Jamsyar Optimis Menjadi Market Leader Penjaminan di Era Digital

Kabarjitu/eva

JAKARTA (kabarjitu): Saat ini, masih banyak usaha kecil dan mikro (UKM) yang tidak bisa mengakses perbankan,, lantaran terkendala jaminan. Padahal UKM merupakan pasar yang sangat potensial untuk digarap industri penjaminan di Indonesia.

_____

Ditambah lagi, adanya perubahan yang menimbulkan peluang dan tantangan bagi industri keuangan, khususnya penjaminan. Sehingga perlu diantisipasi dengan baik, agar bisa dioptimalkan.

“Industri penjaminan harus bisa memberikan solusi pembiayaan kepada UKM. Sehingga diperlukan inovasi, agar mereka bisa mengakses pinjaman tanpa jaminan, tetapi bisa tetap aman,” kata Plt Direktur Utama PT Jamkrindo Syariah Gatot Suprabowo kepada kabarjitu.com di sela-sela Diskusi Panel bertema “Penjaminan di Era Digital”, di Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Dia mengungkapkan, di era digital seperti saat ini, mau tidak mau Indonesia harus siap menghadapinya dengan melakukan persiapan. Seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia baru-baru ini, telah meresmikan roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0. Sedangkan, di dunia Internasional, perubahan itu dikenal dengan Revolusi Industri 4.0.

Perubahan perilaku sosial dan industri serta perekonomian tersebut menimbulkan adanya peluang dan tantangan bagi para pelaku usaha. Termasuk industri keuangan. Peluang dan tantangan tersebut perlu diantisipasi dengan baik, agar peluang yang ada dapat dioptimalkan. Sehingga lembaga keuangan dapat bertahan. Bahkan berkembang dengan lebih pesat di era baru ini,” tegasnya.

Menurut Gatot, seiring perkembangan teknologi yang sangat pesat dan era digitalisasi, perusahaan penjaminan syariah juga harus segera menyesuaikan diri dengan membuat terobosan yang inovatif dan kreatif. Karena proses bisnis ke depan, tidak lagi dilakukan secara manual. Maka, hal-hal yang bersifat tradisional akan segera ditinggalkan dan ini harus diantisipasi oleh industri penjaminan.

“Perkembangan teknologi yang membuat proses digitalisasi merambah hampir semua lini kehidupan manusia. Ini harus diantisipasi oleh perusahaan penjaminan dan perbankan. Sebab, saat ini sekitar 50 persen transaksi keuangan tidak lagi terjadi di lobi bank, tetapi sudah berpindah ke smartphone atau telepon genggam,” imbuhnya.

Dikhawatirkan, lanjut Gatot, ada kemungkinan masuknya industri penjaminan asing ke Indonesia. Apalagi, pangsa pasar di Indonesia sedemikian besar, terutama pangsa pasar industri penjaminan dengan tumbuh pesatnya sektor UKM. Sehingga para pelaku usaha
diharapkan dapat mempersiapkan strategi dan langkah-langkah yang tepat.

“Industri keuangan dapat tumbuh secara sustain di era digital. Tantangan tersebut perlu diantisipasi dengan baik, agar peluang yang ada dapat dioptimalkan. Sehingga lembaga keuangan dapat bertahan. Bahkan berkembang dengan lebih pesat di era baru ini,” ucapnya.

Dia menjelaskan, saat ini di Indonesia ada 23 perusahaan penjaminan. Tetapi dari sekian banyak perusahaan penjaminan, baru dua yang menggunakan prinsip syariah dan 4 perusahaan yang membuka unit syariah. Dengan meningkatnya industri halal, perusahaan penjaminan syariah memiliki potensi besar untuk berkembang.

“Fenomena industri halal yang kini banyak dilakukan oleh negara-negara lain. Bahkan, negara yang bukan berpenduduk muslim, menjadi pasar baru bagi industri penjaminan syariah. Oleh sebab itu, kami sangat optimis dan mampu menjadi leader market di indusri halal ini. Hal itu terbukti dengan kinerja keuangan yang kami kelola semakin membaik,” tutup Gatot. (eva)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password