Siasat China Cengkeram Negara Berkembang dengan Utang

istimewa

KABARJITU: Sepak terjang China dalam mengucurkan utang kepada sejumlah negara tengah mendapat sorotan dunia. Media internasional terus mengupas aksi ekspansif penggelontoran utang dari ‘Negeri Tirai Bambu’.

___________

Media terkemuka CNN pada edisi 5 Maret 2018 menurunkan judul “China’s Global Trade Plan is Piling Huge Debt on Smaller Countries” atau “Rencana Perdagangan Global China Menambah Utang Negara-Negara yang Lebih Kecil.”

Sebaris kalimat pembuka dalam laporan ekonomi CNN membuat para pembaca kian dibuat ingin mengetahui lebih dalam. Kalimat tersebut tertulis “Big loans from China can come with big headaches.”

Sebuah laporan ekonomi global baru mengungkapkan bahwa China telah mengucurkan ratusan miliar dolar AS untuk membiayai pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, jalur kereta api, jalan layang, dan proyek-proyek lainnya untuk negara-negara di kawasan Asia, Eropa dan Afrika.

Ternyata kucuran utang untuk pembangunan infrastruktur tersebut telah menyeret negara-negara ke dalam kubangan beban utang yang menggunung.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China memiliki megaproyek yang diberi nama “Belt and Road Initiative (BRI)”. Dengan proyek tersebut, China terus melakukan ekspansi ekonomi dengan menebar utang ke sejumlah negara.

CNN mengutip laporan dari lembaga nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat, Center for Global Development (CGD). Lembaga CGD menegaskan kucuran bantuan keuangan dari ‘Negeri Tirai Bambu’ telah menumpuk beban utang yang harus ditanggung delapan negara di antaranya Pakistan, Montenegro, dan Djubouti.

“Belt and Road Initiative (BRI) menyediakan sesuatu kepada negara yang tengah putus asa dalam membiayai proyek infrastruktur. Jadi pinjaman tersebut mungkin dinilai banyak hal yang baik,” kata John Hurley, seorang pengamat ekonomi global dari AS.

Lembaga Center for Global Development melaporkan bahwa negara pengutang dari China dengan yang berisiko tinggi adalah Pakistan. Negara yang berada di kawasan Asia Selatan mendapat kucuran utang untuk membiayai proyek infrastruktur dan energi sebesar US$ 50 miliar dari China.

Lembaga CGD menegaskan beban utang Pakistan akan terus membesar. Penyebabnya suku bunga pinjaman dari China relatif tinggi. Tak menutup kemungkinan Pakistan terperangkap dalam belitan utang dari China.

Para pengamat ekonomi global memprediksi beban utang dari China yang ditanggung tujuh negara semakin menumpuk. Persoalan lain ternyata China tidak melaporkan pinjaman luar negerinya secara sistematis dan transparan.

Laporan CGD mengungkapkan utang negara Djibouti terus membengkak hingga akhir 2016. Sebanyak 82% dari total utang dari luar negeri berasal dari China.

Nasib buruk dialami negara Kyrgyzstan. Berdasarkan laporan akhir 2016, utang negara tersebut dari China telah mencapai 37% dan diperkirakan utang Kyrgyzstan akan mencapai 71% dalam beberapa tahun ke depan.

Negara-negara lain yang tercekik utang China adalah Laos, Maladewa, Mongolia, dan Tajikistan.

Menurut para pengamat ekonomi global, jika negara-negara tersebut gagal atau tak mampu membayar utang pas jatuh tempo, kendali China terhadap negara-negara semakin kuat. Ditegaskan bahwa China dapat mengatur atau mempengaruhi keputusan strategis atau bahkan menguasai proyek infrastruktur penting yang dibiayai dari dana pinjaman China.

Pada 2011, China dilaporkan setuju untuk menghapuskan utang di Tajikistan. Namun pihak China meminta imbalan wilayah yang disengketakan dengan China.

Pada tahun lalu atau 2017, Beijing membuat kesepakatan dengan Sri Lanka mengenai pinjaman senilai US$ 8 miliar. Karena Sri Lanka tak mampu bayar utang, China mendapat kompensasi dengan menguasai pengelolaan Pelabuhan Hambantota yang dibangun dari dana utang selama 99 tahun.

China disebut kalangan pakar ekonomi global telah menerapkan peraturan pinjaman dana yang menyimpang ketentuan internasional sebagaimana diterapkan IMF dan Bank Dunia.

Pinjaman dari China dinilai tak memacu pertumbuhan dan membuka peluang ekonomi. China dipandang turut mendorong pembangunan proyek infrastruktur yang membuat perangkap negara-negara berkembang yang mengutang.

Negara-negara maju dan kekuatan ekonomi dunia serta lembaga Bank Dunia dan IMF harus menegur China melakukan praktik pinjaman yang lebih berkelanjutan dan menghindari bahaya bertindak sebagai kreditor “go-it-alone”.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password