Catut 212, Penggagas Renas 212 Tak Punya Malu dan Ber-IQ Jongkok

istimewa

KABARJITU: Para pendukung Joko Widodo mencatut nama 212 yang selama dua tahun terakhir ini melekat dengan gerakan Bela Islam dan Bela Ulama. Pencatutan 212 itu dilakukan dengan membentuk Relawan Nasional 212 Jokowi Presiden Republik Indonesia (Renas 212 JPRI).

________

Melihat namanya, jelas bahwa organisasi itu sengaja dibentuk untuk mendukung pencalonan kembali Jokowi sebagai presiden pada pilpres 2019-2024.

Menurut koordinatornya, Nasir, deklarasinya akan dilakukan di bulan Maret ini.

Dalam keterangan tertulis yang dilansir Antara di Jakarta, Kamis (1/3), Nasir mengaku akan segera berkordinasi dengan Kepala Kantor Staf Kepresidenan.

Karuan saja, siapa pun yang selama ini terlibat dalam Aksi Bela Islam dan Ulama 212, tak kan bisa menerima kehadiran “Organisasi 212 Jadi-jadian” tersebut.

Pasalnya, Aksi Bela Islam dan Ulama 212 muncul karena sikap dan kebijakan Jokowi yang dianggap bertentangan dengan rasa keadilan kaum Muslimin, pasca terjadi penistaan agama Islam oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Seperti dikatakan Ketua Garda Alumni 212 Anjufri Idrus Sambo.

“Justru munculnya 212 itu kan gara-gara Jokowi. Enggak mungkin pula masa 212 dukung Jokowi. Itu mustahil,” kata Sambo seperti dikutip Tirto, Jumat (2/3/2018).

Penggunaan angka 212 dalam Aksi Bela Islam 212 sendiri sebenarnya sangat relevan dengan gerakan aksi turun ke jalan yang dilakukan kaum muslimin, yakni pada 2 Desember 2016.

Kemudian gerakan tersebut dipopulerkan sebagai gerakan 212, karena angka tersebut secara kebetulan sama dengan simbol tokoh Wiro Sableng.

Sambo menyatakan, gerakan Bela Islam 212 justru dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap Jokowi yang tidak bersikap tegas terhadap kasus Ahok yang menistakan Surat Al-Maidah 51.

Hingga akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonis Ahok bersalah dengan hukuman 2 tahun penjara, pada 9 Mei 2017.

Senada dengan Sambo, Juru bicara Presidium Alumni 212 Aminudin mengatakan, nama “212” tidak bisa dilepaskan dari konteks Aksi Bela Islam 212. Sehingga pencatutan nama 212 oleh relawan Jokowi tidak relevan.

“Ketika itu, Pak Jokowi mendukung Pak Ahok, maka tidak relevan (menggunakan nama 212) menurut kami,” kata Aminudin.

Nasir Tak Dikenal Aktivis 212
Ternyata, nama Nasir yang menjadi koordinator Renas 212 JPRI sama sekali tidak dikenal di kalangan Alumni 212.

Sebagai aktivis sekaligus pengurus Garda Alumni 212, Sambo sendiri mengaku tidak tahu siapa sosok Nasir. Bahkan Sambo meragukan jika ada alumni Aksi Bela Islam 212 yang mau mendukung Jokowi dan berkoordinasi dengan pihak Kantor Staf Presiden.

“Enggak mungkin, bagaimana mungkin Alumni 212 dukung Jokowi? Dia 212 yang mana ini?” tanya Sambo.

Bukan tidak mungkin, penggunaan nama “212” sengaja dipakai para pendukung Jokowi untuk mengganggu gerakan politik para alumni Aksi Bela Islam 212.

Meski begitu, Sambo yakin, Renas 212 JPRI tidak akan berpengaruh signifikan secara politik. Apalagi orang-orang di dalamnya bukan tokoh-tokoh berpengaruh.

“Kalau tokoh-tokohnya hebat dan dikenal luas seperti tokoh Aksi Bela Islam 212, baru jadi masalah. Kalau cuma tokoh yang baru mengaku-ngaku 212 biarkan saja. Pasti orang juga enggak percaya,” kata Sambo.

Tidak hanya Sambo, Aminudin juga mengaku tidak mengenal pengurus Renas 212 JPRI. Karenanya, Aminudin memastikan Renas 212 JPRI bukan bagian Presidium Alumni 212.

“Dia terpisah sama sekali. Kami sudah jelas, siapa yang kami bela. Pembelaan kami hana kepada aksi-aksi bela Islam,” ujarnya.

Menurut Aminudin, pembentukan Renas 212 JPRI merupakan bagian dari manuver politik untuk merangkul massa peserta Aksi 212 untuk Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.

Tak Sanggup Mikir
Wartawan Senior Asyari Usman menilai para penggagas Renas 212 itu telah menunjukkan sendiri rendahnya kualitas intelektual mereka.

“Artinya, para penggagas mengakui bahwa gerakan Islam 212 yang dipimpin oleh para ulama sungguh sangat dahsyat marwah dan wibawanya. Sampai-sampai mereka tak mampu lagi menciptakan nama dan simbol gerakan yang tidak mencatut lambang aksi damai kaum muslimin,” kata Asyari.

Menurut Asyari, para penggagas Renas 212 JPRI, membeo dan mencaplok simbol 212 dengan tafsiran yang sangat mengada-ada dan dipaksakan.

“Kasihan para penggagas Renas 212. Mereka terpaksa menghilangkan urat malu mereka demi mencaplok simbol 212. Mereka rela melecehkan intelektualitas mereka ke titik yang terendah demi mendukung junjungannya,” tandasnya.

Bahkan, kata Asyari, mereka tidak malu-malu lagi mendeklarasikan secara terbuka kebingungan dan kedunguan mereka. “Sekali lagi, sungguh kasihan. Dan lebih kasihan lagi seandainya mereka mau juga menyatakan secara terbuka motif pembentukan Renas 212,” ujar Asyari.

Asyari melihat, pencaplokan simbol 212 ini malah akan menjadi bumerang bagi mereka dan junjungannya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password