Bongkar Sejarah: Umat Islam Berjuang untuk Kemerdekaan, tapi Justru Dipinggirkan

kreasi kabarjitu

Saatnya Islam Bangkit (3)

KABARJITU: Kembali ke penjelasan panjang lebar Harry Tjhan yang menanggapi tuduhan Panda Nababan bahwa CSIS dan kader-kader Pater Beek katolik radikal ultra kanan telah menjadi biang kerok masalah bangsa hingga sekarang. Harry Tjan gagal total membantah tuduhan itu.

________

Semua penjelasan Harry Tjhan sama sekali tidak pernah menyebut Opsus dan keterlibatan kaum Katolik ekstrem kanan di CSIS. Termasuk aksi mereka secara sistematis yang menyingkirkan Islam di semua sektor kehidupan bangsa, selama belasan tahun pemerintahan ORBA.

Para aktivis 66 Jakarta tentu masih ingat kantor Opsus di Jalan Raden Saleh Jakarta Pusat. Di bangunan yang sama, para kader Pater Beek kelompok ultra kanan anti Islam berkantor.

Penjelasan Harry Tjhan sama sekali tidak menyebut nama Pater Beek SJ, pastor kelahiran Belanda, tokoh inisiator, agen CIA dan otak di balik kelahiran CSIS. Asal muasal semua penyebab Islam termarginalisasi dan tersingkir dari peran strategis negara.

Pater Beek adalah pastor ordo Jesuit yang sudah aktif sejak era kolonial, sebelum pendudukan Jepang di Indonesia. Selain menjalankan tugas kepastoran, Beek juga melakukan kaderisasi para pemuda dan mahasiswa katolik di Indonesia, terutama di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Beek melakukan kegiatan kaderisasi di asrama Realino Yogyakarta. Kaderisasi juga dilakukan di kawasan Klender, Jakarta Timur. Di Klender, kegiatan kaderisasi yang dilakukan Pater Beek disebut Kasebul atau Khasebul (Kaderisasi Sebulan atau Khalwat Sebulan)

Kasebul bukan pengkaderan biasa. Kegiatan Kasebul bukan cuma indoktrinasi, pengembangan wawasan, kepemimpinan sebagai materi utama, juga diberikan latihan fisik ala militer. Para kader dilatih menghadapi situasi interogasi sebagai tahanan oleh pihak lawan/musuh.

Para peserta Kasebul dilatih dan diajarkan berbagai cara meloloskan diri dari tahanan, bagaimana survive (bertahan hidup di tengah hutan dan sebagai buronan), infiltrasi atau penyusupan ke kubu musuh, melakukan spionase, sabotase dan lain-lain.

Dari materi pengkaderan dan indoktrinasi yang diberikan Pater Beek, dapat disimpulkan bahwa Beek berencana mempersiapkan kader-kader katolik militan ultra kanan, dengan misi utama meraih kendali pada kekuasaan atau menjadi penguasa di Indonesia dengan menghancurkan Islam.

Ketika merebak terorisme, fitnah menuduh Islam radikal, garis keras, anti Pancasila, pembubaran HTI, penangkapan aktivis dan ulama-ulama Islam, memojokan umat Islam, dst… Di situ ada CSIS dan kader-kader Pater Beek di balik semua ini. Seperti ‘Dejavu’ masa ORBA 1971-1988.

Pada awalnya, di Kasebul para kader dilatih, didik, diajarkan semua hal untuk mempersiapkan perang dengan PKI (komunis) pada era Orde Lama. Di masa ORBA, pengkaderan Kasebul beralih tujuan untuk menghancurkan dan menyingkirkan Islam. Mereka menjadi peneliti dan aktivis CSIS.

Sebagian lulusan terbaik Kasebul dikirim untuk belajar di luar negeri. Salah seorang alumnus Kasebul yang dikirim ke luar negeri sebelum Gestapu adalah Louis Wangge. Dia kemudian menjadi wakil komandan Laskar Ampera: Dia dikirim oleh Beek ke Universitas Santo Thomas, Filipina.

Namun di luar pengetahuan banyak orang, Wangge sendiri di kemudian hari mengaku bahwa ia sebenarnya dikirim ke sebuah pusat latihan intelijen di sebuah pangkalan militer Amerika di Filipina.

Pada saat itu, terdapat dua pangkalan militer Amerika di Filipina, yakni Subic Bay Naval Base dan Clark Air Base, yang juga pusat operasi CIA di Asia.

Wangge ungkap semua ini setelah ia dikucilkan oleh CSIS, karena sikap Wangge menolak kebijakan CSIS yang anti Islam.

Di tengah ketegangan antara Wangge dan CSIS, di pertengahan tahun 70-an, Wangge pernah menyundut rokok menyala ke baju Sofyan Wanandi di sebuah kamar kecil Bioskop Menteng (bioskop sudah digusur sekarang). Wangge menolak agenda CSIS menghancurkan Islam Indonesia.

Dr. George Aditjondro pernah menjadi kader Pater Beek dan mengikuti pelatihan Kasebul, guna melawan komunis (PKI). Seperti Wangge, ia mundur ketika CSIS sudah menjadikan umat Islam sasaran penghancuran dan CSIS sudah menjadi wadah pemikir perumus kebijakan Rezim Suharto.

Menurut George Aditjondro, tangan CSIS berlumur darah di Timor Timur. Dia tidak tahan tetap berada dalam jajaran pengikut Pater Beek, terutama setelah kekuasaan dan kontrol CSIS (Liem Bian Kie dan Sudradjat Djiwandono dkk) semakin menguat. Partai Katolik pun digilas CSIS.

Doktrin Pater Beek, CSIS dan alumnus Kasebul sangat menentang kehadiran Partai Katolik. Partai Katolik mustahil bisa menempatkan politisi/tokoh katolik menjadi penguasa. Dengan jumlah katolik hanya 3% di Indonesia, menjadi pengendali kekuasaan lebih mungkin dan menguntungkan.

Eksistensi Partai Katolik Indonesia menurut Beek – CSIS tidak boleh dibiarkan. Partai Katolik hanya menjadi pemecah belah umat Katolik dan penghambat bagi CSIS dan tokoh-tokoh kader Pater Beek (alumnus Kasebul) menjadi penguasa di balik penguasa.

Kekuasaan di Indonesia lebih mudah diraih CSIS dan kader Kasebul – Beek dengan menyebar dan menyusup di semua sektor strategis negara. Mempertahankan doktrin, merangkul militer adalah prioritas utama. Setelah itu menjadi figur sentral di partai-partai politik Indonesia.

Dulu CSIS begitu yakin akan pentingnya menguasai dan mengendalikan Indonesia lewat Golkar. Mereka tega menindas Uskup Atambua (yang mempertahankan Partai Katolik), Uskup yang sebenarnya sangat berjasa dalam proses integrasi Timor-Timur.

Ketika George Aditjondro menjadi wartawan Tempo, pernah mengunjungi Timor Timur sebelum invasi operasi intel pimpinan Benny Moerdani, dan terus mengikuti perkembangan Timor Leste. Ia tahu, bagaimana permainan Moerdani bersama orang-orang CSIS dalam mengeruk uang dari Timor-Timur.

Setelah mereka membantai secara keji banyak penduduk Timor Timur, mereka memonopoli kopi yang dikelola oleh Robby Ketek, cukong asal Solo. Dengan uang itu, mereka membiayai operasi-operasi politik ilegal bersama CSIS, yang sebagian besar ditujukan menghancurkan Islam Indonesia.

Jejak Pater Beek masih bercokol kuat di pemerintahan Indonesia. Semakin kuat di rezim pemerintahan sekarang. Pater Beek, pastor radikal anti komunis ultra kanan/radikal yang bekerja sama dengan BA Santamaria, Pastor anti komunis dari Australia dan Pater Ladania dari Hongkong.

Pater Ladania, pastor Ordo Jesuit juga adalah pengamat China di Hongkong. Pos China Watcher umumnya dibiayai CIA. Maka dapat dimengerti jika Beek mempunyai kontak amat bagus dengan CIA. Kontak-kontak CIA Pater Beek dibina hingga hari ini oleh para kader dan CSIS.

Sebagian pastor Katolik mencurigai Beek sebagai agen Black Pope di Indonesia. Black Pope adalah seorang kardinal yang mengepalai operasi politik Katolik di seluruh dunia. Tentang Black Pope tidak banyak diketahui. Banyak pastor Katolik juga tidak tahu. Sangat rahasia.

Namun mengenai kedudukan, peran, dan operasi Black Pope yang sangat rahasia itu, dapat dirasakan dan disaksikan hasilnya. Dulu, ketika Dr. Sudjatmoko menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, ia pernah berkunjung ke Tahta suci di Vatikan.

Selain berjumpa Paus di Vatikan, DR Sudjatmoko berjumpa seorang Kardinal yang mengajaknya berdiskusi membahas mengenai keadaan sosial politik di Indonesia. Sudjatmoko merasa kagum dan kaget bahwa Kardinal itu tahu sangat banyak dan detail tentang politik di Indonesia

Setelah pulang ke Indonesia, sebagai pensiunan Rektor Universitas PBB, Bos Harian Kompas mengirim utusan bertemu Sudjatmoko. Utusan Kompas itu meyakinkannya agar ia tidak usah cemas masalah finansial. Kalau ada perlu butuh apapun Kompas siap bersedia membantu Sudjatmoko

Dari tawaran simpatik Kompas itu, Sudjatmoko yakin ada kontrol besar Black Pope terhadap kegiatan Katolik di Indonesia dan ada keterlibatan Black Pope dalam kegiatan politik Indonesia.

Masih diteliti/diselidiki, berbagai peristiwa penting yang sudah dan sedang terjadi di Indonesia. Khusus menjelang pilpres 2019. Sebagian sudah berhasil disusun/dipetakan peran masing-masing: CSIS, Kasebul, AS, China-Komitern, jenderal-jenderal eks binaan Moerdani Moertopo, SBY dst.

Kita bangsa Indonesia, apa pun suku dan agamanya, adalah bersaudara. Sekarang Islam disingkirkan dan dihancurkan, besok lusa Kristen, Katolik, Hindu, Budha dst dapat giliran. Karena mereka sebenarnya bukan orang beriman. Iman mereka adalah kekuasaan. Menjadi penguasa dengan segala cara. (Tamat)

Sumber: “Sejarah Politik Indonesia Dari Zaman VOC, Masuknya WN China Hingga Peran CSIS” by @AlbertPanjaitn

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password