Pendukung Rezim Knock Out di Bawah Bendera Tauhid Reuni 212

kreasi kabarjitu

 

KABARJITU: Masih ingat dengan duel profesional antara Conor McGregor vs Khabib Nurmagomedov? Ini sangat mirip dengan acara Reuni Akbar 212 di Monas versus Kajian Islam Ahad yang digelar pendukung rezim di Masjid Istiqlal. Di hari dan jam yang sama.

_________

Bahkan, tidak salah-salah amat jika kedua peristiwa itu disebut “kembar identik.” Lihat saja, Mc Gregor terus menerus mengintimidasi Khabib jelang tanding. Bahkan sangat rasis dan menghina Islam.

Namun, saat di atas ring, Mc Gregor benar-benar tak berkutik. Bahkan tak mampu memberikan perlawanan berarti, hingga akhirnya KO setelah dikunci dengan cekikan di leher oleh Khabib.

Begitu juga dengan Reuni 212 vs Kajian Islam Ahad. Beberapa hari jelang tanggal 2 Desember 2018, pasukan pendukung petahana, mulai dari Abu Janda, Kapitra Ampera, sampai Kapolri dan Ketua-ketua Ormas, membully rencana Reuni 212.

Beragam ocehan dilontarkan. Mulai dari “tidak perlu ada Reuni 212”, “Jangan hadiri Reumi 212”, “Reuni 212 ditunggangi politik”, “Yang datang ke 212 tidak lebih dari 20.000 orang”, dan beragam bullyan lainnya yang dilontarkan.

Selain dalam bentuk ocehan, juga dilakukan praktek penggebosan oleh sejumlah pejabat. Misalnya, dari larangan perusahaan Otobus mengangkut masyarakat yang akan ikut Reuni 212 sampai pengerahan alat-alat tempur lengkap dengan beragam senjata TNI di lokasi Reuni 212.

Tapi, semua tak ada pengaruhnya. Ibarat Khabib yang dengan keteguhan imannya, menyatakan “Hanya Allah SWT yang memiliki kekuatan.” Begitu juga masyarakat yang ikut Reuni 212. Mereka tak takut, tak gentar, tak mundur, dan tak risih sekali pun dengan semua tekanan dan penggebosan.

Di hari H, 2 Desember 2018, Reuni 212 benar-benar menjadi event mengejutkan. Kawasan Monas diputihkan oleh jutaan masyarakat dari berbagai daerah. Bahkan bisa disebut, hampir semua provinsi ada perwakilannya.

Semua mata melotot menyaksikan tumpahan peserta Reuni 212. Bendera Tauhid gagah berkibar di semua sudut. Hampir tak ada ruang kosong. Ekor kerumunan sampai ke jalan Thamrin dan sekitarnya, Tugu Tani dan sekitarnya, Harmoni dan sekitarnya, bahkan sampai ke Katedral dan sekitarnya.

Sebaliknya, pada saat yang sama, acara TANDINGAN yang bertema Kajian Islam Ahad di Istiqlal, yang digembar-gemborkan bakal dihadiri Jokowi, hanya dihadiri oleh segelintir orang saja. Jumlahnya bisa dihitung jari. Mungkin sekitar belasan orang saja.

Padahal, acara itu menghadirkan dua ulama tersohor. Yakni, KH Asep Saefuddin dan KH Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq, yang beberapa hari sebelumnya berceramah di Istana negara, di depan Presiden Jokowi.

Sah saja jika dalam tanding ini, kubu pendukung rezim benar-benar Knock Out. Terkapar di atas kanvas (karpet masjid), tanpa ada perlawanan. Sementara di sebelahnya, Monas, jutaan orang bertakbir, bersholawat, membaca kalam Ilahi, berorasi, mengibarkan Bendera Merah Putih, Bendera Tauhid, hingga balon terbang.

Intimidasi TNI dan Polri dalam bentuk pengerahan alat alat perang, seolah ikut larut dalam hikmat Tahlil, Tahmid, Takbir, dan Sholawat.

Alat-alat perang yang angkuh, senjata lengkap laras pendek dan panjang yang sombong, serta para tentara dan polisi yang gagah, semuanya bersimpuh tunduk bertekuk lutut dalam alunan kalam Ilahi dan kalimat pujian kepada Sang Khaliq.

Kekalahan telak rezim ini seharusnya jadi cermin dan pembelajaran bagi semua elemen bangsa. Betapa kekuatan Sang Khaliq sudah ditujukkan. Karena hanya kekuatan yang amat dahsyatlah yang mampu menggerakkan gelombang manusia dari berbagai peloksok Tanah Air ke satu titik, Monas.

Sedangkan kekuatan manusia sama sekali tak ada apa apanya. Terbukti, acara di Istiqlal yang sudah digembar-gemborkan itu, sepi melompong bak tong kosong. Walau diawali dengan sikap sombong, tapi hasil akhirnya ompong.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password