SJSN Terus Kejar Target Kepersertaan Dengan Sosialisasi

kreasi kabarjitu

 

JAKARTA (kabarjitu): Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) mencatat, kepersertaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) terbilang cukup pesat. Memasuki tahun ke-5 pengelolaan, jumlah kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan hingga 1 Juli 2018 ini telah mencapai 199 juta jiwa atau sekitar 80 persen dari penduduk Indonesia.

……………….

Ditargetkan, pada tahun 2019, jumlah peserta meningkat hingga 257 juta orang. Sedangkan, jumlah BPJS Ketenagakerjaan akan digenjot jumlah pesertanya menjadi 29,65 juta orang hingga akhir 2018.

Untuk mengejar target tersebut, DJSN terus melakukan sosialisasi. Pada Sabtu (29/9/2018) malam, sosialisasi dilakukan kepada para pekerja seni. Karena, pihaknya tidak ingin para pekerja seni itu di saat sakit, atau tua atau mengalami kecelakaan kerja tidak tersentuh jaminan sosial.

“Banyak contoh, ketika ada pekerja seni yang sebelumnya bergelimang harta, tiba-tiba jatuh miskin, lalu sakit. Mereka harus membiayai penyakit sendiri. Oleh sebab itu, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan perlu diikuti,” kata anggota DJSN Rudy Prayitno, di hadapan pekerja seni di antaranya pelawak, pemain band, penyanyi dangdut, dan pemain ketoprak, di Jakarta.

Menurutnya, SJSN merupakan program nasional pemerintah. Selain menjamin kesehatan masyarakat, juga menjamin hari tua, kecelakaan kerja, kematian, dan pensiun. Karenanya, semua warga negara harus menjadi peserta BPJS Kesehatan. Bagi, warga yang sudah bekerja juga wajib menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Bagi pekerja seni yang memang tidak mampu membayar iuran, bisa dibayar oleh pemerintah melalui kategori Penerima Biaya Iuran (PBI). Tinggal didata saja dan segera mendaftarkan diri, karena Ini tanggungan pemerintah,” ungkapnya.

Anggota DJSN lainnya, Ahmad Ansyori menambahkan, beruntung masyarakat yang menjadi peserta BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Ketika sakit, segala tindakan medis yang diperlukan bisa dibayar BPJS. Contohnya, ketika ke rumah sakit, ia bertemu pasien yang baru 5 bulan menjadi peserta BPJS Kesehatan. Pasien itu bisa langsung mengklaim biaya perawatan di rumah sakit.

“Pasiem tersebut menjadi anggota BPJS Kesehatan kelas 3 dengan biaya iuran Rp25.500. Baru membayar 5 bulan. Tiba-tiba ia terkena serangan jantung dan butuh tindakan operasi. Tagihan biaya perawatan selama di rumah sakit tertulis Rp360 juta. Tapi karena ia anggota BPJS, maka Rp0 alias gratis,” cerita Ansyori.

Begitu juga dengan BPJS Ketenagakerjaan, perlindungan yang diberikan, di antaranya jaminan hari tua, kematian, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan pensiun.

Pihaknya menghimbau, sangat penting para pekerja seni mendapatkan perlindungan agar lebih tenang bekerja. Dengan perlindungan itu mereka semakin semangat bekarja.

“Kalau jaminan sosial tersebut tidak diberikan, berarti negara sudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Karena pelanggaran HAM itu bukan saja intimidasi, kekerasan, dan penculikan. Tapi dengan tidak mendapatkan jaminan sosial juga termasuk pelanggaran HAM,” tandasnya.

Sementara itu, Timboel Siregar dari BPJS Watch, menegaskan, menjadi peserta BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan amat penting, agar kehidupan masyarakat terjamin. Terlebih program ini juga mengusung semangat kegotongroyongan.

“Ada yang mengeluh, buat apa bayar iuran, tapi tidak pernah sakit. Ini adalah pernyataan yang salah. Harusnya justru bersyukur karena tidak sakit. Bahkan, dia harus bersyukur sudah menolong orang lain. Karena sistem jaminan ini kan juga mengedepankan kegotongroyongan,” imbuhnya. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password