Kini, KPK Bidik Menpora Terkait Kasus Akal-akalan Hibah KONI

kreasi kabarjitu

JAKARTA (kabarjitu): Setelah Deputi IV bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Mulyana yang dijadikan tersangka suap dana hibah ke KONI, kini KPK tengah membidik Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi.

___________

Bau amis kongkalikong para tersangka dengan Menpora sudah terendus oleh KPK. Pasalnya, penyaluran dana hibah dari Kemenpora terhadap KONI tahun anggaran 2018 tersebut, diduga hanya akal-akalan saja.

Demikian ungkap Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, di kantornya, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Walaupun belum bisa disimpulkan, tapi dengan merujuk pada penetapan kepada tiga pejabat Kemenpora sebagai tersangka penerima gratifikasi dan dua petinggi KONI sebagai pemberi gratifikasi, maka indikasi ke arah Menpora sudah terlihat.

“Saya belum bisa simpulkan itu, tetapi indikasinya signifikans. Tampak, peranan yang bersangkutan (Menpora) cukup signifikan,” ujar Saut.

Dalam kasus yang diduga melibatkan Menpora itu, Saut menjamin tidak akan terjadi aksi tebang pilih. KPK akan segera mencidyk Menpora apabila bukti-buktinya sudah cukup. Termasuk petinggi KONI lainnya.

“Dalam hal ini, yang terpenting adalah kekuatan buktinya. Tapi yakinlah, sekarang kalau buktinya cukup, tentu ada istilah ‘dan kawan-kawan’, ini akan ke mana-mana (menjerat pihak lain),” kata Saut.

Sebelumnya, KPK menetapkan lima orang sebagai tersangka suap dalam penyaluran dana hibah dari Kemenpora KONI Tahun Anggaran 2018.

Kelima tersangka itu adalah Ending Fuad Hamidy selaku Sekretaris Jenderal KONI, dan Jhonny E selaku Bendahara Umum KONI. Keduanya diduga berperan sebagai pemberi gratifikasi.

Sedangkan yang diduga sebagai penerima gratifikasi adalah Mulyana selaku Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga, Adhi Purnomo selaku PPK sekaligus tim verifikasi Kemenpora untuk Asian Games 2018 dan kawan-kawan, serta Eko Triyanto selau Staf Kemenpora dan kawan-kawan.

Dalam kasus tersebut, diduga Adhi Purnomo dan Eko Triyanto telah menerima suap setidaknya Rp 318 juta dari pejabat KONI. Sedangkan Mulyana, diduga melalui transfer ATM sekitar Rp 100 juta. “Bahkan sebelumnya, Mulyana juga diduga sudah menerima pemberian lain, dalam bentuk barang,” kata Saut.

Yakni, 1 mobil Toyota Fortuner yang diterimanya pada April 2018. Kemudian uang Rp 300 juta dari Jhony pada Juni 2018. Dan, 1 unit smartphone Samsung Galaxy Note 9 yang diterimanya pada September 2018.

Hibah Akal-akalan
Lebih lanjut Saut menjelaskan, dana hibah dari Kemenpora untuk KONI tersebut dialokasikan sebesar Rp17,9 miliar. Untuk mendapatkan dana hibah itu, diduga KONI mengajukan proposal kepada Kemenpora.

Menurit Saut, patut diduga, pengajuan dan penyaluran dana hibah itu hanya upaya “akal akalan” oleh para tersangka. Karena, tidak didasari kondisi yang sebenarnya.

Dalam kasua itu, lanjut Saut, sebelum proposal diajukan, sudah ada pembicaraan antara pihak Kemenpora dengan KONI. Diduga, mereka sudah bersepakat terlebih dulu untuk mengeluarkan fee sebesar 19,13 persen atau Rp3,4 miliar, dari total dana hibah Rp17,9 miliar.

“KPK sangat menyesalkan para pejabat yang miliki peran strategis untuk melakukan pembinaan dan peningkatan prestasi para atlet, demi mewujudkan prestasi olahraga nasional, justru memanfaatkan kewenangannya untuk mengambil keuntungan dari dana operasioanal KONI. Kami mendapat informasi, bahkan sejumlah pegawai KONI telah 5 bulan terakhir belum menerima gaji,” tutur Saut.

Saut mengingatkan agar Kemenpora serius membenahi dan mengawasi lebih ketat terhadap proses penyaluran dana hibah. Harus ada perhatian khusus pada aspek akuntabilitas penggunaan dana hibah dari pemerintah kepada organisasi-organisasi terkait.

“Jangan sampai alokasi dana hibah yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia, justru jadi ruang bancakan, karena lemahnya pengawasan dan mekanisme pertanggungjawaban keuangan yang tidak akuntabel,” kata Saut.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password