Berseberangan Soal Nuklir Iran, Donald Trump Pecat Menlu Tillerson

ist

KABARJITU: Soal pecat-memecat pejabat, bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bukanlah barang baru. Mengganti pejabat telah menjadi agenda tetap dan berulang buat presiden berambut jagung tersebut.

________

Berita yang mengejutkan kali ini adalah pemecatan secara mendadak Rex Tillerson dari jabatan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS.

Sebagai penggantinya, Trump langsung menunjuk Mike Pompeo, yang sebelumnya menjabat Direktur Badan Intelijen Amerika (CIA). Pompeo disebut memiliki pemikiran dan pandangan sehati dengan Trump. Sebaliknya, gagasan Tillerson kerap berseberangan.

Namun, di hadapan para wartawan, Trump yang kerap mengumpat berusaha berbicara bijak. “Saya telah bekerja dengan Mike Pompeo dengan waktu yang cukup lama,” ucap Trump kepada wartawan, setelah mencopot jabatan Pompeo.

Berbicara tentang pengganti Tillerson, Trump menegaskan bahwa Pompeo bukanlah tokoh yang baru dikenalnya. Pompeo disebut memiliki kesamaan visi selama ini. Bahkan Trump memuji mantan Direktur CIA tersebut sebagai sosok dengan semangat luar biasa dan sangat cerdas.

Pada Selasa (13/3), Trump mengumumkan soal pemecatan Tillerson sebagai Menlu AS. Posisi jabatan yang ditinggalkan Pomeo langsung diisi oleh Gina Haspel yang menjadi direktur lembaga intelijen ‘Negeri Paman Sam’.

Keputusan pemecatan Tillerson disebut sebagai puncak kekesalan Trump. Pasalnya, Trump dan Tillerson kerap bersilang pendapat soal pandangan kesepakatan program nuklir Iran dan AS.

Sejak masa kampanye, Trump telah berniat membatalkan kesepakatan program nuklir AS-Iran yang disahkan saat AS dipimpin Presiden Barack Obama.

Tampaknya, apa yang dilakukan Tillerson jauh dari harapan Trump dan memicu kekesalan Trump mencapai puncaknya.

“Kami benar-benar tidak berpikiran sama,” ucap Trump yang mengacu pada sikapTillerson soal kesepakatan nuklir dengan Iran. Sebaliknya, Trump memuji mantan Direktur CIA Pompeo yang disebut sebagai pejabat AS yang “memiliki jalan berpikir yang sama.”

Trump yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha real estate tersebut menegaskan bahwa dirinya sangat tidak setuju soal kesepakatan nuklir AS dan Iran.

“Saya ingin membatalkan atau melakukan tindakan lain,” ucap Trump. Sebaliknya, saat menjabat Menlu, Tillerson tidak sepaham dengan sang presiden.

Terkait kesepakatan nuklir dengan Iran, Tillerson lebih bersikap moderat. Dia tak mau membatalkan begitu saja, tapi ingin mengubah bagian dari kesepakatan yang juga menguntungkan bagi AS.

Pada awal Januari lalu, Tillerson telah berdiskusi dengan para pemimpin Kongres soal kesepakatan nuklir Iran. “Presiden mengatakan bahwa dia akan memperbaikinya atau membatalkannya,” ucap Tillerson kepada kantor berita AP saat itu.

“Kami sedang dalam proses mencoba memenuhi janji yang dia buat untuk memperbaikinya,” ujar Tillerson saat itu.

Pernyataan Tillerson tersebut jelas jauh dari harapan Trump yang hanya menginginkan kesepakatan tersebut dibatalkan.

Pada bulan yang sama, Tillerson bertemu dengan Menlu Inggris Boris Johnson. Boris menyarankan agar AS meninjau ulang kesepakatan program nuklir dengan Iran. Pejabat dari negara sekutu AS tersebut melihat ada kekurangan dalam kesepakatan tersebut.

Sikap kurang tegas dan melempem yang ditunjukkan Tillerson telah membuat Trump yang dikenal emosional itu pun berang. Trump yang tak sabar melihat kesepakatan dibatalkan langsung mengambil tindakan dengan mendongkel Tillerson dari jabatan Menlu AS.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password