Masyarakat Harus Waspada Beli Obat Online

Kabarjitu/eva

JAKARTA (kabarjitu): Peredaran obat ilegal atau obat palsu merupakan masalah serius yang kini dihadapi Indonesia. Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati membeli obat atau suplemen secara online.

********

Pasalnya, dari sisi keamanan tidak terjamin. Apalagi, penjualan online rawan disusupi obat ilegal dan palsu. Bahkan, hingga kini belum ada regulasi yang menaungi praktik penjualan obat melalui layanan online.

“Sudah banyak korban akibat membeli obat secara online. Karena obat adalah produk berisiko tinggi. Kalau ada komplain atas obat yang dibeli, masyarakat akan mengalami kesulitan, kepada siapa komplain harus ditujukan, Apakah kepada penjualnya atau pabrik obatnya,” kata Sekjen Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Noffendri Roestam kepada kabarjitu.com, di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).

Menurut Roestam, masyarakat harus pintar-pintar memilah dan mencari informasi di tengah maraknya penjualan obat-obatan secara online. Masyarakat juga tidak sembarangan membeli obat secara online. Karena penggunaan obat tanpa resep dokter akan menuai lebih banyak kerugian dibanding manfaat. Bahkan berakibat fatal.

“Tidak ada larangan masyarakat belanja online. Tapi, belanja online cukup membeli barang yang umum saja. Kalau obat-obatan sebaiknya jangan lewat online. Apa pun kesulitan membeli obat, lebih baik di tempat yang sah. Jadi, di dunia maya, masyarakat harus teliti memilah dan mencari informasi yang berkaitan dengan kesehatan,” imbaunya.

Menurut Roestam, banyak hal yang perlu diperhatikan bila masyarakat ingin membeli obat secara online. Karena obat adalah produk yang harus diperlakukan secara khusus, terutama dalam hal pendistribusian dan cara penyimpanannya. Ada jenis-jenis obat tertentu yang harus tetap terjaga dalam suhu ruangan, ada juga yang harus menggunakan alat pendingin seperti kulkas.

“Pembelian obat-obatan legal, seharusnya memiliki izin dokter. Pengobatannya pun harus di bawah pengawasan dokter, di tempat-tempat disarankan, seperti rumah sakit atau klinik berizin. Kalaupun ingin membeli obat lewat online, sebaiknya memiliki apoteker,” tegasnya.

Pihaknya tidak menyarankan masyarakat membeli obat secara online. Walaupun ada layanan aplikasi chat (obrolan) untuk menanyakan produk obat kepada pengelola toko onlinenya. Karena konsultasi penggunaan obat tidak sama dengan konsultasi produk rumah tangga atau elektronik, fesyen dan lainnya.

Dia mengaku sudah membahas persoalan e-farmasi (layanan produk farmasi online) dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Karena mulai dari produksi, distribusi, hingga penggunaan obat oleh masyarakat harus melibatkan apoteker yang tahu tentang kandungan, kontraindikasi dan cara distribusi maupun cara penyimpanan obat.

“Regulasi tentang e-farmasi sudah hampir final, tapi belum bisa diaplikasikan. Karena e-farmasi harus bersinergi dengan telemedicine. Sampai saat ini telemedice sedang dalam proses pembahasan di Kemenkes,” kata Roestam.

Sementara itu, Ketua Himpunan Seminat Farmasi Kesehatan Masyarakat (Hisfarkesmas) PP IAI, Indri Mulyani Bunyamin, menambahkan, kedudukan apoteker sangat penting dalam pelayanan obat. Karena apoteker bisa ikut mengontrol penggunaan obat oleh pasien.
Data menunjukkan, 50 persen dari kematian pasien disebabkan resep obat yang tidak tepat. Dan, 35 persen kematian balita di negara-negara Asia akibat resistensi obat. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password