Kinerja Garuda Indonesia Turbulensi dan Terancam Nyungseb

kreasi kabarjitu

JAKARTA (kabarjitu): Pendapatan per bulan untuk seorang pilot senior Garuda Indonesia Airlines bisa mencapai Rp 150 juta. Angka ini belum dihitung segudang fasilitas yang didapatkan, seperti tunjangan kesehatan, asuransi, sampai tunjangan pensiun.

_______

“Untuk pilot saja bisa sampai ratusan juta, lalu bagaimana dengan jajaran direksinya?” ungkap Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman melalui siaran pers yang diterima Kabarjitu, Jumat (11/5/2018).

Menurut Jajang, tentu saja pendapatan direksi jauh lebih besar. Di tahun 2016 contohnya, BUMN ini perbulannya butuh Rp 1,7 miliar hanya untuk gaji satu orang direktur.

“Dengan jumlah 4 orang direktur saat itu, uang negara yang dikeluarkan dalam satu tahun bisa sampai Rp 20 miliar. Itu hanya untuk gaji, belum tunjangan lainnya,” ujar Jajang.

Puluhan miliar uang negara yang dikeluarkan untuk jajaran direksi Garuda, kata Jajang, ternyata tidak serta merta meningkatkan kinerja perusahaan pelat merah tersebut. Hal ini bisa dilihat dari laporan kerja operasional PT Garuda, di mana pertumbuhan penumpang dari tahun ke tahun justru mengalami penurunan.

Dalam kurun waktu 2013 ke 2014, pertumbuhan penumpang garuda sanggup menyentuh angka 4.174.038 orang.

Namun pada tahun selanjutnya, antara 2014 ke 2015, pertumbuhan penumpang Garuda justru menurun drastis menjadi 3.821.750. Terdapat penurunan yang sangat tinggi, yakni 352.288 penumpang.

Lebih parah lagi jumlah penumpang di tahun 2015 ke 2016, dimana Garuda hanya sanggup menggaet 2.038.820 penumpang. Ini berarti maskapai penerbangan milik negara ini kehilangan pelanggan sebanyak 1.782.930.

Di tahun 2016, garuda benar-benar jatuh. Bahkan Rini Soemarno, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sampai turun tangan, mengganti direktur utama (Dirut) garuda Arif Wibowo.

Anehnya, meskipun sudah diisi Dirut baru, yakni Pahala N Mansury, di tahun 2017 kinerja Garuda masih terseok-seok.

Pertumbuhan penumpang di tahun 2017 masih stagnan di angka 2.936.181. “Jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2013-2014 sebanyak 4.174.038 orang, maka tahun 2017 juga masih sangat jauh,” ujar Jajang.

Menurut Jajang, merosotnya pertumbuhan penumpang dari tahun ke tahun, dampaknya sangat fatal. “Bisa-bisa Garuda nyungseb menuju ke arah kebangkrutan. Pasalnya, Garuda ditaksir merugi sampai Rp 2 triliun pada akhirnya tahun 2017,” ungkap Jajang.

Pada akhir Maret 2018, Garuda Indonesia juga merugi hingga sebanyak USD 67.572.839 atau setara dengan Rp 878.446.907.000.

“Sangat disayangkan, maskapai kebanggaan masyarakat Indonesia tak lagi terbang tinggi mencapai prestasi. Malah nasibnya terseok-seok, jauh tertinggal dari maskapai milik negara tetangga seperti Singapura Airlines,” pungkas Jajang.

Direksi Gak Ngerti Penerbangan
Presiden Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) Captain Bintang Hardiono mengungkapkan, secara umum, kinerja Garuda juga bisa dilihat melalui harga saham yang turun sejak tahun lalu.

“Harga saham awal mula Rp 750 per lembar turun zaman mereka tahun kemarin Rp 480, sekarang di bawah Rp 290. Minimal rakyat pada tahu bahwa kami kondisinya kayak begini,” ucap Bintang seperti dikutip Kompas.com.

Bintang menjelaskan, awal mula kekecewaan para pilot dan karyawan memuncak melalui ancaman mogok kerja.

Latar belakang kekecewaan, kata Bintang, pada April 2017, rapat umum pemegang saham (RUPS) memutuskan untuk menghapus posisi direktur operasi dan direktur teknik di internal perusahaan.

“Tanpa ada kedua direktur itu berarti tidak ada penanggung jawab dalam audit Airport Operating Certificate (AOC). AOC itu istilahnya surat trayeklah kalau punya mikrolet,” kata Bintang.

Karyawan dan pilot memprotes. Kemudian Direktur Utama Pahala Nugraha Mansury pengangkatan direktur operasi dan direktur teknik tanpa melalui mekanisme RUPS.

Masalah pun berkembang ke hal-hal teknis. Karena banyak Board of Directors atau Dewan Direksi Garuda Indonesia yang latar belakangnya bukan dari dunia penerbangan, melainkan dari perbankan.

Akhirnya muncul kebijakan yang bertentangan dengan para pilot dan karyawan, misalnya meniadakan mobil jemputan untuk kru kabin. Akibatnya, bayak kasus kecelakaan yang menimpa para kru.

“Pilot mikirnya safety, karena bisa pulang pukul 02.00 atau 04.00 pagi. Alasan perusahaan, di luar negeri bisa kok naik angkutan umum. Kok disamain sama luar negeri, kan di sana kereta bus tepat waktu, di sini gimana tepat waktu?” tutur Bintang.

Bintang juga megungkapkan, sebelumnya direksi hanya 6 orang, kemudian jadi 9 orang plus Direktur Kargo. “Karyawan dipotong hak-haknya, tapi direksinya membengkak. Kalau direksi, kan, paling tidak mobilnya Alphard,” sebut Bintang.

Atas dasar hal-hal tersebut, APG bersama Serikat Bersama Serikat Karyawan Garuda Indonesia menuntut penggantian direksi yang dianggap tidak paham cara kerja dunia penerbangan. Mereka juga memberi tenggat jika 30 hari tuntutannya tidak dipenuhi, pilot dan para kru akan mogok kerja.

Bintang menyampaikan, ancaman mogok kerja ini selain sebagai bentuk protes, juga untuk memberi tahu kepada khalayak bahwa kondisi Garuda memang seperti itu.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password