Rakyat Indonesia Belum Merdeka, Diperlukan Radikalisasi Pancasila

Kabarjitu, eva

JAKARTA (kabarjitu): Perjalanan bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan masih belum tercapai. Hingga 73 tahun usia kemerdekaan, bangsa ini masih belum merdeka, berdaulat, dan bersatu.

________

Bahkan, dengan melihat kehidupan berbangsa di Indonesia saat ini, sungguh sangat memprihatinkan. Karena demokrasi Pancasila yang saat ini terjadi, bukan melahirkan keadilan dan kesejahtraan, tapi justru melahirkan kebencian.

Demikian dikatakan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, kepada kabarjitu.com di sela-sela diskusi bertema, “Media Massa adalah Kekuatan Bangsa”, di Jakarta, Senin (17/9/2018).

Menurut Zulhas, sapaan Ketum PAN tersebut, dengan keadaan saat ini, bangsa Indonesia perlu melakukan radikalisasi Pancasila dalam segenap kehidupan. “Radikalisasi Pancasila itu harus dilakukan oleh setiap komponen anak bangsa, baik pemimpin, pemerintah, maupun seluruh rakyat Inonesia.” ujar Zulhas.

Sehingga kedaulatan bangsa ini bisa dicapai. Apalagi kesadaran masyarakat saat ini masih kurang dan banyak yang merasa tak peduli. Padahal peran masyarakat sangat penting sebagai negara demokrasi.

“Kalau masyarakat tidak merasa punya tanggung jawab. Lalu, bagaimana kita bisa mendapatkan perwakilan yang baik. Padahal kita perlu perwakilan, baik aparat, dewan maupun pemimpin yang baik. Kalau petingginya bagus, demokrasinya juga akan bagus. Itulah mengapa saya katakan pentingnya radikalisasi Pancasila, agar masyarakat, aparat, dan pemimpinnya tahu tanggung jawab mereka masing-masing,” paparnya.

Dia menjelaskan, oleh sebab itu, jika bangsa Indonesia ingin maju, maka jalan satu-satunya adalah kembali ke cita-cita kemerdekaan. Segala hal yang menyimpang dari visi dan misi Indonesia merdeka harus segera diluruskan.

Apalagi, visi dan misi yang disusun oleh foundhing fathers terkait cita-cita Indonesia merdeka sudah amat jelas. Yakni negara melindungi tanah air, mencerdaskan kehidupan bangsa, memakmuran, dan menyenjahterakan penduduknya, serta ikut menjaga ketertiban dunia.

“Para pendiri negara yang merupakan kaum intelektual cerdik pandai, juga telah menyusun dasar pendirian negara berupa Pancasila. Dimana, sila-silanya sudah sangat lengkap mengakomodir kebutuhan berbangsa dan bernegara. Mulai dari ketuhanan, kehidupan berdemokrasi, persatuan, musyawarah hingga berkeadilan sosial,” paparnya.

Diungkapkan, ide-ide yang termaktub dalam Pancasila tersebut, nyatanya kemudian muncul di negara-negara lain, puluhan tahun kemudian. Misalnya, di kawasan Eropa soal kesejahteraan baru muncul sekitar tahun l970-an. Bahkan, konsep hidup berdemokrasi baru dianut Amerika Serikat pada 20 tahun kemudian.

“Jadi sebenarnya, Indonesia sudah mengawalinya, mempeloporinya jauh sebelum negara lain mencetuskan idenya. Sayangnya, visi dan misi pendirian negara yang sudah sangat bagus tersebut, kini sudah banyak ditinggalkan. Politisi dan pemerintah mulai melakukan berbagai pelanggaran konstitusi yang menyebabkan makin menjauhnya cita-cita kemerdekaan,” imbuhnya.

Tak heran, lanjutnya, banyak undang-undang yang disusun oleh anggota parlemen yang notabene adalah wakil rakyat, yang disusupi kepentingan asing. Semua dilakukan demi mendapatkan uang untuk mencapai atau melanggengkan kekuasaan. Salah satunya, UU Minerba yang sudah jelas bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945. Karena air dan kekayaan yang ada di bumi Indonesia dimiliki dan dikelola oleh negara.

“Tetapi faktanya tidak demikian. Swasta sudah melakukan pengkaplingan atas kekayaan Indonesia. Saya juga merasa sedih dan miris saat melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Karena sumber daya alam yang semestinya dimiliki dan dikelola negara, kini sudah habis dikapling-kapling swasta. Anehnya, praktik tersebut mendapatkan ijin dan sepengetahuan pemerintah daerah dengan alasan sumber PAD,” tegasnya.

Pada kesempatan sama, Ketua dan Pembina Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, mengaku prihatin dengan keadaan bangsa ini. Oleh sebab itu, untuk memahami Pancasila bukan hanya dengan menghapal kelima sila yang ada di dalamnya saja, tetapi perlu dilakukan dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari. Upaya yang dilakukan sebaiknya secara sistematik, supaya dapat diterjemahkan secara benar dan baik.

“Misalnya, sila Ketuhanan Yang Maha Esa, terjemahannya memang perlu pemahaman yang jelas dan luas, baik dalam artian dan prakteknya. Sebab,  bangsa yang ideologinya tidak jelas berarti bangsa itu bermasalah, sehingga ketergantungan terhadap ideologi tersebut sangat besar,” katanya.

Dia menegaskan, ideologi negara ini sudah jelas, yakni Pancasila. Tetapi dalam praktik keseharian, suka atau tidak suka partai politik yang menentukan jalannya ideologi.
Karena itu di tengah persoalan bangsa yang sudah sedemikian kompleks, pihaknya mengajak para pemimpin partai politik untuk mencari solusi bersama.

“Apalagi, segala masalah kini banyak dijadikan komoditi politik tanpa berupaya mencari akar persoalan yang sesungguhnya. Hal itu tentunya bersamaan dengan tahun politik yang akan diselenggarakan pada tahun 2019 mendatang. Di mana, bangsa ini akan memilih siapa yang akan memimpin Indonesia pada 5 tahun mendatang,” ucapnya.

Menyinggung masalah kedaulatan saat ini, Pontjo menyikapi dengan mengatakan bahwa bangsa ini masih kurang memahami apa yang tersirat dalam pembukaan UUD 1945.

Dalam pembukaan UUD 1945 ada dua kali kata kedaulatan tertulis, satu di awal dan satu lagi di akhir. Di awal, kedaulatan menjelaskan bahwa negara berdaulat. Sedangkan, pada bagian lain menekankan pada kedaulatan rakyat.

Artinya adalah kekuasan tertinggi ada di tangan rakyat. Namun saat ini yang terjadi adalah kedaulatan berdasarkan uang.

“Oleh karena itu saya tegaskan kembali bahwa kami bergerak dalam bidang kebangsaan, karena kebangsaan itu sesuatu yang dinamis. Sehingga kita perlu melakukan penyegaran-penyegaran. Selain itu basis kami adalah mengumpulkan cendikiawan. Karena, kalau kaum cendikiawannya pasif atau diam saja maka negara tidak akan maju,” tutup Pontjo. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password