Tempat Inikah yang Membuat Allah Murka pada Lombok?

kreasi kabarjitu

Fazillah Salim

TGB Hanya Diam dan Banggakan Tempat ini

BENCANA gempa bumi memorakporandakan hampir seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Ratusan kali bumi NTB diguncang alam. Tiga di antaranya berkekuatan besar, 6.2 SR, 7.0 SR, dan 6.7 SR.

Tak berhenti sampai di situ, pada Minggu (26/8/2018), bumi NTB masih digoyang gempa.

“Hari Minggu, 26 Agustus 2018, pukul 01.33 WIB, wilayah Kabupaten Sumbawa Barat diguncang gempabumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki kekuatan M=5,6 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M=5,5. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,53 LS dan 116,93 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 25 km arah utara Kota Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 11 km,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam keterangannya, Minggu (26/8/2018).

Gempa susulan sudah mencapai 576 kali. Jumlah korban yang sudah dievakuasi sampai Senin (13/8/2018) tercatat 436 korban meninggal.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis menyebutkan, sebaran korban meninggal dunia berada di Kabupaten Lombok Utara 374 orang, Lombok Barat 37 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 12 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Lombok 2 orang.

“Jumlah 436 orang meninggal dunia tersebut adalah korban yang sudah terdata oleh Kepala Desa dan babinsa. Korban yang sudah terverifikasi dan ada surat kematian di Dinas Dukcapil tercatat 259 orang. Sisanya dalam proses administrasi di Dinas Dukcapil msing-masing kabupaten. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa,” tulis Sutopo.

Sementara itu, berdasar data dari Posko Tanggap Gempa Lombok pada 13/8/2018, pengungsi tercatat 352.793 orang.

Sebaran pengungsi terdapat di Kabupaten Lombok Utara 137.182 orang, Lombok Barat 118.818 orang, Lombok Timur 78.368 orang, dan Kota Mataram 18.368 orang.

Ada Apa di NTB?

Akhir Tahun 97, saya diundang oleh Gubernur NTB, Harun Al Rasyid. Kala itu, dalam sebuah sambutan rapat kerja nasional asosiasi media, beliau berkelakar, “Berlama-lamalah di lombok, karena keelokan Lombok yang luar biasa dan aduhai. Di sepanjang pantai sebuah pulau kecil, Anda bisa berkeliling. Jika haus, tidak perlu kawatir, karena di sepanjang pantai itu ada “sumur”.

Singkat cerita, selesai Rakernas, kami bertiga bersama M.Taufiq (sekarang Wakil Ketua DPR DKI dari Gerindra ), M. Fahri Muhammad, pemilik Smart FM groups, Cahaya Sinaga (Komisaris Bank Mandiri dari barisan Projo), menyewa kapal tradisional. Lalu saya mendatangi pulau kecil yang diceritakan oleh Gubernur NTB Harun Al Rasyid kala itu.

Ada pulau kecil. Orang Lombok menyebut gili, gili itu terdiri dari “Gili Meno, Gili Trawangan, dan Gili Air”.

Di Gili Trawangan, ketika datang di bibir pantai masih banyak turis lokal. Tetapi, jika dibandingkan turis manca, maka turis manca yang paling dominan. Jarang turis lokal mau mengexplor pulau kecil yang diceritakan oleh gubernur.

Kami berempat mengexplor pulaun kecil itu. Ternyata, apa yang dibilang gubernur betul adanya. Di sudut tenggara Gili Trawangan ada sebuah pantai nan indah. Jika kita datang, akan menjadi mahluk yang aneh dan asing, karena hampir 100% orang yang ada di pantai itu semua tidak ada yang berpakaian, alias telanjang bulat.

Mereka terdiri kaum nudits. Termasuk waitress yang melayani tamu pun hanya menggunakan sehelai kain segitiga untuk menutup “itu”, tanpa memakai bra (maaf). Yang lain, semua turis nudist.

Siang hari, sepanjag pantai, kami menelusuri pantai dan kehausan.  Kata gubernur banyak sumur untuk minum. Ternyata “sumur” yang dibilang gubernur itu hanyalah ungkapan yang merupakan kepanjagan dari “susu dijemur”. Kehidupan yang lebih mirip kebun binatang.

Kami berempat merasa asing. Lalu kapal bergerak ke Gili Meno. Pulau ini lebih kecil dari Gili Trawangan. Pada tahun 97-an, apa yang kami lihat lebih dahsyat dari Gili Trawangan. Sejak hadir di Gili Mejo, sudah disambut oleh orang yang tidak pakai baju.

Bahkan sampai di restaurant, tak seorang pun menggunakan baju. Pulau kecil itu sebenarnya pulau tertutup buat turis domestik. Kebanyakan turis manca yang stay over di Gili Meno. Mereka adalah asal Amerika, Canada, Eropa dan sebagian Timur Tengah (Dubai dan Maroko).

Staff Gubernur menyampaikan kepada kami, hanya turis the have saja yang bisa masuk di Gili ini. Kami bisa masuk karena mendapat permit dari gubernur.

Antara Gili Meno dan Gili Air, ada kapal wisata yang lalu lalang dari Benoa Bali dan berhenti di titik antara Gili Air dan Meno. Di situlah bagai hotel terapung, surganya para turis manca negara yang menikmati indahnya laut, hiburan di tengah laut dan liarnya pemuas hawa nafsu, kata staff yang mendampingi kami. Dia juga bilang, puncak hiburan yang dihadiri oleh orang nudist itu berjalan sepanjag malam dengan hingar bingarnya.

Dalam hati saya bertanya-tanya, Lombok NTB sepanjang sejarah pemerintahan dipegang oleh orang muslim. Bahkan, saat ini, gubernurnya seorang ulama dan khuffadz al qur’an. Tidak tahukah mereka akan tempat-tempat super maksiat itu?

Lalu bagaimana sang gubernur dan stafnya memahami hadits, “barang siapa di antara kalian melihat adanya kemungkaran, maka selesaikan dengan tangan (kakuasaan) mu?”
Tidak adakah MUI di Lombok / NTB yang tahu tentang tempat-tempat tersebut?

Sebenarnya, sudah lama saya ingin menulis tentang tempat-tempat super maksiat di Lombok itu. Terutama sejak ada gempa pertama, kedua, ketiga, hingga keempat.

Pagi ini, saya tidak bisa lagi ngempet untuk mengungkapkan pengalaman. Tempat-tempat itu kah yang membuat Allah murka dengan banyaknya bencana di Lombok ??

bob.150818

Fb Asyta arsyita alfaro

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password