Ada Kemusyrikan Muhaimin dalam Doa Politik buat Cak Imin

KABARJITU: Pelantikan tiga Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, dan Muhaimin Iskandar, di Gedung Kura-kura, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/3/2018), awalnya berlangsung khidmat dan lancar.

_____________

Namun, acara pelantikan yang dipimpin langsung Ketua MPR Zulkifli Hasan itu terganggu oleh kesalahan ucap saat sesi doa yang dibacakan Anggota Fraksi PKB Jazilul Fawaid.

Jika melihat latar belakang posisi Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang saat ini tengah menggadang-gadang dirinya menjadi bakal cawapres, maka patut diduga bahwa tidak ada salah ucap dalam doa Jazilul.

Jutru sebaliknya, seperti ada unsur kesengajaan, dimana Jazilul lebih sering menyebut Muhaimin dalam rangkaian doanya.

Memang, Muhamin dimaksud adalah sebutan salah satu dari asmaul husna (nama-nama baik untuk menyebut Allah), karena diiringi dengan Aziz dan Salam.

“Ya Allah.., ya Muhaimin, ya ‘Aziz, ya Allah… ya Muhaimin, ya Salam,” demikian petikan doa Jazilul.

Secara eksplisit, tampak sekali bahwa doa itu dimanfaatkan oleh Jazilul untuk memperbanyak sebutan Muhaimin, yang tentu saja bertujuan untuk meng-injeksikan nama Muhamin (Ketua Umum PKB) ke telinga pendengarnya.

Ini langkah politik yang “sembrono” dan tidak terpuji. Di satu sisi, Jazilul yang notabene kader PKB, memanfaatkan moment besar itu untuk manuver politiknya, untuk mendongkrak popularitas Cak Imin, yang sudah terkoyak oleh kasus duren kalibata.

Injeksi nama Muhaimin oleh Jazilul memang berhasil. Terbukti, Zulkifli Hasan pun langsung bereaksi. Dan, tidak hanya Zulkifli, semua orang yang ada di ruangan itu pun bereaksi. Ada yang dengan tersenyum, tertawa, mencibir, sampai bertepuk tangan.

Dengan nada bercanda, Zulkifli menyebut terlalu banyak nama Muhaimin disebut. “Ini Jazilul cocok jadi Ketua Fraksi PKB, karena nama Muhaimin disebut sembilan kali dan yang lain hanya sekali,” ucapnya.

Bahkan, walaupun masih dalam nada bercanda, Zulkifli juga menyingung birahi Cak Imin yang ingin menjadi cawapres.

“Tadi juga sudah didoakan sebagai wakil presiden, ini presidennya saja belum tapi wakilnya sudah ada,” ujar Zulkifli.

Ungkapan Zulkifli terkait wapres itu jelas merupakan reaksi dari doa Jazilul yang diduga memang sengaja diplesetkan. Lagi-lagi untuk mengunjeksikan imaj publik bahwa Imin memang layak menjadi cawapres.

“Semoga Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, dan Muhaimin Iskandar, yang baru saja dilantik sebagai wakil presiden…” ucap Jazilul.

Ada Kemusyrikan
Adalah kemusyrikan dan dosa besar jika mempersamakan atau membandingkan kedudukan Allah SWT dengan makhluknya. Apalagi hanya dibuat guyonan atau kepentingan politik.

Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dalam surat Attaubat ayat 31, Allah SWT berfirman, yang artinya;

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah 9:31).

Imam Al-Qadhi Ibnu Abi Al-Izz rahiamhullah ketika menjelaskan perkataan Imam Al-Thahawi rahimahullah “Siapa yang menyifati Allah dengan makna sifat pada manusia, maka dia telah kafir”.

Dari ungkapan Iman Al-Qodhi, Imam Ibnu Abi Al-Izz berkata:

 “Ketika dia (Imam al-Thahawi) mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan Kalam (perkataan) Allah secara hakikat, maka setelah itu dia menekankan bahwa Allah dengan sifat-sifaNya itu tidak serupa dengan manusia, sebagai bentuk penafian dari menyerupakannya setelah menetapkan sifatnya. Maksudnya, walaupun Allah disifatkan dengan sifat Mutakallim (berbicara), akan tetapi sifat  Allah berbicara itu tidak disifatkan dengan makna peristilahan manusia yang dengannya juga dia berbicara. Sebab Allah tidak serupa dengan apapun” (Syarh Al-Aqidah Al-Thahawiyah: 1/284)

Sebagai contoh dalam hal ini, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-Rahim (Yang Maha Penyang). Namun Allah juga menyebutkan sifat rahim (penyayang) ada pada hamba-hamba-Nya. Akan tetapi tetap dengan menunjukkan perbedaan antara diri-Nya dengan makhluk-Nya.

Oleh karenanya ketika menyebutkan kerahiman-Nya dan kerahiman makhluk-Nya secara bersamaan di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan kerahiman diri-Nya dengan “ism tafdhil” (kata yang menunjukkan bentuk lebih besar).

Allah berfirman: “Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang di antara para penyanyang”. (QS. Yusuf: 64)

Artinya, walau makhluk juga memliki sifat rahim (penyayang), namun sifat rahim mereka berbeda dengan sifat Rahim Allah. Maha Suci Allah dari segala bentuk penyerupaan terhadap diriNya.

Seperti itu pula berlaku pada sifat-sifat yang lain, misalnya memberi rezki. Allah Azza wajalla berfiman:

“Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki”. (QS. Al-Jumu’ah: 11)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password