Di Tubuh Kemenkes Ada Kasus Lebih Menjijikan dari Cacing

kreasi kabarjitu

JAKARTA (kabarjitu): Dari hasil uji labaoratorium BPOM, ada 27 merek produk ikan makarel positif mengandung parasit cacing.

Menanggapi kasus itu, Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek justru menyebut bahwa cacing di dalam ikan makarel mengandung protein.

Cacing tersebut, kata Moeloek, tidak berbahaya selama makanan itu diolah dengan benar.

“Setahu saya itu kan nggak dimakan mentah, kita kan goreng lagi, atau di masak lagi, cacingnya mati lah. Cacing itu sebenarnya isinya protein, sebagai contoh aja. Tapi saya kira kalau udah di masak kan saya kira juga steril. Insya Allah gak jadi,” kata Menkes di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (29/3/2018) lalu.

Pernyataan Moeloek pun medapat tantangan dari seorang Urologist (ahli bedah saluran kemih dan reproduksi pria), Gunawan. Melalui akun Twitternya, @dr_gundi, Gunawan mengatakan,“Coba bu menterinya kasih contoh dulu ke kita , beli makarel yg ada cacingnya silahkan dimasak dulu sblm dimakan…oke prof @NilaMoeloek”

Lebih Jijik dari Cacing
Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman menyatakan,
statement Nila Moeloek tersebut membuat panas hati.

“Bagaimana bisa seorang menteri berucap seenak udelnya bahwa cacing dalam sarden boleh dimakan. Rasanya terlalu pongah, karena merasa diri bergelar Profesor Doktor sehingga menyatakan bahwa cacing mengandung protein dan boleh dimakan masyarakat,”  kata Jajang melalui rilisnya yang diterima kabarjitu, Senin (2/4/2018).

Jajang melihat, pernyataan itu tak lebih dari sebuah kelakar yang menjijikan. Sayangnya, kata Maman, Moeloek tidak memberikan contoh langsung, bagaimana caranya makan cacing yang bagi kebanyakan orang menggelikan.

Jajang mengungkapkan, jika di dalam sarden Makarel ada cacing, maka di tubuh kementerian yang dipimpin Nila Moeloek, ada yang lebih menjijikan dari cacing, yakni dugaan kongkalikong duit rakyat.

Center for Budget Analysis (CBA) menemukan kasus dugaan pencurian uang rakyat itu sudah berlangsung selama dia menjabat (4 tahun lama (2014-2018).

CBA menjabarkan, setiap tahun Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan memiliki kegiatan Pekerjaan Cleaning Service. Terkait kegiatan ini ditemukan banyak kejanggalan dalam pelaksanaannya.

Contohnya, Pekerjaan Cleaning Service yang dikerjakan oleh satuan kerja Rumah Sakit Umum Dr Cipto Mangun Kusumo Jakarta.

Sejak menteri kesehatan Nila Moeloek memimpin tahun 2014, dugaan kongkalong antara oknum pejabat Kemenkes dengan pihak swasta (dalam proyek cleaning service) terus berjalan sampai 2018.

Misalnya, anggarannya dari tahun ke tahun selalu meroket, padahal pengerjaannya di ruang lingkup yang sama, yakni  di RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo Jl Diponegoro No. 71 Jakarta  Pusat.

Berikut rinciannya:
1. 2014 Anggaran sebesar Rp 18,2 miliar
2. 2015 Anggaran sebesar Rp 24,2 miliar
3. 2016 Anggaran sebesar Rp 27,1 miliar
4. 2017 Anggaran sebesar Rp 26,7 miliar
5. 2018 Anggaran sebesar Rp 38,2 miliar

Total anggaran yang disiapkan Kemenkes terkait proyek Cleaning Service di Rumah Sakit Umum Dr Cipto Mangun Kusumo Jakarta untuk 5 tahun sebesar Rp 134,6 miliar lebih.

“Dari anggaran yang disiapkan, seperti disajikan di atas, uang negara yang dihabiskan sebesar Rp126,7 miliar lebih,” kata Jajang.

Detailnya sebagai berikut:
1. Tahun 2014 PT Tirta Maz Dua tiga, nilai kontrak sebesar Rp16.996.728.200
2. Tahun 2015 PT Spectra Jasindo, nilai kontrak sebesar Rp20.860.140.000
3. Tahun 2016 PT Tirta Maz Dua tiga, nilai kontrak sebesar Rp 26.568.850.286
4. Tahun 2017 PT Sapta Sarana Sejahtera, nilai kontrak sebesar Rp25.943.873.271
5. Tahun 2018 Perusahaan Provices Indonesia  nilai proyek sebesar Rp36.416.932.665

Menurut Jajang, anggaran yang terus naik dengan tidak wajar itu, mengindikasikan penentuan pagu anggaran serta Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang dibuat oleh pejabat pembuat komitmen (PPK) sengaja ditinggikan, agar membuka celah untuk permainan selanjutnya.

Seperti satu perusahaan yang mendapatkan dua kali proyek Cleaning service, yakni PT Tirta Maz Dua tiga. Dengan nilai kontrak sebesar Rp 43,5 miliar lebih.

Menurut Jajang, modus dimenangkannya beberapa perusahaan yang tawaran kontrak jauh lebih mahal, menjadi tidak kentara. Sebab, sejak awal, memang HPS yang ditetapkan sudah kelewat tinggi.

Contohnya, proyek pekerjaan service di tahun 2018. Dari 62 peserta lelang yang mendaftar, Perusahaan Provices Indonesia yang dimenangkannya menawar pekerjaan dengan nilai kontrak Rp 36, 4 miliar lebih. Padahal ada perusahaan lain yang menawarkan harga lebih murah, seperti PT Pinang Jaya Abadi senilai Rp 33,2 miliar. Ada selisih yang cukup jauh, yakni Rp 3,1 miliar lebih.

Secara keseluruhan, CBA mencatat, proyek Cleaning Service Kemenkes di RSCM Jakarta, terdapat potensi kebocoran anggaran sebesar Rp 8,7 miliar lebih. “Untuk potensi kerugian negara bisa lebih besar lagi, mengingat proyek tersebut bernilai ratusan miliar,” ungkap Jajang.

Berdasarkan temuan di atas,  CBA mendorong pihak berwenang, khususnya KPK agar segera membuka penyelidikan. “Jika perlu, Menteri Kesehatan Nila Moeloek ikut dipanggil untuk dimintai keterangan,” ujar Jajang.

Karena selain di RSCM, masih banyak proyek sejenis di rumah sakit lainnya di bawah tanggung jawab menkes yang terindikasi menjadi bancakan oknum tidak bertanggung jawab jika terus dibiarkan. (Mahmud H)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password