Jakarta, Miniatur Indonesia yang Selamat dari Keterpurukan

kreasi kabarjitu

KABARJITU: Jakarta adalah miniaturnya Indonesia. Keberhasilan Jakarta akan turut mendongkrak keberhasilan Indonesia.

______

Sejak Handoko Joko Widodo (Jokowi) meninggalkan Solo untuk merantau ke Jakarta, menjadi Gubernur DKI, masyarakat ibukota memang menyambutnya dengan euforia.

Bersama wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Jokowi melakukan gebrakan. Tentu, bukan sekedar memajukan Jakarta, tapi juga mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya. Terbukti, strateginya itu berhasil mengantarkannya dari Merdeka Selatan ke Merdeka Utara.

Menurut pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, ada beberapa prestasi yang dilakukan Jokowi saat menjadi gubernur, yakni revitalisasi Taman Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio.

Warga di sekitarnya direlokasi ke rumah susun peninggalan mantan Gubernur Fauzi Bowo. “Namun, penataan kedua waduk dan warga yang tinggal di sana, belum sepenuhnya tuntas,” ujar Nirwono kepada Kompas.com, Kamis (12/10/2017).

Di sektor transportasi, lanjut Nirwono, Jokowi berhasil melakukan groundbreaking pembangunan Mass Rapid Transit (MRT).

Dalam catatan, sejak terpilih dan memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2012, Jokowi-Ahok merilis dua kartu layanan masyarakat, yakni Kartu Jakarta Sejarah (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP), usai dilantik pada Oktober 2012.

Jokowi-Ahok juga meningkatkan Upah Minimum Provinsi (UMP) buruh dari semula Rp 1,6 juta menjadi Rp 2,2 juta per bulan.

Terkait infrastruktur transportasi, Jokowi-Ahok meneruskan proyek pembangunan infrastruktur di masa Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo-Prijanto. Di antaranya, konsesi pembangunan Mass Rapid Transit dan monorel atau LRT.

Cuma Mengantar ke Istana
Setelah sejumlah program tersebut berhasil mengantarkan Jokowi ke Istana Negara, Jakarta menjadi kota bergejolak. Padahal, sebelum kakinya menginjak istana, Jokowi sesumbar, akan lebih mudah menata Jakarta dari istana. Termasuk mengurus persoalan banjir.

Namun apa lacur. Justru, di saat Ahok berkuasa penuh di Merdeka Selatan dan Jokowi di Merdeka Utara, kondisi Jakarta terus bergejolak. Arogansi kekuasaan Ahok membuat Jakarta banjir air mata.

Rakyat kecil didiskriminasi. Tempat tinggalnya yang sudah berpuluh tahun jadi pelindung hujan dan panas, diobrak abrik tanpa kompromi. Semua pihak yang berbeda pendapat dan mengkritisi kebijakannya, dijadikan musuh.

Dan, hebatnya, Jokowi seolah mensupport kebijakan Ahok tersebut, walaupun bertentangan dengan janji-janji kampanyenya. Bahkan sampai pada klimaksnya, yakni pelecehan agama yang dilakukan Ahok, tetap mendapat dukungan dan perlindungan dari Jokowi.

Sampai akhirnya, tabir bau busuk yang ditutupi sejak keduanya berduet di Balaikota pun mulai terbuka. Di balik semua itu, ternyata ada kepentingan besar kelompok Cukong alias Taipan China. Bahkan, tidak hanya kepentingan China dalam konteks konglomerat Indonesia berdarah China, tapi juga dalam konteks negara China (RRC).

Kedua China itu memiliki hubungan psykologis dan bisnis yang kuat. Keduanya pun berkolaborasi, menjadikan Indonesia sebagai lahan untuk mengeruk kekayaan dan penyebaran penduduk etnis China.

Para Taipan dalam negeri bertugas membangun properti, yang disiapkan untuk menampung etnis China yang akan dibedol desa. Lihat saja proyek reklamasi pantura Jakarta dan Meikarta.

Sedangkan China luar negeri, melakukan pelemahan kedaulatan negara, yakni melalui skema pinjaman yang tak mungkin bisa dibayar oleh pemerintahan Jokowi.

Pinjaman dana besar hingga ribuan triliun, dengan dalih membangun infrastruktur, ternyata hanya siasat China untuk menguasai sektor-sektor vital. Lihat saja, sejumlah jalan tol, pelabuhan, dan infrastruktur lainnya, kini sudah dijual.

Kesadaran Warga Jakarta
Beruntung, masyarakat Jakarta buru-buru siuman dari hipnotis yang dilakukan Jokowi-Ahok. Hipnotis yang dilakukan keduanya hancur lebur oleh arogansinya sendiri. Ini bumerang bagi Jokowi-Ahok, tapi obat bagi warga Jakarta.

Ahok yang dielu-elukan bakal kembali berkuasa di Jakarta bersama Djarot Sjaeful Hidayat pun tumbang telak.

Surat Almaidah ayat 51, yang merupakan kalam Ilahi, berhasil meluluhlantakan kesombongan dan keangkuhan Ahok yang disupport Jokowi.

Kesadaran warga Jakarta terhadap kelaliman yang mereka rasakan, menyebar dibawa angin sampai ke seluruh peloksok Tanah Air. Inilah yang akhirnya melahirkan Aksi 212, sebuah aksi fenomenal yang menjadi monumental (istilah Rocky Gerung).

Kegagahan Monas yang bertahta emas, menjadi saksi jutaan masyarakat Indonesia berkumpul, bersatu, menginginkan perubahan nyata.

Hebatnya Anies Baswedan
Usai berhasil meng-KO pasangan Ahok-Djarot, Gubernur DKI Anies Baswedan dan Wakilnya Sandiaga Uno langsung tancap gas. Gebrakan demi gebrakan dalam membangun Jakarta, terus dilakukan.

Beberapa kebijakan Anies yang berpotensi sangat besar bisa membahagiakan warga Jakarta, tercatat jelas dalam sejumlah penghargaan.

Bahkan, bukan tidak mungkin, kebijakan Anies akan menjadi awal kekuatan masyarakat Indonesia untuk merontokkan kekuatan rezim saat ini.

Pertama, keberhasilan Provinsi DKI memperoleh Akreditasi WTP dari BPK. Padahal, sudah beberapa tahun prestasi ini tak terjangkau DKI sejak dari Jokowi, Ahok sampai Djarot.

Kedua, pembatalan jual-beli tanah Sumber Waras. Dalam kasus ini, Anies mampu memutarbalikkan transaksi bul kibul yang dilakukan Ahok. Tanah SW kembali ke pangkuan Balaikota.

Ketiga, penghentian dan pencabutan ijin Reklamasi Teluk Jakarta. Memang, sejak proyek reklamasi Jakarta digelar, seluruh masyarakat Jakarta sudah frsutasi. Khususnya warga yang digusur akibat proyek tersebut. Apalagi, istana berada di belakang mega proyek milik Aguan tersebut.

Namun, tangan dingin dan kecerdasan Anies mampu membawa tangisan warga Jakarta menjadi senyuman. Reklamasi Jakarta distop. Ke depannya, Anies akan menjadikannya sebagai ruang publik.

Keempat, keberhasilan mewujudkan pembangunan Perumahan DP 0 rupiah, yang dulu ditentang oleh banyak pihak.

Kelima, penghargaan Kota Jakarta menjadi peringkat I di dunia, sebagau kota yang paling dicintai oleh warganya.

Keenam, 3 penghargaan dari KPK.

Ketujuh, penghargaan dari Kominfo terhadap Jakarta sebagau salah satu Kota dengan Keterbukaan Informasi Publik.

Kedelapan, penghargaan dari Bappenas, sebagai Pemprop dengan Perencanaan Pembangunan Terbaik.

Kesembilan, keberhasilan dalam penanganan kemacetan Jl Jatibaru dengan Skybride.

Kesepuluh, keberhasilan Anies membangun Stadion Persija di taman BMW pada 2019 mendatang.

Kesebelas, Pemprop DKI memperoleh Penghargaan MENPAN-RB dalam Pelayanan Publik Terbaik.

Keduabelas, penghargaan Ketua BKPM kepada BKPMD DKI dalam One Stop Service terbaik di Indonesia.

Ketigabelas, penghargaan dari BI/MENKEU kepada DKI sebagau Tim Pengendali Inflasi terbaik.

Keempatbelas, keberhasilan Anies membina Persija menjadi Juara Liga I 2018, yang sudah ditunggu selama 17 tahun, dan mengawinkannya dengan Thropy Persija sebagai Juara Presiden Cup 2018.

Kelimabelas, keberhasilan Anies membangun Stadion Persija di Taman BMW di tahun 2019. Padahal yang melempar janji adalah Jokowi-Ahok, tapi yang membayarnya Anies. Walaupun, dihambat oleh PDI-P, Nasdem, Hanura, dan kroninya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password