Soal Indonesia 2030, Antara Novel Ilmiah dan Nyinyiran Orang Kiri

kreasi desain kabarjitu

KABARJITU: Peribahasa mengatakan ‘bagai membasuh arang, walau dengan air mawar, tak kan jadi putih’. Artinya, ‘orang TAMBENG bagaimana pun DIINGATKAN, akan tetap tambeng.’

*****

Ungkapan Prabowo Subianto yang menyatakan “Indonesia bubar pada 2030” memang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Apakah sudut negatif atau positif.

Menurut mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, kalau sudut pandangnya negatif, maka bisa diartikan pesimis dan “menakut-nakuti”. Sebaliknya, jika sudut pandangnya positif, maka dapat dipahami bahwa Prabowo hanya memberikan ‘warning’ atau mengingatkan seluruh anak bangsa.

Seperti yang menjadi pandangan pemerintah dan pendukungnya, ungkapan Prabowo dianggap sebagai pernyataan seorang yang pesimis dan menebarkan ketakutan kepada masyarakat.

Ketua DPP Golkar, Ace Hasan Syadzily menuding Prabowo sebagai orang pesimis. “Darimana data tersebut? Jangan selalu menebar sikap yang pesimistis untuk bangsa ini. Tumbuhkan terus harapan yang optimistis untuk kemajuan bangsa,” ujar Ace Hasan Syadzily.

Wakil Sekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik justru menyindir Prabowo. “Saya kira, niat Pak Prabowo sebenarnya baik. Dia mau mengajak kita lebih mempedulikan Indonesia. Mungkin adalah gaya khas beliau saja bila ia melakukan itu dengan cara meniupkan ketakutan,” kata Rachland.

Juru Bicara Presiden Johan Budi malah mempertanyakan validitas kajian yang digunakan Prabowo. Sebab, banyak kajian dunia yang menunjukkan dukungan dan optimisme bagi Indonesia. Misalnya survei lembaga Moody’s, Fitch Ratings, dan StandardandPoor (S&P).

Tak beda dengan pendukungnya, Jokowi juga menyikapinya dengan gestur yang cenderung ‘mengenyek’. Saat sejumlah wartawan meminta tanggapannya, Jokowi terkekeh-kekeh.

“Harus optimis, memberi harapan ke depan harus lebih baik,” ujar Jokowi di Jakarta Convention Center, Rabu (21/3/2018).

“Memandang ke depan harus optimistis, memberi harapan yang lebih baik kepada anak muda, rakyat, sesulit apapun,” tutur mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Bubar, Bisa Lebih Cepat

Sebalikya, Gatot Nurmantyo justru menyatakan bahwa apa yang dikatakan Prabowo sangat mungkin terjadi.

“Terkait dengan apa yang disampaikan Pak Prabowo, bangsa ini akan bubar pada 2030, itu sangat mungkin terjadi, apa yang tidak mungkin?,” ucapnya seperti disiarkan 20D (detik.com).

 Menurut Gatot, hal itu terjadi jika kesenjangan sosial semakin melebar, krisis ekonomi terjadi, hingga krisis kepercayaan masyarakat.

“Apabila, ya apabila, kesenjangan sosial semakin tinggi, kemiskinan semakin menjadi-jadi, kepastian hukum tidak ada, akhirnya masyarakat frustasi, terjadilah krisis ekonomi, krisis sosial, kerusuhan sosial, bisa saja itu terjadi,” kata Gatot.

Dalam hal ini, Gatot meminta kepada masyarakat untuk berpikir positif dalam menyikapi pidato Parobowo. Dan, menjadikannya sebagai peringatan.

Jadi mari kita berpikiran positif, bahwa itu adalah merupakan peringatan, semacam warning, untuk kita lebih waspada. Sebagai anak bangsa saling lihat indikasi-indikasinya terjadinya hal itu. Mari kita satukan hati untuk memperbaikinya,” ujar Gatot.

Apa yang disampaikan Gatot memang sejalan dengan tujuan Prabowo menyampaikan pidatonya itu. Dalam penjelasannya kepada wartawan, mantan Danjen Kopassus itu mengaku, tujuannya menyampaikan kajian para ahli intelijen luar negeri itu, agar semua pihak waspada, tidak menganggap enteng persoalan-persoalan. Karena, menurut dia, dari awal lahirnya Indonesia, banyak yang iri dengan kekayaan alam Indonesia.

“Jadi, itu ada tulisan dari luar negeri. Banyak pembicaraan seperti itu di luar negeri,” kata Prabowo kepada wartawan, usai acara “Wadah Global Gathering” di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Prabowo mengatakan, di luar negeri ada yang namanya scenario writing. Scenario writing itu bentuknya mungkin novel, tetapi ditulis oleh ahli-ahli intelijen strategis. “You buka dong. You buka, baca, belum kan?” ujar Prabowo.

Sejak dahulu, Indonesia selalu didatangi pihak asing, dirampok kekayaan alamnya, selama ratusan tahun. “Anda belajar sejarah kan? Anda tahu sejarah? Anda tahu kita pernah dijajah oleh Belanda? Anda tahu bahwa kita banyak yang mati? Mereka datang ke sini jajah kita loh, karena kita kaya. Setelah perang kemerdekaan tetap Indonesia mau dipecah, dari dulu, selalu, selalu,” ujar Prabowo.

Ternyata, sampai sekarang masih ada tulisan yang menyatakan Indonesia tidak akan ada lagi pada tahun 2030.

“Ini untuk kita waspada. Jangan kita anggap enteng. Kita jangan terlalu lugu. Bahwa banyak yang iri sama kita, banyak yang tidak punya sumber daya alam. Jadi, mereka ingin kaya dari kita,” kata Prabowo.

“Ini fenomena. Ya kalau enggak mau percaya sama saya, enggak mau dengar saya, ya enggak apa-apa. Kewajiban saya sebagai anak bangsa, saya harus bicara kalau melihat suatu bahaya,” ujar dia.

Kutipan Novel
Potongan video pidato Prabowo yang menjadi kontoversi tersebut awalnya diunggah akun Facebook dan Twitter resmi Partai Gerindra.

Dalam video itu, Prabowo berpidato:
“Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi, di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030,” kata Prabowo.

Ungkapan soal negara Indonesia akan bubar itu, dikutip Prabowo dari sebuah novel berjudul Ghost Fleet (Armada Hantu). Novel yang berisi tulisan fiksi ilmiah. Penulisnya adalah Peter Warren Singer dan August Coldari.

Siapa Peter Warren Singer? Dia adalah seorang warga negara Amerika Serikat yang menjadi peneliti politik dan perang. Keahliannya itu sering dituangkan dalam berbagai media terkenal di AS. Karenanya, Peter juga dikenal sebagai editor lepas dari majalah Popular Science, yang berisi sains dan teknologi.

Jika dia seorang peneliti yang menulis novel, kisah apa sebenarnya yang dia tulis dalam novel Ghost Fleet tersebut?

Dalam Wikipedia, diceritakan soal perang antara 3 negara raksasa dunia, yakni Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok (China).

Gambaran hancurnya negara Indonesia di tahun 2030, merupakan dampak buruk yang menimpa Indonesia akibat perang tersebut.

Peter menulis, Tiongkok di masa depan akan menguasai energi dunia melalui cadangan gas bumi. Sebagai akibat harga minyak yang sangat tinggi dan menggila di tahun 2030.

Penyebabnya adalah kekacauan yang terjadi di Indonesia sebagai dampak perang di Timor Leste dan tragedi bom dahsyat di Dhahran, Arab Saudi.

Saat inilah, tulis Peter, Indonesia berubah menjadi negara ‘gagal’, dan kekacauan pun terjadi di seluruh pelokok Tanah Air.

Sedangkan Tiongkok yang memiliki sumber energi melimpah, sangat berambisi menguasai dunia, khususnya di kawasan Pasifik Barat.

Supaya ambisi itu bisa terwujud, Tiongkok berusaha menaklukkan Amerika Serikat dengan cara meretas sistem keamanan cyber Paman Sam.

Dalam ceritanya, Peter menulis, peralatan milik pertahanan militer Amerika dibobol. Akibatnya, semua sistem pertahanan Amerika yang berbasis satelit menjadi lumpuh.

Peter juga menyebut bahwa Rusia, sebagai negara sekutu Tiongkok, berhasil merebut pangkalan militer Amerika di Okinawa, Jepang.

Bahkan, tulis Peter, Rusia bersama-sama Tiongkok mampu melumpuhkan Hawaii. Di sini, Rusia dan Tiongkok mendirikan ‘negara’ baru. Dan, pertahanan Amerika di kawasan Pasifik pun lumpuh total.

Lumpuhnya seluruh peralatan tempur Amerika  membuat negara itu kembali menggunakan kapal perang kuno tanpa didukung kecanggihan teknologi.

Justru, tanpa adanya sistem canggih itulah yang membuat Amerika tak bisa dilumpuhkan oleh para hacker Tiongkok maupun Rusia.

Musuh tak mampu lagi mendeteksinya. Inilah yang pada akhirnya menjadi kunci Amerika berhasil mempertahankan Pasifik dari keganasan Tiongkok dan Rusia.

Kisah kapal kuno itulah yang kemudian melahirkan judul ‘Ghost Fleet’ (Armada Hantu).

Novel Berisi Ilmiah
Sementara itu, wartawan senior Dahlan Iskan menilai, sebuah novel yang ditulis oleh seorang ilmuwan bidang strategi kemiliteran, dianggap bukan hanya fiksi.

Apalagi Peter Warren Singer, penulis novel itu, meraih doktornya di Harvard. Dia juga analis di lembaga think thank terkemuka di Amerika: Brookings Institute.

Disiplin ilmunya bidang militer dan politik hubungan internasional. Maka novel Ghost Fleet ini dianggap karya ilmiah.

Tentang ramalan masa depan yang dekat yang pasti terjadi: tahun 2030 Indonesia jadi negara gagal. Akan ada perang lagi di Timor (Leste).

Penguasa di Tiongkok akan diambil alih satu tim aneh: gabungan antara pengusaha dan militer. disebut Direktorate. Pengendali negara bukan lagi politbiro partai. Tapi direktorate itu.

Inilah novel tentang gambaran perang dunia ke 3 nanti. Perang dengan menggunakan teknologi baru: penuh unsur artificial intelligence. Kecerdasan buatan.

Robot jet tempur. Remaja menghancurkan sistem komputer persenjataan. Dan semua itu tentang pertempuran gaya baru. Antara Tiongkok dan Amerika.

Dan inilah sebenarnya inti karya sastra ini: Perang Pasifik baru. Indonesia hanya disebut agak sekilas. Mungkin karena letaknya dekat Pasifik.

Dalam perang baru itu Hawaii direbut Tiongkok. Tidak diduduki Tiongkok tapi menjadi kawasan yang terpisah dari Amerika.

Penulis novel tersebut, Peter Warren Singer, 43 tahun, nemang bukan sembarang ilmuwan. Dia meraih gelar doktor dari Harvard. Tulisan-tulisannya menyebar di semua koran besar Amerika. Mulai dari Boston Globe, New York Times, Washington Post sampai Los Angeles Times.

Pernah juga masuk tim sukses pencalonan Obama jadi Presiden Amerika. Dia sangat berpengaruh di lembaga think thank Brooking Institute di Washington DC. Lembaga yang sudah berumur 100 tahun lebih.

Dia dikenal juga sebagai anak muda dengan karir tercepat. Dan pikirannya cemerlang.

Bisa jadi novel itu memang warning dari seorang ilmuwan untuk negaranya. Agar waspada pada kemajuan pesat Tiongkok. Termasuk di bidang artificial intellegence (AI). Yang berbeda dengan di Amerika.

Di Tiongkok AI dipelopori oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Dengan pendekatan bisnis. Bukan oleh pemerintah. Atau lembaga riset di bawah pemerintah.

Khusus di bidang AI ini pemerintah Tiongkok justru menunjuk empat raksasa IT-nya: Ali Baba, Tencent, Baidu dan iFlyTek. Untuk berada di front depan. Dengan kemampuan penyediaan dana riset yang begitu besar.

Mungkin makalah-makalah ilmiah PW Singer kurang dapat perhatian dari pemerintahnya. Peringatannya secara ilmiah mungkin tidak dianggap menarik. Maka Singer mengajak wartawan terkemuka, August Cole menuangkan pikiran ilmiahnya itu ke dalam karya fiksi. Lantas dia wujudkan dalam bentuk novel.

Maka kalau pun ada unsur dramatisasi menjadi sah. Dengan dalih novel toh memang fiksi.

Mungkin Singer juga tidak bermaksud memberi warning pada Indonesia. Bahwa dia menceritakan Indonesia akan berantakan pada tahun 2030 mungkin hanya untuk menambah dramatisasi.

Justru kita sendiri yang harusnya menganggap novel itu sebagai warning. Agar Indonesia jangan sampai jatuh menjadi negara gagal.

Memang di tengah menggunungnya hutang Indonesia novel itu seperti tiba-tiba ibarat ramalan. Apalagi struktur hutangnya berat ke pasar bebas. Bukan seperti hutang di zaman lama yang lebih multilateral antar negara.

Bersamaan pula dengan data yang dikeluarkan BPS bahwa jumlah orang miskin ternyata justru bertambah. Dan soal keadilan juga lagi hangat dipersoalkan.

Padahal ketika novel itu ditulis (2014, terbit 2015) kondisi Indonesia belum seperti itu. Maka kita harus menganggap novel itu peringatan yang baik.
Demikian juga bagi Amerika.

Gambaran tentang kekuatan baru Tiongkok memang tidak boleh diabaikan. Bukan hanya dari serunya novel itu. Juga sudah tergambar dari film baru yang amat laris di Tiongkok: Operation Red Sea.

Saya menontonnya minggu lalu. Di bioskop di Beijing. Khusus untuk menangkap gejala yang digambarkan novel Ghost Fleet.

Itu seperti gabungan antara film Rambo dan film kemenangan Amerika di Perang Teluk.

Versi Tiongkok. Kini Tiongkok sudah punya film macam Rambo versi mereka sendiri. Kejagoan bukan lagi seperti yang digambarkan dalam film silat Hongkong. Zaman Bruce Lee sudah kuno. Sudah ditinggalkan.

Kini penggambaran kekuatan baru Tiongkok sudah lewat Rambo gaya Tiongkok. Ditambah peralatan perang modern yang menjadi senjata pamungkas. Didukung artificial intelligence.

Gambaran kejagoan Tiongkok itu juga terlihat dari film yang lebih laris: Wolf Warrior 2. Saya juga menontonnya minggu lalu.

Di sini keramboannya lebih hebat lagi. Tak heran kalau Wolf Warrior 2 menjadi film terlaris dunia tahun 2017.

Dengan pendapatan 874 juta dolar. Wolf Warrior 2, untuk sepanjang sejarah film, hanya kalah dari Star Wars episode The Force Awakens (936 juta dolar). Wolf Warrior 2 jauh mengalahkan Titanic, Jurrasic World atau Avatar.

Industri film Hongkong dengan andalan kungfunya kini sudah ditinggalkan. Tiongkok yang baru, sudah pula merambah ke film. Yang menggambarkan era baru itu.

Menyaksikan Operation Red Sea dan Wolf Warrior 2, lalu mencermati novel Ghost Fleet rasanya tahun 2030 itu seperti di depan mata.

Padahal dua-duanya fiksi.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password