Ngeri, Indonesia Dihantui Perang Bubat, Seperti Prediksi Nostradamus

kreasi kabarjitu

KABARJITU: Di penghujung tahun 2017, beredar informasi bahwa pada tahun 2018 akan terjadi perang di Indonesia. Jika informasi itu disebut sebagai ramalan, maka bisa jadi merujuk pada prediksi seorang peramal Prancis, Nostradamus, yang sudah ada sejak abad ke-16.

_________

Memang, beberapa ramalannya sudah mulai terkuak kebenarannya. Sebut saja soal kebangkitan Napoleon dan Hitler, serta serangan menara kembar WTC 11 September.

Seorang peneliti bernama Alessandro Bruno, seperti dikutip dari Express.co.uk menyebut, ramalan Nostradamus yang menyatakan bahwa akan terjadi perang di tahun 2018, bisa jadi bakal terjadi.

“Prediksi Nostradamus tahun ini bisa jadi benar, termasuk adanya kemungkinan terjadi perang dunia ke-3. Dari semua prediksi untuk 2018 ini, ada satu kesamaan, yakni energi negatif akan semakin tinggi,” ujar Bruno.

Menurut buku Les Propheties dari Nostradamus, kata Bruno, perang dunia ke-3 akan terjadi. Benih itu sudah muncul, yakni sejak Rusia dan Amerika kembali memunculkan ketegangan setelah 30 tahun lalu. (viva.co.id)

Perang tersebut akan melibatkan China, Rusia, dan Korea Utara yang bersatu melawan Amerika. Bahkan, Indonesia pun akan terdampak. Pasalnya, sudah sejak berabad-abad silam, Indonesia selalu dijadikan wilayah yang diperebutkan negara-negara maju.

Portugis mulai menjajah Indoesia pada tahun 1511 dan berakhir tahun 1602. Bersamaan dengan Portugis, Spanyol pun ikut menjajah Indonesia (di Tidore dari tahun 1527-1534).  Pada 1602, Belanda mulai menguasai Indonesia dan baru berakhir setelah lebih dari 350 tahun.

Bahkan, sejarah juga mencatat, ketika Belanda masuk ke Indonesia, China tengah menguasai perdagangan, bersama Inggris. Kedua negara ini memonopoli pusat perdagangan di Banten.

Lepas dari Belanda, Amerika pun bernafsu ingin menguasai Indonesia. Begitu juga dengan Jepang, yang akhirnya menjadi penjajah Indonesia selama 3,5 tahun.

Penjajahan Ekonomi
Pada pertengahan abad ke 20, terjadi proses dekolonisasi, antara tahun 1945-1955. Di era ini, negara-negara yang merdeka selain Indonesia adalah Libanon (22 November 1943), Filipina (4 Juli 1946), Yordania (22 Maret 1946), India dan Pakistan (15 Agustus 1947), Myanmar atau Burma (4 Januari 1948), Vietnam (20 Juli 1954) dan Srilangka (4 Febuari 1948).

Namun, bukan berarti penjajahan terhadap Indonesia sudah benar-benar berakhir. Pasca diproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945, China sempat menjalin hubungan erat dengan Indonesia melalui Partai Komunis.

Hubungan mesra Indonesia-China diakhiri oleh adanya intervensi Amerika Serikat. Gerakan intelejen Amerika berhasil memporak-porandakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965.

Setahun kemudian, tepatnya pada 1966, gerakan intelejensi Amerika berhasil membangun kekuatan baru di Indonesia melalui tangan Soeharto. Supporting yang kuat Amerika terhadap Orde Baru, esensinya merupakan bentuk penjajahan gaya baru (neokolonialisme).

Di era ini, penjajahan fisik sudah tidak lagi populer seiring dengan berakhirnya Perang Dunia II. Karena itulah, penjajahan pun diubah, menggunakan kedok kerjasama dengan dalih menggali potensi alam untuk pembangunan.

Lalu, dibuatlah kesepakatan antara pemerintah Soeharto dengan Amerika. Sejumlah kekayaan alam “diserahkan”, mulai dari tambang minyak sampai tambang emas, termasuk tambang emas di Papua, yang dikenal dengan Freeport.

Perusahaan-perusahaan Amerika pun berbondong-bondong masuk ke Indonesia untuk mengeruk kekayaan alam.

Dominasi AS Pudar
Pada 2014, dominasi kekuatan Amerika mulai pudar, seiring direbutnya kekuasaan oleh China melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Supporting China pun berhasil menjadikan Joko Widodo sebagai orang nomor satu di Indonesia.

Sontak, bak membalaskan dendam lama, China yang ditumbangkan Amerika di tahun 1965, melakukan gerakan cepat kilat. Mungkin, China tak ingin kejadian serupa terulang. Karenanya, sejak di tahun pertama Jokowi menduduki Istana Negara, sejak itu pula intens melakukan kerjasama dengan China.

Dalih yang dipakainya adalah investasi di bidang infrasruktur. Mulai dari jalan tol sampai kereta api cepat. Tak terkecuali sektor pertambangan.

Salah satunya pertambangan emas di Maluku Utara yang diserahkan kepada China. Dikabarkan, China menggelontorkan uangnya sebesar Rp70 triliun.

Bahkan, bukan hanya emas, China juga diperbolehkan menambang yang lain, karena tanah di Hamahera mengandung Batubara, Nikel, Tembaga, Biji besi, Gas, Minyak dll.

Dikabarkan, potensi emas di Halmahera 5x lipat lebih besar dari tambang emas yang ada di Papua milik Freeport .

Karenanya, tambang emas di Halmahera diserahkan oleh pemerintah Jokowi kepada China melalui PT Nusa Halmahera Minerals dan PT Sanatova.

Sebelumnya, ketika Jokowi penggebrak Freeport dengan ancaman akan mengambil alih pengelolaannya, Amerika kebakaran jenggot. Sebab, Amerika sudah membaca, pengelolaan Freeport akan diserahkan ke China.

Amerika pun buru-buru melobi China dengan konvensasi lahan tambang emas di Halmahera. China pun setuju, karena potensinya memang jauh lebih besar dibanding Freeport.

Sejak kesepakatan itu terjalin, Jokowi pun membatalkan pengalihan tata kelola Freeport dan dikembalikan lagi kepada Amerika, tanpa ada perubahan perjanjian yang signifikan.

Perlawanan terhadap Rezim
Agresifitas China di Indonesia dalam kurun waktu 3 tahun ini (2014-2017), pada akhirnya melahirkan perlawanan. Salah satu bentuk ke-agresif-an yang dipertontonan Ahok saat menjadi Gubernur DKI, khususnya yang terkait proyek reklamasi, menjadi awal lahirnya perlawanan. Disusul proyek Meikarta dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Gelombang perlawanan dari kubu oposisi (Partai Gerindra dan PKS, yang didukung kemudian oleh PAN dan terakhir PBB), terus bergulung-gulung hingga mengundang dukungan dari publik Muslim.

Bahkan, sampai sekarang, apa pun statemen, perilaku, aktivitas, atau event yang dilakukan kedua kubu, pasti akan dijadikan sasaran tembak. Masing-masing kubu akan menembak kubu lawannya.

Dan, media sosial menjadi arena “perang bubat” kedua kubu. Malahan, media sosial kini telah berubah menjadi rujukan media mainstream. Tak terkecuali televisi, yang seringkali mengangkat isu perseteruan ke dalam forum diskusi.

Sudah cukup banyak statemen, perilaku, aktivitas, atau event yang menjadi energi negatif perpecahan antar publik. Terakhir adalah event CFD antara pengguna kaos berhastag #2019GantiPresiden dengan #DiaSibukBekerja.

Awalnya, kubu pendukung #DiaSibukBekerja menuding kubu #2019GantiPresiden telah melakukan intimidasi kepada warga pengguna kaos #DiaSibukBekerja yang berada di kerumunan pengguna kaos #2019GantiPresiden.

Pertikaian kedua kubu ini menjadi viral di medsos, hingga salah satu TV Swasta mengangkat isu ini dengan menghadirkan kedua kubu.

Dalam acara yang ditayangkan Rabu (2/4/2018) malam itu, pihak #2019GantiPresiden yang diwakili Mustofa Nahrawardaya (Aktivis #2019GantiPresiden), dan Ferry Juliantono (Gerindra) balik menuding kubu #DiaSibukBekerja, yang telah merekayasa insiden berbau intimidasi itu.

Serangan balik itu dilandasi temuan Aktivis #2019GantiPresiden bahwa pelaku intimidasi dan korban intimidasi ternyata sama-sama satu kubu di #DiaSibukBekerja. Buktinya, mereka menggunakan gelang yang sama, sebagai kode untuk membedakan pendukung #2019GantiPresiden yang asli dengan penyusup.

Misalnya, gelang yang dipakai oleh Susi Ferawati sebagai korban intimidasi, juga dipakai oleh pelaku intimidasi yang mengenakan kaos #2019GantiPresiden. Intimidasi dilakukan dengan mengibas-ngibaskan uang. Bahkan, gelang yang sama juga dipakai Susi Ferawati saat melaporkan ke polisi.

Gelang sama juga dipakai oleh anak-anak yang memakai kaos seragam #DiaSibukBekerja. Begitu juga dengan kedua pria yang saat kejadian CFD mengaku dari Polda Metro Jaya, lalu merebut atribut dan kaos #2019GantiPresiden.

“Kenapa mereka memakai gelang yang sama? Ini luar biasa, kenapa kodenya sama? Jangan-jangan ini operasi intelijen yang luar biasa, ini temuan di video,” kata Mustofa.

“Maka logikanya orang-orang yang di video itu yang pakai gelang yang sama tangkap semua, periksa semua,” lanjut Mustofa.

Kalajengking Jokowi
Suhu panas kaos bertagar di CFD belum reda, muncul lagi insiden baru. Kali ini dalam format statement. Yakni sebuah pernyataan yang disampaikan Jokowi bahwa “Kalau mau kaya, cari racun kalajengking”.

Tak pelak lagi, statement yang terdengar aneh itu pun bergulir menjadi isu politik. Seperti biasa, partai oposisi menjadikannya sebagai sasaran tembak. Sedangkan partai pendukung langsung memasang tameng pembelaan.

Pembahasan racun kalajengking itu disampaikan Jokowi saat membuka Musrenbangnas Penyusunan RKP 2019 di Hotel Gran Sahid, Jakarta, Senin (30/4/2018).

Ketika itu, Jokowi menyebut, “Ada fakta yang menarik, yang saya dapat dari informasi yang saya baca. Komoditas yang paling mahal di dunia adalah racun scorpion, racun dari kalajengking. Harganya USD 10,5 juta, artinya Rp 145 miliar per liter. Jadi kalau mau kaya, cari racun kalajengking,” kata Jokowi.

Akhirnya, pernyataan Jokowi ini ramai diperdebatkan di media sosial. Dari mulai elite parpol sampai masyarakat umum saling melontarkan sindiran dan pembelaan.

Barangkali, bagi elit politik, saling sindir, kritik, bahkan saling hujat, menjadi hal biasa. Mereka bisa saling serang saat di forum, tapi kembali ngopi bareng sambil ketawa-ketiwi di cafe-cafe atau warung kopi jalanan.

Tapi, bagi masyarakat umum, saling sindir, kritik, dan hujat, bisa berujung pada permusuhan, pemutusan tali silatirahmi, bahkan saling gontok-gontokan.

Tidak mustahil, situasi dan kondisi seperti ini merupakan embrio terjadinya perang saudara. Bagai api dalam sekam, tampaknya pantas dijadikan tagarnya.

Betapa tidak, jika secara global terjadi perang antara kubu China, Rusia, dan Korea dengan kubu Amerika, Arab Saudi, dan Eropa, maka di Indonesia pun akan terjadi hal sama.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password