Sejak Orba sampai Saat ini, Muslim di Bawah Kekuasaan Minoritas

kreasi kabarjitu

KABARJITU: Sesungguhnya, rakyat Indonesia tak pernah mendapatkan kemerdekaan secara utuh. Terutama kalangan Muslim, yang berada di baris terdepan dalam berperang melawan penjajah.

__________

Kekayaan bumi Pertiwi, juga tak pernah seutuhnya dinikmati rakyat Indonesia. Melalui tangan-tangan penghianat, negeri ini disuguhkan kepada para cukong, yang notabene melakukan penjajahan secara ekonomi.

Demikian benang merah yang bisa ditarik dari rajutan artikel @AlbertPanjaitan yang ditayangkan di media chirpstory, 3 Juli 2018.

Dalam artikelnya, @AlbertPanjaitan mengawali tulisannya dengan kalimat sindiran; “Ga tahan dikecam tak henti bertahun2, sy khawatir mukidi sbntar lagi teriak buat pengakuan: “Eh kalian rakyat endosiah, kok dikit2 nyalahkan saya? Salahkan donk mereka yg paksa saya jd boneka. Salahkan Beyek, Opung, Hendro, Wanandi, CSIS. Mrka semua yg bikin sy jadi proksi !”

Menurut @AlbertPanjaitan, banyak orang tidak sadar ketika Setya Novanto menjadi Ketua Umum Partai Golkar, kader-kader Pater Beek bangga, bahagia, terharu. Akhirnya, Golkar kembali ke sisi Pater Beek melalui Setnov Celakanya, Setnov keburu jadi napi korupsi. Belum sempat menggunakan Golkar mewujudkan impian terbesar Beek.

“Pater Beek adalah ayah kandung Golkar. Berkat kegigihan Pater Beek meyakinkan Suharto, dan TNI AD gagasannya untuk membentuk Sekber Golkar sebagai kendaraan politik TNI AD dan rezim Suharto, disetujui. Sekber Golkar kemudian berubah jadi Golkar. Banyak kader Beek menjadi elit Golkar,” tulis @AlbertPanjaitan.

Setelah Golkar berdiri, Pater Beek meyakinkan Suharto agar diterapkan penghapusan multipartai untuk memudahkan pemusatan kekuasaan politik di tangan Suharto dan TNI AD. Suharto setuju. Partai-partai dipaksa meleburkan diri (fusi) ke PPP atau PDI. Termasuk Partai Katolik

Mengacu pada filosofi ‘garam’, Pater Beek dan kader-kadernya para politisi dan aktivis katolik ultrakanan, menentang eksistensi partai katolik, yang dinilainya tidak strategis dan dapat membahayakan tujuan Beek. “Kader-kadernya sebagai pengendali kekuasaan di balik Suharto dan Rezim ORBA,” katanya.

Dengan jumlah Katolik kurang 3%, mustahil Partai Katolik bisa jadi the ruling party. Sebaliknya jika bubar, seluruh kader mudah masuk dan gabung ke Golkar. “Ide brilian Beek ditolak banyak politisi Katolik. Ketika Partai Katolik dibubarkan, lebih banyak memilih masuk PDI ketimbang Golkar.”

Satu hal yang tidak dicerna banyak politisi Katolik dari gagasan Pater Beek adalah rencana Beek membonsai PDI dan PPP. Menjadikan Golkar sebagai partai utama dan satu-satunya partai penguasa. PPP dan PDI hanya sebagai partai satelit, guna melegitimasi demokrasi semua yang diterapkan rezim ORBA.

CSIS Berdiri
Biro Dokumentasi Kongregasi Santamaria kemudian menjadi cikal bakal CSIS, lembaga pengkaji, perumus, dan penentu kebijakan pemerintah ORDE BARU. Kader-kader Beek, termasuk mereka yang baru tamat kuliah di luar negeri menjadi pengelola dan peneliti CSIS.

Beek sukses merangkul Ali Murtopo dan Sudjono Hoemardani. Mereka asisten pribadi Presiden Suharto. ASPRI pada saat itu lebih berkuasa dari menteri kabinet. Akses CSIS ke Suharto pun terbuka setiap saat. Ketika OPSUS dibentuk Ali Murtopo, kader-kader Beek bergabung ke OPSUS.

“Zachte heelmeesters maken stinkende wonden” – Cara pengobatan yang lembek membuat borok makin parah baunya. Prinsip ini disarankan Beek untuk diterapkan OPSUS dalam menumpas habis PKI. “Setelah PKI lumpuh total, prinsip ini ditujukan ke Islam sebagai musuh baru yg hrs disingkirkan.”

Melalui Sutopo Yuwono, Kepala Bakin, Beek berhasil meyakinkan Suharto untuk menarik Leonardus Benny Moerdani, athan (atase pertahanan) RI di Korea agar kembali ke Jakarta. Tujuannya untuk memperkuat posisi Katolik di lingkaran dalam Suharto.

“Uang dan Senjata” adalah prasyarat agar doktrin Lesser Evil (setan kecil) dapat efektif diwujudkan. Setelah komunis hancur, menurut Pater Beek, ada 2 hijau yang jadi ancaman Katolik Indonesia: yakni, ABRI dan Islam. Rangkul ABRI (senjata) untuk singkirkan Islam Setelah itu kuasai UANG.

Pater Beek meyakinkan Suharto agar kader-kader Katolik memegang kendali uang melalui: Pertama, posisi Gubernur BI dan Menkeu. Kedua, kebijakan Pemerintah ORBA, dan ketiga, hegemoni dunia usaha/bisnis, indutri, dan perdagangan. Dan, selama 1971-1988, Suharto menerapkan total gagasan Beek, yakni Islam dipinggirkan.

Untuk menyingkirkan Islam dari semua sektor strategis negara dan pemerintahan, kader-kader Beek tidak boleh tampil ke depan. Beek secara ketat memaksa para kadernya berada di balik layar, ketika tangan pemerintah ORBA menindas Islam pada 1971-1988.

Sementara itu, CSIS menyiapkan kebijakan yang diadopsi rezim Orba untuk menggilas Islam selama 17 tahun. ABRI, Golkar, dan Birokrasi menggencet Islam dari dalam dan pengusaha Tionghoa menggencet Islam dari luar. Islam selama 17 tahun seperti kerakap tumbuh di Batu. Bonsai, kerdil. (Paria sudra)

Melalui pengkaderan rutin Kasebul (Khalwat Sebulan) yang rutin dilakukan Pater Beek sejak 1966, tidak ada kesulitan untuk mengisi ribuan posisi strategis pada masa Orba. Kader katolik pribumi di pemerintahan dan negara, Tionghoa di dunia usaha, industri, dan lain-lain.

Dengan pembagian peran secara sistematis, kebijakan ORBA yang seolah-olah diskriminasi terhadap Tionghoa, dapat dijadikan senjata untuk mengamankan hegemoni Katolik di pemerintahan dan dunia usaha melalui pembentukan opini di luar negeri menggunakan jaringan Santamaria.

Strategi Beek selama ORBA sangat efektif mengesankan kelompok minoritas dan Tionghoa sebagai korban rezim ORBA. Padahal merekalah penguasa dan penikmat kekuasaan selama puluhan tahun. “Strategi Playing Victim ini bertahan sampai hari ini, berkat Pater Beek yang jenius dan kader-kader Kasebul militan.”

Doktrin Lesser Evil diterapkan secara ketat, mengharuskan Katolik, khususnya kader-kader Beek untuk mengakomodasi kelompok minoritas lain di semua sektor strategis negara, karena hanya dangan cara begitu, Islam dapat dipinggirkan, dimarginalkan secara efektif untuk jangka panjang.

Kelompok islam tertentu hanya boleh dilibatkan untuk kepentingan menyingkirkan Islam lain, yang lebih besar. “Kelompok NU menjadi pilihan terbaik, karena keinginan besar NU untuk menebus kesalahan di masa ORLA, di mana NU menjadi unsur agama dalam Nasakom Sukarno.”

Motif menebus dosa kalangan NU dimanfaatkan Peter Beek dan kader-kadernya untuk membantu penumpasan PKI di awal ORBA dan ditempatkan di front terdepan berhadapan dengan kelompok mayoritas Islam di masa ORBA hingga sekarang.

Tindakan represif masif harus dilakukan oleh TNI (hijau) agar peran kader Beek dan CSIS tidak terendus. Peristiwa Pembantaian Umat Islam Tanjung Priok atau Talangsari yang menewaskan ratusan umat Islam, tidak menodai mereka sedikit pun.

Suharto Rangkul Islam
Ketika Suharto mendadak meninggalkan mereka, beralih merangkul islam, hegemoni Katolik ultra kanan/CSIS/kasebul para kader Pater Beek tergerus drastis. “Gubernur BI, Panglima TNI, Menkeu, dan posisi-posisi strategis yang sampai 1987 dijabat elit Katolik, tiba-tiba disingkirkan, diganti Islam.”

Kemudian, selama 10 tahun mereka berjuang menggusur Suharto. Seperti pengakuan Jusuf dan Sofyan Wanandi, pentolan elit Katolik ultrakanan kader Beek, “Ketika Suharto meninggalkan kami, tidak mendengar nasihat kami, dia kami jatuhkan…”

Untuk menggusur Suharto, mereka lagi-lagi meminjam tangan umat Islam/pribumi.

Setelah Suharto lengser, kader-kader Beek Katolik Ultra Kanan penindas Islam menyusun ulang strategi, untuk come back ke pusat kekuasaan sebagai pengendali dan penguasa sebenarnya di balik layar. Mereka tetap merangkul senjata (TNI) dan menguasai uang.

Jenderal-jenderal purnawirawan kader LB Murdani dan Ali Murtopo dijadikan sekutu utama. Kelompok minoritas dikonsolidasi dan digiring melalui opini persepsi mereka bahwa Islam adalah musuh besar bersama yang harus kembali disingkirkan. “Bersama2 mereka menciptakan PROXY.”

Strategi usang namun masih efektif digunakan lagi setela dimodifikasi. Islam vs Pancasila melalui tuduhan radikalisme, fundamentalis, garis keras, terorisme, anti NKRI-Makar dan seterusnya. Strategi kader Pater Beek ini hampir berhasil menyingkirkan Islam.

Keinginan berkuasa lagi melalui AHY mengubah posisi politik SBY yang sebelumnya moderat.

Dua tahun sebelum kekuasaannya berakhir, SBY bergeser ke kiri, bergabung dgn kelompok kader Pater Beek/CSIS dan elit minoritas yang sepakat menyingkirkan Islam.

Proksi CSIS – Jend Merah kader Murtopo- Moerdani menjadi proksi SBY juga. Sementara kelompok kristen garis keras Evengelis mengusung Ahok sebagai proksi mereka. “Persekutuan ini sukses menggusur Islam di Jakarta pada pilkada 2012 lalu dan sukses besar mengantar mereka ke Istana 2014.”

Dari kuburnya ia tersenyum… Pater Josephus ‘Joop’ Gerardus Beek, SJ Pater Beek panggilannya, adalah figur sentral, pusat gravitasi kader Katolik radikal dalam perjuangan menyingkirkan Islam Indonesia. Pada 2014, menjadi puncak pencapaian 3 simbol negara di luar jangkauan Islam, yakni RI-1, DPR-1, dan DKI-1.

Solo Selatan dilupakan, Segitiga merah dalam bayang, berkat Pater Beek. Mereka beriman Palu Arit hanya kenangan. Semua bersatu dalam persaudaraan Iman, “Only the fight that counts”. Hanya perjuanganlah yang menentukan.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password