Lembaga Survey itu Menjijikan, Hanya Data Tipu-tipu untuk Puaskan Cukong

kreasi kabarjitu

JAKARTA: Jijik dan bosan melihat kelakuan lembaga-lembaga survey pro pemerintahan, sok pintar, dan sok benar. Padahal mereka lembaga survey bayaran tukang tipu-tipu.

_____

Demikian diungkapkan Djoko Edhi Abdurrahman, Anggota Komisi Hukum DPR periode 2004 – 2009, terkait kinerja Lembaga Survey yang selama ini selalu nimbrung dalam akang Pilkada dan Pilpres.

Menurut Djoko Edhi, jenis lembaga yang sama sudah beroperasi sejak 2014. Kerjanya menggiring-giring opini, membuat polling, quick count, dan lain-lain.

“Tapi isi datanya palsu, sesuai dengan pesanan sponsor cukong-cukong besar, tuan-tuan pemilik dollar,” ujar Djoko Edhi yang juda sebagai advokat dan Wasek Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU, melalui akun pribadinya di media sosial, belum lama ini.

Djoko Edhi menilai, para pelacur intelektual ini tidak ada bedanya dengan media-media bayaran, sama-sama melacurkan data dan fakta. Tujuannya tidak lain untuk memuaskan birahi kekuasaan cukong-cukong konglomerat hitam.

“Mereka bekerja untuk uang. Tidak perduli dampak kehancuran pada demokrasi. Demokrasi dicemarkan, dirusak. Sehingga tujuan demokrasi pun tidak tercapai,” ujar Edhi.

Djoko Edhi menyebut, prediksi yang meleset jauh terkait pilkada (serentak) kemarin, menandakan ada sesuatu yang terjadi. Ada rencana yang gagal. Sehingga angka-angka yang di-setting sebelumnya berubah jauh.

“Para pelacur intelektual ini langsung buru-buru mengeluarkan statement, pura-pura terkejut dan ada yang memuji-muji salah satu paslon, seolah-olah kesuksesan salah satu paslon dalam menaikan elektabilitas dalam waktu singkat,” bebernya.

Padahal, kata Djoko Edhi, itu semua omong kosong, karena ada settingan yang gagal. Plan A gagal, maka berlanjut ke Plan B. “Namun sayangnya, kita juga yang terlalu polos. Ada yang menanggapi serius puja-puji palsu dari kubu tukang tipu. Dan, dengan polosnya, kita memberikan kiat-kiat sukses dalam menaikan elektabilitas, kita tidak sadar, kita sedang ditipu habis-habisan oleh para pelacur intelektual,” kata Djoko Edhi.

Sebut saja, lanjut Djoko Edhi, hasil survey pra pilkada meleset jauh, lalu mereka buru-buru keluarkan quick count. “Apakah kita masih mau percaya dengan hasil quick count lembaga survey tipu-tipu itu? Katakan tidak! Kawal dan tunggu hasil perhitungan resmi KPU!” ujarnya.

Lembaga survey abal-abal tersebut yang telah memonopoli pemberitaan di media-media mainstream. “Sadarkah kita, persepsi kita sedang dijajah oleh lembaga-lembaga survey pro pihak tertentu bersama dengan media-media mainstreamnya? sungguh betapa polosnya kita, nurut saja…. seperti kerbau di cucuk hidung…” ujarnya.

Krena itulah, kata Djoko Edhi, dirinya mengajak seluruh rakyat Indonesia (yang menginginkan perubahan) untuk berhenti mempercayai lembaga-lembaga survey mainstream, yang selama ini terang-terangan berpihak pada pihak-pihak tertentu.

“Kita harus melawan segala bentuk penipuan dan penghianatan terhadap demokrasi di Indonesia. Kita kecam keras lembaga-lembaga survey pelacur intelektual perusak demokrasi. Kita desak agar mereka dibubarkan, kita tantang audit data-data mereka yang selama ini menjadi dasar aksi tipu-tipunya. Setelah itu kita gugat mereka, karena turut serta merusak demokrasi dan menghancurkan NKRI,” ajak Djoko Edhi.

Hal senada juga diungkapkan Syafril Sjofyan, seorang aktivis pergerakan 77-78 dan anggota Dewan Siyasah SI. Menurut Syafril, dalam satu kesempatan, Rizal Ramli menyampaikan bahwa lembaga survei mengunci calon-calon lawan/oposan sekitar 20 persen. Hasil lawan dikurangi sekitar 20 persen.

“Hasil sementara Pilkada serentak 2018 yang baru saja usai di Jabar dan Jateng menjadi bukti,” kata Syafril seperti ditulis RMOL.

Sejak awal sampai seminggu sebelum pencoblosan pilkada serentak, lembaga survei “terkenal” itu selalu menempatkan pasangan cagub-cawagub Jabar, ASYIK (satu satunya pengusung tema #2019GantiPresiden) dengan angka 5 – 8 persen. Nyatanya, hasil sementara Pilgub Jabar, pasangan tersebut mendapat sekitar 30 persen.

Begitu juga di Jateng, semua lembaga survei (yang pernah diundang ke Istana) menempatkan SS cagub Jateng (oposisi) 15 – 20 persen. Tapi nyatanya, hasil sementara sekitar 40 persen. “Gila bener selisih dari hasil survei 20 persen-25 persen, angka yang sangat tinggi dengan angka yang lembaga survei tersebut gadang-gadang,” ujar Syafril.

Selama ini, Rizal Ramli sebagai Capres juga dikunci di angka 7 persen. Bahkan banyak lembaga survei yang tidak mencantumkan nama Rizal Ramli pada lembaran daftarnya sebagai capres (hal yang mustahil mereka lakukan untuk menghilangkan nama PS). Sehingga yang mengisi lembaran survei sudah digiring dengan daftar nama yang mereka sediakan.

Terkadang lucu, Megawati dan SBY yang pernah jadi presiden dan nama-nama yang tidak pernah mencalonkan diri sebagai capres justru tercantum. Bahkan nama yang hanya mencalonkan diri sebagai cawapres juga mereka masukan dalam daftar pilihan survei capres.

Padahal sampai sekarang, yang nyata-nyata deklarasi sebagai capres hanya tiga orang, yakni Jokowi dan Prabowo (keduanya oleh parpol), dan Rizal Ramli (oleh dirinya sendiri). Sementara yang lain hanya digadang oleh relawan saja.

Lembaga survei selalu membuat daftar seakan calon presiden banyak sekali. Lucunya lagi, nama Rizal Ramli tidak diikutkan dalam survei mereka, karena satu satunya calon yang sangat konsisten melawan hegemoni neolib (Bank Dunia dan IMF), serta hegemoni Tiongkok. “Rizal Ramli satu satunya capres yang tegas menyatakan Indonesia bukan antek Tiongkok dan bukan antek USA,” ujarnya.

Jika saja lembaga survei memunculkan tiga nama Jokowi, Prabowo, dan Rizal Ramli sebagai capres, maka konfigurasi hasil akan berbeda. Konstelasi politik dipastikan akan jauh berbeda dengan kondisi yang diarahkan selama ini. Seakan-akan calon kuat hanya antara Jokowi dan Prabowo.

“Tidaklah mungkin menutup matahari dengan telapak tangan. Semoga lembaga survei yang telah “dipermalukan” dengan hasil di Jabar dan Jateng sadar. Jika memang punya martabat, sebaiknya mengambil langkah membubarkan diri saja,” pungkasnya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password