-mirip dengan aksi unik warga Ciamis yang berjalan kaki saat digelar Reuni 212.

Ini menjadi aksi perdana dalam sejarah Republik. Aksi jalan kaki itu diikuti warga Tasik, Bogor, Cianjur, dan Banten. Apakah pesta rakyat warga Cianjur, yang juga menjadi aksi perdana sepanjang sejarah negara ini, akan diikuti oleh daerah-daerah lain? Khususnya ketika penguasa daerahnya ditangkap.

Dijamin, itu adalah murni aksi rakyat. Aksi spontan tanpa rekayasa, apalagi menjurus ke pencitraan.

Setelah Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar dikabarkan ditangkap KPK pada Rabu (12/12/2018), media sosial yang menjadi narahubung warga Cianjur memainkan perannya.

Sehari setelah penangkapan itu, ajakan untuk melakukan selamatan atau makan liwet bareng, menyeruak di media sosial. Gelombang ajakan itu pun menjadi kenyataan seusai shalat Jumat (14/12/2018).

Warga Cianjur dari berbagai tempat berbondong-bondong mendatangi alun-alun, persis di depan pendopo kabupaten. Di sana, mereka menggelar daun pisang, lalu menata nasi liwet di atasnya, untuk disantap bersama.

Tua muda, kakek nenek, emak-emak, bapak-bapak, remaja, sampai anak-anak, turut larut dalam euforia pesta rakyat tanpa event organizer (EO) tersebut.

Hebatnya lagi, sopir-sopir angkot pun turut menggratiskan ongkos kepada penumpangnya. Mereka menulis di kertas yang ditempel pada pintu masuk angkotnya.

Bisa jadi, pesta semacam ini akan menular ke daerah-daerah lainnya. Sebab, rakyat sudah banyak yang menyimpan kebencian hingga ke ubun-ubun. Benci, karena kepala daerah yang mereka pilih, ternyata tidak amanah. Janji-janjinya saat kampanye, dilanggar sendiri.

Bahkan, dengan keangkuhan kekuasaannya, banyak kepala daerah yang memeras keringat rakyat. Rakyat dipaksa membayar pajak, tapi hasilnya dikorupsi.

Tidak mustahil juga, pesta semacam itu akan terjadi pasca Pemilu 2019 nanti. Terutama jika capres-cawapres nomor urut 2 bisa menjungkalkan pasangan nomor 1.

Benih-benih itu sudah mulai jelas terasa dan terlihat. Bagaimana masyarakat ketika menyambut kedua pasangan itu? Tak bisa dipungkiri, setiap ada gelaran acara yang dihadiri Jokowi, pengunjungnya sepi, kosong melompong. Sebaliknya, ketika ada acara yang dihadiri Prabowo, kehadiran masyarakat terlihat masif.

Sebagai contoh, saat digelar Reuni 212 di Monas belum lama ini. Jumlah massanya diprediksi hampir 11 juta. Sebaliknya, acara tandingan yang digelar di Istiqlal, hanya dihadiri oleh 17 orang saja.

Masih banyak lagi acara yang jumlah kehadiran massanya sangat jauh berbeda. Artinya, rakyat sudah mulai menunjukkan harapannya, agar terjadi pergantian kepemimpinan.(sht)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password