Dilema Facebook Jokowi, Maksud Hati Produksi Citra,  Apadaya Hoax yang Sampai

kreasi kabarjitu

JAKARTA (kabarjitu): Tahun lalu, tepatnya di bulan Juni 2017, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ‎mengajak masyarakat agar menghentikan penyebaran berita bohong atau hoax di media sosial (medsos). 

___________________________

‎”Marilah bersama-sama kita hentikan penyebaran berita bohong atau hasutan yang mengandung fitnah dan kebencian di sosial media,” kata Jokowi dalam keterangan pers, Kamis (8/6/2017). (sindonews.com)

Sebelumya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan fatwa yang menyebutkan, setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan.

MUI juga mengharamkan aksi bullying, ujaran kebencian serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras atau antargolongan.

Haram pula bagi umat Muslim yang menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup. (kompas.com, Kamis, 8 Juni 2017)

Namun, memang lidah tak bertulang, mudah berkata-kata, tapi sulit melakukannya. Ajakan Jokowi yang selayaknya dibarengi dengan tindakan, justru berbalik punggung.

Baru-baru ini, ada kabar tak sedap. Akun Facebook Jokowi malah dinilai sebagai penyebar hoax. Akibatnya, warganet pun membanjiri caci maki melalui beragam komentarnya.

Sebagian besar warganet menyebut, selama ini Jokowi gencar memerangi hoax, namun kali ini justru dituding sebagai orang yang telah menyebarkan hoax.

Kabar hoax yang dimaksud warganet adalah tulisan yang dimuat di akun Facebook Presiden Joko Widodo.

Postingan tersebut berisi perjalanan Jokowi saat menghadiri haul ke-13 ulama kharismatik, Kiai Haji Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari di Martapura, Kalimantan Selatan, 26 Maret lalu.

Di dalam akun itu pun diposting foto Jokowi yang tengah dudu bersama jamaah yang hadir pada acara haul tersebut.

Barangkali, jika postingan tersebut hanya memuat foto-foto Jokowi pada acara haul, warganet pun tak akan melemparkan caci dan makan. Namun, justru ada tulisan yang  menyebut bahwa Jokowi berjalan kaki hingga 1 kilometer untuk menembus kerumunan jamaah.

Postingan dimaksud adalah; “Saya yang datang dari Jakarta sampai berjalan kaki satu kilometer menembus lautan jamaah untuk tiba di lokasi pengajian di Musala Ar-Raudhah.”

“Mereka yang hadir bukan hanya dari Martapura, tapi juga dari luar Kalimantan, bahkan Malaysia dan Singapura. Mereka begitu mencintai Guru Sekumpul, panggilan takzim jamaah untuk Kiai Haji Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari yang berpulang pada 10 Agustus 2005 dalam usia 63 tahun.”

“Semasa hidupnya, Guru Sekumpul begitu kharismatik dan populer di Kalimantan. Ia juga meninggalkan banyak karya tulis. Petuahnya bagi seluruh umat Islam yang selalu ia tekankan adalah menghormati ulama dan orang tua, berbaik sangka terhadap muslimin, murah harta, manis muka, jangan menyakiti orang lain, mengampunkan kesalahan orang lain, jangan bermusuh-musuhan, jangan tamak atau serakah, berpegang kepada Allah, pada kabul segala hajat dan yakin keselamatan itu pada kebenaran.”

Karuan saja, tulisan itu pun dibantah oleh salah satu saksi mata yang juga hadir dalam acara itu. Bantahannya dituliskan melalui akun Facebook Rendra Seman Al-Banjari.

Tulisan itu menyebut, Jokowi tidak jalan kaki satu kilometer saat menghadiri haul.

Untuk membuktikan keterangannya, Rendra mengunggah video detik-detik kedatangan Jokowi di acara haul Guru Sekumpul itu.

Memang, dalam video tersebut tampak jelas bahwa Jokowi tiba di tempat acara dengan mengendarai mobil. Bahkan dengan pemangaman lengkap.

“Kedatangan beliau ke langgar Arraudah sekumpul bukan jalan kaki sebagaimana yg di tuliskan di halaman FB beliau, beliau naik mobil dan full keamanan seperti keamanan seperti biasa, jdi klw ada yg mengatakan beliau jalan kaki sepanjang 1KM BOHONG. Bisa di lihat di dlm video saya, klw paspamres yg jalan kaki iya, kebetulan saya sma” paspamres jalan kaki nya,” tulis Rendra Seman Al-Banjari, Selasa (26/3/2018).

Ia menambahkan, haul Kiai Haji Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari merupakan agenda tahunan.

“Klw ada berita media yg khususnya mendukung pak jokowi yg mengatakan bahwa pihak klwrga Guru Sekumpul berharap kedatangan pak jokowi itu bohong besar, dan setelah acara kelar beliau hanya saliman dan langsung balik kanan alias pulang.”

“Alhamdulilah beliau sangat hormat dengan peraturan yg di buat oleh pihak klwrga Abah Guru, Tidak ada pidato/sambutan dan tidak ada sambutan khusus utk menyambut kedatangan beliau dan rombongan.”

Di akhir postingannya, akun Rendra Seman Al-Banjari mengaku, dirinya hanya meluruskan apa yang sedang ramai diperbincangkan di sosmed tentang Jokowi jokowi hadir di Haul Abah Guru Sekumpul.

“Karna menurut petugas jamah’ah yg hadir -+ 1 juta orang 😇, Sekaligus bsa menjadi rujukan utk pilpres 2019. Mohon maaf sblmnya jika ada yg kurang atau belebih dri postingan saya.”

Tanggapan Warganet
Tulisan kontra aksi itu langsung ditanggapi warganet. Bahkan, postingan Rendra pun banyak yang men-screenshot untuk dibagikan ke grup-grup atau publik di berbagai media sosial.

Tak hanya itu, warganet pun ramai-ramai membuat komentar negatif di akun Facebook Jokowi.

“Tolong yg bikin hoax di tangkap, eh yg ngomong juga bikin hoax. Ayo tangkap rame2,” komentar akun Yudha Yusitra Adiputra.

“Teriak2 berantas hoax malah tukang hoax, jangan2 teriak2 berantas korupsi malah tukang korupsi pula,” tulis Muhammad Shobriamli.

“Jalan kaki? Ada jamaah bilang pake mobil pak? Trs 4 th yg lalu pernah hadir di acara haul ini, wong baru hadir kali ini ko wkwkwk kebohongan apalagi yg akan dicitrakan persi on to hod pak?,” tambah Endin Syawaludin.

“Yg jelas banyak saksi saja berbohong apalagi yg tanpa saksi, akan tetapi sebaik baik rencana hanya Alloh yg punya,” pungkas Sukiyo Q-yo.

Melawan Hoax dengan Hoax
Atas viralnya kabar hoax berhoax tersebut, Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid pun ikut komentar.

Melalui akun Twitter pribadinya @hnurwahid, ia meretweet cuitan @BangPino_ yang menyebut Jokowi bohong jalan kaki 1 kilometer saat menghadiri haul seorang kiyai di Martapura, Kalimantan Selatan.

Selama ini, kata Hidayat NW, pemerintahan Jokowi gencar memerangi hoax. Jokowi juga pernah menyebut orang yang mengkritik pemerintah jangan asal bunyi (asbun) atau ngibul. Tapi justru akun Facebook Jokowi menyebarkan hoax.

“Waduh kok bisa begini ya? Bukankah lagi digencarkn perang lawan hoax? Dan lagi ramai #Jangan Ngibul dan #Jangan Asbun?!!!,” cuit Hidayat Nur Wahid, Kamis (29/3/2018).

Sementara itu, Analis Politik & HAM Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga mengatakan, kemungkinan yang posting bukan Jokowi.

“Kalau menurut saya, FB Pak Jokowi tersebut bisa saja bukan dioperasionalkan oleh Pak Jokowi sendiri, tapi oleh orang-orangnya atau pendukungnya,” imbuhnya.

“Untuk mengantisipasi penggunaan akun yang mengatasnamakan Pak Jokowi, pihak Istana harus menunjuk seseorang atau juru bicara yang mengelola akun FB resmi Pak Jokowi,” tandasnya.

Ada Kebodohan
Setelah kabar penyebaran hoax yang diposting akun FB Rendra tersebut viral di hampir semua media sosial, postingannya pun langsung didelete.

Kini, yang beredar di berbagai media sosial hanya dalam bentuk screenshot.

Bisa jadi, pemilik akun FB Rendra merasa khawatir akan terjadi hal-hal yang dinginkannya. Apalagi, pemerintah saat ini sangat sensitif terhadap suara-suara publik. Walaupun suara itu bernilai kebenaran.

Seperti yang telah dialami Buni Yani, yang divonis bersalah oleh majelis hakim, karena telah menyebarkan pidato Ahok saat berpidato di Kepulauan Seribu. Sebab, rangkaian peristiwa keduanya relatif mirip.

Awalnya, sebagaimana kasus Ahok, orang pertama yang mengupload video adalah pihak Pemprov DKI. Begiti juga dengan postingan Jokowi. Pihak pertama yang mempostng adalah akun Presiden Jokowi. Rendra hanya menuliskan  klarifkasi kejadian sesuai yang disaksikannya.

Dari dua kasus ini, tampak jelas ada kecerobohan. Sebuah kecerobohan yang diakibatkan kebodohan.

Seperti disampaikan Analis Politik & HAM Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga bahwa penulis postingan itu bisa dipastikan bukan langsung dari Jokowi, tapi dari operatornya.

Artinya, kecerobohan telah dilakukan si operator. Tapi, muncul pertanyaan, mungkinkah operator berani memposting langsung tulisan itu tanpa sepengetahuan Jokowi?

Padahal, postingan dilakukan pada 28 Maret 2018 pukul 09.10 WIB. Sedangkan tanggapan dari akun Rendra pada 26 Maret 2018 pukul 11.17 WIB. Artinya, ada selang waktu 3 jam 7 menit, dimana postingan akun FB Presiden Jokowi itu sudah menyebar.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password