SRI LANKA MASUK PERANGKAP UTANG CHINA

kreasi kabarjitu

ADA berita yang dilansir surat kabar Asia Times dan itu sangat mengusik. Bukan hanya sekadar mengusik namun juga sangat mengagetkan, apalagi judulnya “Hambantota port in Sri Lanka has been taken over by China for 99 years.”

*****

Dengan judul berita tersebut, tentu membuat kita semakin penasaran dan sederet pertanyaan pun bermunculan di kepala. Ada apa dengan negara Sri Lanka.

Bahkan dalam laporan berita disebut bahwa Sri Lanka sebagai “The Victim of China’s Debt-Trap Diplomacy”.

Yang cukup menampar, disebutkan bahwa China mendapat hak mengelola dan mendapat keuntungan Pelabuhan Hambantota milik Sri Lanka selama 99 tahun. Hak tersebut diperoleh China sebagai bagian dari kesepakatan pengurangan utang atau the debt-reduction deal.

Penyebabnya memang pemerintah Sri Lanka tak mampu membayar utang yang telah menumpuk kepada China. Sri Lanka tak sendirian, ada beberapa negara yang terseok-seok membayar utang China, di antaranya Djibouti, Yunani, Kenya, Namibia, Laos, Turkmenistan, dan Zaire.

Bisa jadi akan menyusul beberapa negara lainya yang masuk perangkap “China’s Debt-Trap Diplomacy” ?

Pengambilalihan Pelabuhan Hambantota terjadi pada akhir 2017. Saat jatuh tempo untuk bayar utang, pemerintah tak mampu membayarnya. Akhirnya sebagai kompensasi, pelabuhan yang strategis dan akses menuju berbagai pelabuhan besar di kawasan Asia itu berpindah tangan kepada Beijing.

Tentu saja, China di bawah kendali Presiden Xi Jinping bertepuk tangan. Apalagi China tengah mengejar untuk merealisasikan megaproyek dengan sebutan “China’s Belt and Road Initiative (BRI)”. Dengan penguasaan Pelabuhan Hambantota, ambisi China untuk mewujudkan impian BRI semakin terbuka lebar.

Lain lubuk lain lain belalang. Pinjaman utang dari China pun lain dari International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia).

Pinjaman utang dari China harus dijamin dengan sumber alam atau aset strategis dan menguntungkan untuk jangka panjang. Kenapa Pelabuhan Hambantota diminta menjadi jaminan untuk utang dari China ?

China mengetahui persis bahwa pelabuhan milik Sri Lanka itu sangat strategis dan menjadi akses menuju Laut Samudra yang menjadi pintu gerbang dari Asia menuju Eropa, Afrika, dan Timur Tengah.

Dalam mengucurkan utangnya untuk mendanai pembangunan infrastruktur kepada negara-negara yang sangat membutuhkan dana, China meminta imbalan jaminan berupa aset strategis dan penting dari sumber alam mineral hingga pelabuhan.

Dengan pengalaman yang dialami pahit Sri Lanka, utang dari China jelas sangat membelenggu ‘mitranya’. Faktanya ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut bukannya menawarkan pinjaman hibah atau pinjaman konsesi. Tapi pinjangam atau utang dengan bunga tinggi, tidak transparan, dan bahkan kerap mengabaikan analisis dampak lingkungan.

Tak berlebihan jika, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson menyebut China dengan ambisi proyek BRI-nya telah menerapkan aturan dan norma versi sendiri.

Dalam hubungan ekonomi dengan Sri Lanka, kalangan analis politik dan ekonomi global menyebut, China juga telah menerapkan atau merepleksikan apa yang dilakukan kolonial Inggris saat mengambil alih Hong Kong dari China dengan menggunakan Perang Opium pada 1839-1860. Pasalnya China menyebut tindak kolonial Barat saat itu sebagai “Abad Penghinaan” atau “Century of Humiliation” terhadap China.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password