Pilpres 2019, Jokowi-AHY vs Prabowo-Anies

istimewa

KABARJITU: Nama-nama calon presiden yang akan bertarung di ajang Pilpres 2019 sudah mulai diperbincangkan. Nama Jokowi dipastikan kembali masuk bursa, tinggal menunggu calon wakilnya. Besar Kemungkinan, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang akan mengisinya.

_______

Lalu, siapa yang akan menjadi lawannya? Sejauh ini, ada tiga nama yang mulai dimunculkan, yakni Prabowo Subiyanto, Gatot Nurmantyo (mantan PanglimaTNI), dan Anies Baswedan (Gubernur DKI).

Namun, secara resmi belum ada partai yang mengusung ketiga nama tersebut, karena dianggap masih terlalu jauh dan harus melihat hasil Pilkada dan Pileg di 2018 ini.

Sebagai partai koalisi yang kini menjadi oposisi, yakni Gerindra, PKS, dan PAN juga masih menghitung-hitung.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo pun baru akan mengambil keputusan di menit-menit akhir. Apakah Prabowo akan kembali melawan Jokowi atau akan mengusung calon lain?

Menurut Wakil Sekjen Partai Gerindra Aryo Djojohadikusumo, keputusan di menit akhir itu sesuai pengalaman Pilgub DKI Jakarta 2017 dan 2012.

“Waktu Pilgub DKI, kami putuskan mencalonkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno semalam jelang batas akhir pendaftaran di KPU DKI Jakarta,” kata Aryo di Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Begitu pula saat Gerindra mengusung Jokowi-Ahok menjadi calon Gubernur DKI pada 2012. Waktu itu, Gerindra memutuskan hanya beberapa jam jelang pendaftaran ditutup.

Apalagi, pendaftaran pasangan Capres baru dibuka pada 4-10 Agustus 2018.

Untuk Pilpres 2019, saat ini Gerindra, PKS, dan PAN masih menghitung-hitung syarat ambang batas presiden (presidential threshold) yang 20 persen. Namun untuk koalisi, dengan PKS dan PAN, Gerindra cukup intensif berkomunikasi.

Untuk pencalonan Prabowo sendiri, tampaknya sudah cukup banyak mendapat dukungan dari masyarakat. Walaupun minim pemaparan program dan visi misi kepada masyarakat, tapi sudah bisa meraih dukungan minimum sebesar 22 persen.

Hal itu sudah ditunjukan dari beberapa hasil survei, baik yang dilakukan Gerindra sendiri maupun lembaga survey lainnya.

“Kalau dari kader, sudah semua menginginkan Prabowo maju lagi,” kata Aryo.

Pertimbangan lainnya, Gerindra masih menunggu hasil Pilgub dan Pilbup/Pilkot 2018 yang akan diumumkan pada akhir Juni. Jika hasilnya memuaskan dan mayoritas menang, tentu menjadi tambahan energi bagi Prabowo untuk kembali maju.

Seandainya Prabowo menyatakan diri tidak maju, maka tidak tertutup kemungkinan nama Anies Baswedan yang akan menjadi alternatifnya. “Sejauh ini sih belum ada rencana ke arah sana, karena beliau (Anies) fokus di Jakarta. Tapi opsi itu mungkin saja terjadi,” aku Aryo.

Munculnya nama Anies yang disebut-sebut sebagai Kuda Hitam di Pilpres 2019 bukan tanpa dasar. Lembaga Survey Indo Barometer sudah membuktikannya.

Walaupun elektabilitasnya saat ini untuk Pilpres masih terbilang rendah, namun popularitas Anies sangat tinggi, karena jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Untuk sementara ini, nama Anies (84,6 persen) berada di jajaran lima besar, setelah Jokowi (97 persen), Jusuf Kalla (91,5 persen), Prabowo (87,7 persen), dan Megawati (84,7 persen).

Artinya, jika dua nama, Jusuf Kalla dan Megawati keluar dari survey, makan nama Anies akan berada di posisi ketiga.

Karena itulah, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, potensi Anies sebagai kuda hitam di tengah persaingan Jokowi dan Prabowo sangat kuat. Apalagi, jika Prabowo memutuskan tidak mencalonkan diri.

“Potensi kuda hitam lebih kuat Anies, karena jabatan strategisnya sebagai Gubernur DKI,” kata Qodari di Jakarta, Kamis (16/2/2018).

Bahkan, Anies akan ditunjang oleh banyak media massa yang selalu menyorot semua kebijakannya sebagai Gubernur DKI.

Apalagi media non-mainstream yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding media mainstream, menginginkan terjadinya pergantian presiden.

Selain Anies, nama Gatot Nurmantyo juga ikut masuk dalam deretan nama Capres 2019.

Anies Ungguli AHY dan RK
Potensi Anies di Pilpres 2019 juga terbukti pada hasil survei SMRC akhir 2017 lalu.

Ketika disimulasikan, nama-nama di luar Jokowi dan Prabowo, nama Anies menempati posisi teratas. Anies dipilih oleh 0,9 persen responden, Ahok (0,8 persen), Hary Tanoesoedibjo (0,6 persen), dan AHY dan Ridwan Kamil sama-sama 0,3 persen.

Bahkan hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mencatat, popularitas Anies mengungguli AHY. Nama Anies meraih 76,7 persen, sedangkan AHY 71,2 persen.

Rakyat Ingin Pemimpin Baru
Dari hasil survei yang dilakukan LSI Denny JA terungkap bahwa 41,20 persen responden menginginkan presiden selain Joko Widodo pada Pilpres 2019.

Angka tersebut merupakan hasil data teranyar yang diperoleh LSI Denny JA ketika melakukan survei pada 7-14 Januari 2018 terhadap 1.200 responden.

Dalam survei tersebut, walaupun sebagai petahana, ternyata Jokowi hanya meraih elektabilitas 48,50 persen. Padahal, Idealnya, seorang petahana yang akan kembali maju, setidaknya harus memiliki tingkat elektabilitas lebih dari 50 persen.

“Sebagai petahana, angka itu tidak ideal. Secara umum, pemilih sudah melirik capres lain,” ujar Peneliti LSI Adjie Alfaraby di Jakarta, Jumat (2/1/2018) lalu.

Berdasarkan popularitas di masyarakat, ada empat nama potensial yang mampu bersaing dengan Jokowi, yakni Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, dan Agus Harimurti Yudhoyono.

Masyarakat masih menginginkan Prabowo menjadi calon penantang Jokowi. Sebab, dari sisi popularitas, Ketua Umum Gerindra ini meraih 92,5 persen suara masyarakat Indonesia.

Begitu juga dari faktor ketokohan, posisi Prabowo masih ada di jajaran teratas sebagai penantang Jokowi.

Dua nama lainnya adalah Anies dan AHY memiliki popularitas yang cukup tinggi. Anies meraih 76,7 persen dan AHY meraih 71,2 persen.

“Bahkan popularitas Anies dan AHY melampaui ketua-ketua partai dan tokoh-tokoh yang sudah muncul sebelumnya,” katanya.

Nama lainnya yang muncul adalah Gatot Nurmantyo. Tingkat popularitasnya sebesar 56,5 persen. Popularitas Gatot meningkat melalui beberapa momentum keagamaan.

Isu Asing Jegal Jokowi
Sementara itu, hasil survei LSI Denny JA soal Capres-Cawapres 2019 menyimpulkan, ada tiga isu besar yang bisa menjegal Jokowi, yakni isu primordial dalam bentuk Islam politik, isu ekonomi, dan isu buruh asing.

“Isu primordial seperti Pilkada DKI, diprediksi akan menguat di Pilpres 2019,” ujar Adjie.

Mayoritas masyarakat Indonesia atau 40,7 persen, menyatakan tidak setuju jika politik dipisahkan dari agama. 

Sedangkan kubu yang menginginkan agama dan politik harus dipisahkan, sebanyak 32,5 persen. “Kami melihat, Jokowi belum terlihat ramah dalam isu agama dan politik. Ini akan mengancam secara elektoral,” tutur Adjie.

Selain isu primordial, dua isu lainnya berpotensi menghambat Jokowi, yakni isu ekonomi dan maraknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia.

Masalah ekonomi, suasana psikologis masyarakat terasa kurang baik. Terbukti, lebih dari setengah responden menyatakan, harga kebutuhan pokok meningkat dan memberatkan, lapangan kerja sulit didapatkan, serta jumlah pengangguran semakin meningkat.

Responden juga kekhawatiran terhadap maraknya tenaga kerja asing, terutama dari China, yang menyerbu Indonesia.

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password