Negara Non Islam Hukum Penghina Nabi, di Indonesia Bebas Menghina

AUSTRIA (kabarjitu): Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi Manusia (ECHR) mengesahkan putusan pada hari Kamis (25 Oktober 2018) bahwa menghina Nabi Muhammad akan dihukum dan tidak akan dimasukkan dalam ‘kebebasan berekspresi’.

________

Mau tidak mau, pengadilan pun meluluskan putusannya, setelah seorang wanita Austria Ny. S menghina Nabi Muhammad SAW pada tahun 2009, yang dilakukannya pada dua seminar berbeda.

Panel ketujuh hakim memutuskan, memfitnah atau meremehkan Nabi telah melampaui batas perdebatan yang diizinkan secara obyektif dan dapat menyebabkan prasangka di masyarakat serta akan berisiko pada perdamaian agama.

Pengadilan mengatakan bahwa komentar Nyonya S tidak mematuhi syarat kebebasan berekspresi, dan menyatakan bahwa “pernyataan Ny S kemungkinan besar membangkitkan kemarahan yang dibenarkan dalam umat Islam” dan “sebesar generalisasi tanpa dasar faktual.”

Pengadilan Austria mengujinya pada 2011, karena meremehkan doktrin agama dan mendenda Nyonya S sebesar 480 euro.

Dengan dalih Pasal-10, yang memungkinkan adanya kebebasan berekspresi, Nyonya S. mengeluh bahwa pengadilan domestik telah gagal memahami substansi dari pernyataannya berdasarkan kebebasan berekspresi.

Namun, ECHR hari ini berkata, “pada keputusan hari ini, ECHR memutuskan, pengadilan domestik secara komprehensif menilai, konteks yang lebih luas dari pernyataan Nyonya S dan secara hati-hati menyetarakan haknya atas kebebasan berekspresi dengan hak orang lain, agar perasaan keagamaan mereka terlindungi, dan melayani tujuan sah untuk melestarikan kedamaian agama di Austria.”

Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia merupakan salah satu negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Namun, penghinaan dan pelecehan terhadap agama, Nabi Muhammad, bahkan Allah SWT, begitu bebas dilakukan umat minoritas.

Bebasnya perilaku itu seolah didukung oleh pemerintah, yang cenderung membiarkannya. Bahkan, ada kecenderungan memberi support kepada para pelakunya.

Padahal jelas, negara berpenduduk non Muslim saja memberikan perlindungan kepada Islam, ajaran, dan Nabi Muhammad SAW.

Sudah cukup banyak bukti pelecehan terhadap Islam, ajaran, dan Nabi Muhammad SAW. Bahkan, kepada Sang Maha Agung Allah SWT. Hal itu bisa dilihat di berbagai media sosial, mulai dari FB, Twitter, IG, dan lain-lain.

Mayoritas, para pelaku pelecehan terhadap Islam dilakukan orang-orang non Muslim dari etnis Tionghoa. Sebut saja Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang divonis bersalah dengan hukuman 2 tahun penjara.

Walaupun secara hukum sudah dijebloskan ke penjara, namun Ahok masih mendapat perlakuan istimewa dari penguasa. Yakni dengan menempati ruang sel “mewah” di Rutan Brimob Polda Metro Jaya, Kelapa Dua, Depok.

Sementara para pelaku lain yang melakukannya via medsos, seolah bebas tanpa ada rasa bersalah. Sebab, para penegak hukum pun tak mempersoalkannya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password