Bongkar Sejarah: Umat Islam Rebut Kemerdekaan, Abangan dan Katolik yang Berkuasa

kreasi kabarjitu

Saatnya Islam Bangkit (2)

KABARJITU: Ada seorang Pastor Belanda bernama Pater Beek, yang sejak sebelum pendudukan Jepang sudah menyebarkan Katolik. Dia juga menjalankan tugas kepastorannya di Indonesia, terutama di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Paham Pater Beek adalah Ultra Kanan.

__________

Setelah komunis dihancurkan oleh TNI AD, Beek melihat ada dua ancaman (setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman sama-sama berwarna hijau: Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara adalah ancaman yang lebih kecil (Lesser evil) dibanding Islam.

Setelah kejatuhan komunis, Pater Beek menilai Islam sebagai ancaman besar terhadap Katolik Indonesia. Islam disebut Beek sebagai “Setan Besar”. Berdasarkan pemikiran itu, Beek memerintahkan kader-kadernya untuk merangkul tentara dan menggunakannya untuk menindas Islam di Indonesia.

Pater Beek menunggangi kejengkelan Suharto – TNI AD terhadap kelompok Islam pasca G 30 S/ PKI.

Pasca G 30 S/PKI 1965, politisi-politisi Islam (terutama ex Masyumi) dianggap oleh Suharto menuntut terlalu banyak imbalan jasa untuk terlibat di dalam pemerintahan baru.

Kelompok Islam menuntut peran lebih besar di pemerintahan baru sebagai balas jasa partisipasi mereka menumpas Gestapu PKI dan untuk memenuhi azas keadilan – kepantasan sbg unsur mayoritas di Indonesia. Tapi Suharto – TNI AD menolak dengan dalih demi efektifitas pemerintahan baru.

Suharto dan TNI AD akhirnya memutuskan untuk mengelola sendiri negara dan tidak akan berbagi kekuasaan dengan siapa pun, apalagi dengan kekuatan Islam. Ketegangan Islam melawan dominasi tentara (ABRI) inilah yang melicinkan strategi Pater Beek.

Pater Beek bersikeras kepada seluruh kadernya untuk menerapkan “Doktrin Lesser Evil” selama belasan tahun pemerintah ORBA. Kelompok Islam di Indonesia tidak hanya dikerdilkan dalam bidang politik, melainkan berhasil dipinggirkan dan disingkirkan di semua bidang strategis.

Selama pemerintahan ORBA 1971-1988, Islam berhasil dimarginalisasi dan dipinggirkan terutama di bidang pemerintahan dan birokrasi, ekonomi, keuangan, dan perdagangan, militer dan kepolisian, serta sosial budaya. Umat Islam menjadi warga negara kelas III.

Kehadiran Ali Murtopo, Sudjono Humardani, dan Leonardus Benny Moerdani yang berhasil dirangkul Pater Beek dan para kadernya, memastikan pelaksanaan “Doktrin Lesser Evil” yang menyingkirkan Islam berhasil dengan gemilang selama belasan tahun pemerintahan ORBA.

Murtopo dan Humardani, dua ASPRI Presiden Suharto, sangat berkuasa melebihi menteri kabinet pada era ORBA. Kedua tokoh anti Islam itu sama-sama mengabdi kepada Suharto. Tapi Ali Murtopo punya rencana jangka panjang untuk berkuasa. Ia menyatakan, “I will be the next president.”

Keinginan Murtopo untuk menjadi suksesor Suharto diucapkannya kepada wartawan Tempo, Tuty Kakiailatu di saat kampanye Pemilu 1971. Sebaliknya, Sudjono Humardani adalah orang Solo yang sudah bahagia jika bisa menjadi abdi dalem Suharto yang baik.

Ambisi Ali Murtopo ingin menjadi presiden ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh kader-kader Pater Beek. Selama masa pemerintahan ORBA, Ali Murtopo dan Sudjono Humardani dilibatkan dan dimanfaatkan secara penuh oleh CSIS (Center for Strategic and International Studies. Dan sebaliknya, Murtopo juga memanfaatkan CSIS.

Semua kelompok yang dianggap penghalang oleh Murtopo dan CSIS (kader-kader Pater Beek) ditebas habis. Pihak yang dimusuhi oleh Moertopo bukan cuma Islam, tapi juga perwira-perwira ABRI yang dianggap sebagai perintang. Mereka adalah HR. Dharsono, Kemal Idris, Sarwo Edhi Wibowo, Soemitro (Pangkopkamtib) dll.

HR Dharsono (Pak Ton) difitnah berkonspirasi dengan PSI untuk menciptakan sistem politik baru yang berencana menyingkirkan Soeharto. Kemal Idris dituduh berambisi jadi presiden. Sedang Sarwo Edhie difitnah merencanakan pembatasan jabatan Suharto sebagai presiden. Semua dibabat.

Kader-kader Pater Beek yang mayoritas aktif di CSIS dan terlibat dalam Opsus tahu betul ambisi Ali Murtopo dan strategi Murtopo dalam meraih ambisi. Mereka ikut membantu Ali Murtopo mencapai ambisi berkuasa, sekaligus meraih sukses menggilas dan menyingkirkan Islam.

CSIS – Kader-kader Pater Beek merumuskan kebijakan-kebijakan ORBA yang mencegah Islam tumbuh berkembang menjadi kekuatan politik, ekonomi, militer, dan sosial budaya. Murtopo dan Benny Moerdani sebagai eksekutor kebijakan CSIS dengan mengadopsinya menjadi kebijakan negara.

Pada sebuah acara seminar membahas topik pemilu di kantor CSIS Jl Tanah Abang III Jakarta tanggal 3 September 1996, salah seorang peserta seminar Panda Nababan, wartawan senior Jakarta, tiba-tiba angkat bicara. Nababan menuduh CSIS biang kerok semua masalah bangsa.

Panda Nababan menyampaikan tuduhan keras dan serius bahwa CSIS sebagai lembaga perumus kebijakan rezim Orde Baru dan pusat keputusan politik Indonesia yang dibuat di masa lalu, telah menjadi biang kerok masalah bangsa hingga masa sekarang.

Tidak ada satu pun dari seluruh peserta seminar CSIS yanberani angkat suara mematahkan tuduhan keras serius dari Panda Nababan. Tuduhan Nababan itu disampaikan langsung, blak-blakan dan ‘to the point’, itu menohok semua orang yang hadir di seminar CSIS. Semua terdiam membisu!

Dr. Sudjati Djiwandono, tokoh senior CSIS, pembicara dalam acara seminar itu terlihat sangat kaget dan marah kepada Panda Nababan. Tapi tidak bisa membantah, karena tuduhan Panda Nababan adalah kebenaran!

Tokoh senior sekaligus pendiri CSIS Harry Tjhan, moderator seminar, meski berusaha keras menahan marah, setengah mati menunjukkan air muka tenang mendengar tuduhan sangat serius dari Panda Nababan. Sepanjang seminar yang berlangsung tegang itu, semua terlihat panik dan gugup.

Pembelaan terhadap Islam dan umat Islam, sebagai korban penzaliman dan penindasan ORBA 1971-1988 yang diotaki oleh CSIS – Moerdani – Moertopo, datang dari Panda Nababan, seorang Kristen yang tidak rela, tidak ikhlas, dan tidak terima melihat saudaranya umat Islam RI dizalimi..!!

Sosok seperti Panda Nababan, seorang Tokoh Nasrani yang ikut merasa tersakiti ketika mayoritas Islam Indonesia ditindas, dizalimi, dipinggirkan, dan disingkirkan oleh rezim penguasa. Mungkin sekarang bisa kita lihat hadir pada sosok @marierteman dan @rockygerung. Mereka tampil membela.

Baru pada 7 September 1996, beberapa hari pasca acara seminar, dengan bantuan harian Kompas (harian terkemuka Indonesia yang terafiliasi dengan CSIS dan elit katolik Tionghoa) Harry Tjhan memberikan wawancara khusus, yang intinya membantah semua tuduhan Panda Nababan.

Pada wawancara Kompas dengan bergaya seorang rendah hati, Harry Tjhan mengatakan, adalah salah orang yang menganggap CSIS memainkan peranan penting pada belasan tahun pertama Orde Baru (1971-1988). “CSIS hanya dekat dengan individu penguasa ORBA, tapi bukan dengan pemerintah,” kata Harry Tjhan.

Pada masa ORBA sampai 1988, pendiri CSIS itu mengaku sangat dekat dengan pucuk pemerintahan ORBA. Harry Tjan menyebut diri tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Sudjati Djiwandono dan Liem Bian Kie (Jusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar. Humardani – Ali Murtopo kebetulan Aspri Suharto.

Harry Tjan tidak bisa membantah fakta bahwa Murtopo dan Hurmadani yang menjadi asisten pribadi Presiden Suharto jauh lebih berkuasa dan berpengaruh dari pada menteri kabinet. Bahkan LB Murdani, selaku asisten I/ Inteljen Pangab sering melangkahi atasannya sendiri Pangab M Jusuf.

Kepanikan CSIS menerima tuduhan serius sebagai biang kerok masalah bangsa, sebagai otak penghancuran dan penyingkiran Islam di Indonesia yang dilontarkan oleh Panda Nababan, membuat penjelasannya di harian Kompas saling bertentangan satu sama lainnya.

Harry Tjhan menjelaskan: “Pada prinsipnya CSIS membatasi diri untuk tidak terlibat dalam soal taktis politik. Meskipun demikian CSIS kerapkali diisukan telah melakukan hal itu. Padahal pembahasan masalah dalam negeri yang dilakukan CSIS bersifat strategis konsepsional”.

Ia berdalih, CSIS terbentuk pada tahun 1971, ketika Hadi Susastro dan beberapa teman pulang belajar dari Eropa. Mereka yang mengusulkan dibentuk sebuah lembaga think tank (kajian/kelompok pemikir). Ini mengesankan, seolah-olah CSIS terbentuk semata-mata sebagau inisiatif dan prakarsa Hadi Susastro dkk.

Harry Tjan menyembunyikan fakta bahwa sebelum mereka aktif di CSIS, mereka semua adalah para kader Pater Beek. Mereka sudah berkiprah dalam wadah Operasi Khusus (Opsus) pimpinan Ali Murtopo. Penjelasan Harry Tjan di Kompas tidak menjawab, apalagi mematahkan tuduhan serius Nababan.

Untuk melengkapi penjelasannya di harian Kompas, sebulan kemudian, lewat harian Nusa Tenggara (terbit di Denpasar) edisi 13 Oktober 1996, Harry Tjhan muncul lagi dalam sebuah wawancara yang menggunakan satu halaman surat kabar penuh. Lagi-lagi tidak mampu membantah tuduhan Nababan.

Bahwa CSIS telah berkomplot dengan Ali Moertopo, Sudjono Humardani, dan Benny Mudani, telah menggilas dan melibas Islam di Indonesia. Selama lebih 15 tahun, menghasilkan Islam sebagai kelompok mayoritas marginal dan terpinggirkan di semua sektor kehidupan bangsa.. hingga hari ini !

Hari ini, CSIS kembali menjadi think tank, lembaga perumus kebijakan dan keputusan pemerintahan Jokowi. Tokoh utama CSIS Sofyan Wanandi (Liem Bian Koen) yang anti dan memusuhi Islam, selama puluhan tahun, bahkan menjadi Kepala Staf Wakil Presiden dan Penasihat Presiden !

Tidak heran jika pemerintahan sekarang bersikap dan banyak mengambil keputusan, membuat kebijakan seperti era 1971-1988, yakni memusuhi dan menggilas Islam.

Ada CSIS dan banyak tokoh-tokoh kader Pater Beek di lingkaran rezim ini. Bahkan sampai Dubes RI untuk Inggris pun dijabat tokoh CSIS.

Pada era SBY, banyak tokoh CSIS menduduki posisi penting dan strategis, antara lain Menteri ESDM, Menteri Pariwisata, dan Menteri Perdagangan. Namun kebijakan rezim SBY dapat dinilai tidak merefleksikan kepentingan CSIS dan kader2 Pater Beek; menggilas – menghabisi Islam.

Namun di akhir pemerintahannya, entah apa sebab dan motifnya, Presiden SBY membuka pintu lebar-lebar dan jembatan bagi CSIS untuk berkuasa kembali dan menanam pengaruh dominan melalui dukungannya terhadap pemerintahan Jokowi. (Bersambung)

Sumber: “Sejarah Politik Indonesia Dari Zaman VOC, Masuknya WN China Hingga Peran CSIS” by @AlbertPanjaitn

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password