5 Langkah ini Sanggup Atasi Anjloknya Rupiah

kreasi kabarjitu

JAKARTA (kabarjitu): Sejak proklamasi kemerdekaan hingga hari ini, nilai tukar Rupiah sudah merosot puluhan ribu rupiah. Nilai tukar Rupiah merosot terus dan akan terus merosot, karena cadangan devisanya tidak pernah cukup kuat untuk menopang mata uang Rupiah.

_______

Ketua Dewan Penasehat Kadin Kelautan dan Perikanan, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengungkapkan, saat ini sawit dan produk oleochemical adalah penghasil devisa terbesar. Setelah itu, pariwisata, tekstil dan garmen.

Berikut peringkat 10 besar penyumbang devisa terbesar di Indonesia berdasar data tahun 2017 (data didapat dari BPS dan Kementerian Perindustrian).

1. Devisa Hasil Ekspor Kelapa Sawit – US$ 22.77 milyar
2. Jasa Pariwisata (Turis Asing) – US$ 18.09
3. Eskpor Tekstil – US$ 15.14
4. Ekspor Migas – US$ 16.19
5. Ekspor Batubara – US$ 14.28
6. Jasa TKI – US$ 13.33
7. Ekspor Elektronik – US$ 7.62
8. Ekspor Hasil Kayu Hutan – US$ 6.67
9. Ekspor Karet – US$ 6.19
10. Ekspor Sepatu dan Sandal – US$ 5.71

Pada tahun 2014, kata Rokhmin, ekspor produk perikanan Indonesia berada pada peringkat ke-6 dari 10 besar penghasil devisa.

“Tapi, sejak tahun 2015 hingga 2018, ekspor perikanan tidak masuk lagi pada 10 besar komoditas penghasil devisa Indonesia,” kata Rokhmin melalui siaran persnya, Senin (10/9/2018).

Turunnya peringkat ekspor perikanan, lanjut Rokhmin, disebabkan anjloknya hasil produksi komoditas tuna, cakalang, kepiting hidup hasil budidaya, kerapu hidup hasil budidaya, serta udang hasil tangkapan di Arafura dan tilapia.

“Anjloknya produksi perikanan disebabkan oleh berbagai aturan pemerintah, cq KKP, yang kontra-produktif,” ujarnya.

Aturan dimaksud, seperti moratorium perpanjangan ijin kapal nelayan yang diimpor secara legal, larangan trans-shipment, larangan pengiriman kepiting ukuran tertentu dan betina, hambatan akses kapal buyer ikan kerapu hidup hasil budidaya, moratorium dan penutupan KJA ikan nila di danau Toba, waduk Cirata, dan lain-lain.

“Jika pemerintah melakukan de-regulasi, nilai ekspor perikanan bisa kembali masuk dalam daftar 10 penyumbang devisa terbesar di Indonesia, dengan nilai sebesar US$ 5.8 milyar, menduduki peringkat ke 9,” katanya yakin.

KADIN Kelautan dan Perikanan juga memberi saran, agar pemerintah selain melakukan deregulasi juga melakukan empat langkah lainnya.

Keempat langkah tersebut adalah; mempercepat proses perijinan dan perpanjangan perijinan, mengembangkan aquaculture/perikanan budidaya yang potensi ekonominya US$ 240 milyar per tahun.

Kemudian, menerapkan teknologi modern untuk tambak garam, sehingga produktifitasnya naik hingga 400% dan kualitasnya juga naik agar bisa memasok seluruh kebutuhan garam dapur dan industri dengan target bisa menghemat devisa dari impor garam sebesar US$ 1.4 milyar per tahun.

Langkah berikutnya, mengoptimalisasi kapasitas terpasang industri pengolahan ikan, dengan menjamin pasokan bahan baku ikan dari dalam negeri yang potensi MSY-nya 12.5 juta ton per tahun, dengan potensi ekspor sekitar US$ 12 milyar per tahun.

“Jika kelima langkah yang disarankan KADIN KP ini dijalankan, maka dalam waktu 6 hingga 24 bulan sektor perikanan Indonesia bisa menghasilkan devisa sekitar US$ 5,8 milyar,” ungkapnya.

“Anjloknya produksi perikanan disebabkan oleh berbagai aturan pemerintah, cq KKP, yang kontra-produktif”.

Itu artinya, dalam waktu 5 tahun bisa meningkat hingga US$ 52 milyar, serta dalam waktu satu hingga dua dekade bisa meningkat hingga US$ 252 milyar per tahun. “Devisa sebesar ini ekivalen dengan 12 kali devisa dari sawit, atau sekitar 164% dari APBN RI tahun 2018,” katanya.

Jika target devisa ini tercapai bersamaan dengan meningkatnya devisa dari 10 sektor andalan lainnya, kata Rokhmin, maka nilai tukar Rupiah bisa lebih kuat dari Singapura.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia bisa melampaui Cina. Bahkan, 40 puluh juta lapangan kerja baru bisa dibuka, sehingga kemiskinan menurun drastis, dan daya beli masyarakat meningkat belasan kali lipat.

“Semoga ke lima langkah dari masukan KADIN KP dijalankan pemerintah,” harapnya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password