Wartawan Berhijab Kibarkan Bendera Islam di Rusia, Tantang Putin di Pilpres

TAHUN 2018 akan menjadi tahun pesta pemilihan Presiden Rusia. Presiden Vladimir Putin, Ketua Partai Rusia Bersatu, diprediksi akan kembali berkuasa untuk keempat kalinya.

Prediksi itu didasari oleh kemenangan Partai Rusia Bersatu pada Pemilu Parlemen pada 2016 lalu.

Dari 450 kursi di Senat Duma, 54,3 persen suara atau 338 kursi dikuasai oleh Partai Rusia Bersatu. Jumlah ini naik dari raihan kursi sebelumnya yang hanya 238 kursi.

Sedangkan Partai Komunis hanya sanggup meraih posisi kedua dengan meraih 13,5 persen suara, disusul Partai Liberal Demokrasi 13,3 persen. Di bawahnya ada partai Hanya Rusia, dengan 6,2 persen suara.

Tampaknya, dalam pemilu presiden yang akan digelar Maret 2018 mendatang, Vladimir Putin akan berhadapan dengan penantangnya yang terbilang unik. Yakni seorang Muslimah berjilbab bernama Aina Gamzatova. Wanita taat agama ini berusia 46 tahun, asal Dagestan. Ia mencalonkan diri melalui jalur independen.

Dalam artikelnya, Ahad 31 Desember 2017, Aljazeera menulis, deklarasi pencalonan Aina disampaikannya melalui akun pribadinya di Facebook pada Sabtu (30/12/2017).

Seperti sudah diduga sebelumnya, deklarasi itu pun disambut gembira oleh para pendukungnya di Makhachkala, ibu kota Dagestan.

Dagestan adalah wilayah Rusia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di sepanjang jalan kota itulah, para pendukunganya berkumpul untuk melakukan selebrasi.

Aina merupakan salah seorang politisi yang keras terhadap kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara yang terpisah di Kaukasus Utara di bawah hukum Islam.

Karena itulah, dalam setiap kampanyenya, Aina  ingin Kremlin semakin keras terhadap kelompok yang dikenal sebagai penganut paham Wahhabi tersebut.

“Saya mendukung sikap anti-Wahhabisme. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah daerah maupun sejumlah pejabat federal di wilayah tersebut bersikap diam menghadapi kelompok Wahhabi,” kata Aina.

Maraknya kelompok bersenjata di Rusia terjadi setelah ratusan pejuang dari negara-negara Arab (Wahhabi) bergabung dengan kelompok separatis di negara tetangga Chechnya. Kondisi ini dimulai pada awal 1990-an.

Doktrin orang Saudi tersebut melarang keberadaan Sufi (penganut ilmu tasawuf), karena dianggap sebagai “orang musyrik” yang memuliakan “orang-orang kudus” dan tempat-tempat suci.

Sementara Aina sendiri adalah anggota kelompok sufi pimpinan Said-Afandi Chirkavi, yang tewas karena serangan bom bunuh diri di Kaukus pada 2012. Pelakunya adalah seorang perempuan.

Dalam kariernya, Aina terbilang wanita sukses. Dia menjadi wanita yang sangat disegani dan diperhitungkan. Posisinya sebagai kepala grup media muslim terbesar di Rusia, Islam.ru yang terdiri dari stasun televisi, radio, surat kabar, serta penerbit buku-buku Islam.

Aina merupakan wanita tangguh dalam menghadapi kehidupannya. Ia ditinggal mati suami pertamanya, Said Muhammad Abubakarov, yang meninggal pada 1998 dalam ledakan bom mobil di Dagestan.

Setelah cukup lama menjanda, Aina kemudian dinikahi seorang mufti di Dagestan, Akhmad Abdulaev.

Pro Kontra
Rupanya, Aina kini menjadi selebriti politik di Rusia. Pencalonannya selalu menjadi topik menarik dan panas dibicarakan di ruang publik. Bahkan di komunitas Muslim Rusia sendiri terjadi perbedaan pendapat.

Walaupun cukup banyak yang mendukungnya, tapi ada sebagian yang berpendapat bahwa seharusnya Aina tak ikut dalam pencalonan penjabat publik.

Sejumlah pengamat setempat menilai, terlepas dari hasil pemilu nanti, kampanye Aina merupakan upayanya untuk meningkatkan citra wanita Muslim di Rusia. Aina juga ingin menarik perhatian masyarakat Rusia terhadap kebutuhan Dagestan yang miskin, berpenduduk padat, dan multi-etnis.

“Walaupun dia kalah, orang tahu bahwa wanita berjilbab bukan hanya dipandang sebagai seorang ibu atau wanita, tapi juga berpendidikan, bijaksana, dan dihormati, ” ujar Gaidarbek Gaidarbekov, wakil menteri olahraga Dagestan, melalui akun Instagramnya.

Mayoritas publik Rusia memang memprediksi, kans Aina untuk mengalahkan Putin sangat kecil. Walaupun 20 juta warga Muslim Rusia akan memilihnya. Pasalnya, jumlah penduduk negara bekas Uni Soviet itu mencapai 140 juta.

Aina sendiri mengaku, pencalonannya jangan dianggap sebagai usaha seorang Muslim untuk bersaing dengan Vladimir Putin.

Ia juga menyadari bahwa lawannya adalah  presiden petahana Rusia, Vladimir Putin, yang sangat kuat.

Juru bicara Aina, Gurizad Kamalov mengklaim, pencalonan Aina mendapat dukungan dari 542 orang. “Deklarasi Aina Gamzatova sebagai kandidat Pilpres Rusia didukung 542 orang,” kata Gurizad Kamalov, seperti dilansir TASS.

Seorang pendukung fanatiknya, Aisha Anastasiya Korchagina menilai, pencalonan Aina sebagai upayanya menggunakan hak konstitusionalnya sebagai warga negara Rusia.

“Saya melihat Aina hanya berusaha menggunakan hak konstitusionalnya sebagai warga negara Rusia,” kata Aisha.

Bisa Sulitkan Putin
Seorang blogger populer di Dagestan, Zakir Magomedov melihat, kans Aina untuk menang sangat sulit. Namun, akan menjadi lawan paling berat yang akan dihadapi Putin selama empat kali menjadi kandidat.

Magomedov pun memprediksi, Aina bisa meraup suara signifikan di Dagestan dan Kaukasus Utara.

“Setidaknya, Putin tidak akan menerima kemenangan hingga 146 persen seperti yang sudah-sudah,” kata Magomedov.

Sementara itu, pakar Kaukasus dan Direktur Pusat Pencegahan dan Analisis Konflik, Ekaterina Sokirianskaia menyebut, pencalonan Aina membuktikan bahwa ajang pilpres tidak didominasi pria.

Memang, ada juga calon dari kalangan perempuan lain yang bakal bertarung di Pilpres Rusia, selain Aina. Dia adalah Ksenia Sobchak. “Semakin beragam kandidat, akan semakin baik dalam perkembangan politik Rusia,” kata Ekaterina.

Mengenal sosok Aina
Aina Gamzatova lahir 1 Oktober 1971 di Makhachkala, Dagestan, Rusia. Ia anak dari pasangan Gamzatov Zairbek Omarovich dan Gamzatova Patimat Gamzatovna.

Ayahnya seorang guru yang telah 30 tahun mengajar di Sekolah Teknik Hidromelioratif Dagestan. Sedangkan ibunya sempat menjadi guru di Sekolah Menengah Gotsatlinskoy. Namun pindah bekerja di Rumah Sakit Uchkhoz Makhachkala selama 20 tahun.

Di usianya yang 33 tahun (2004), kedua orangtuanya tewas dalam kecelakaan mobil.

Pada 1989, Aina kuliah Jurnalistik di Universitas Negeri Dagestan. Sejak tahun pertama, ia magang di stasiun televisi dan di media cetak ‘Youth of Dagestan’.

Pada 1995, Aina menjadi penasihat media dan hubungan masyarakat di Republik Dagestan. Di saat yang sama, ia juga bekerja di televisi dan radio Dagestan sebagai penyunting segmen sosial dan politik.

Pada 1997 hingga 2012, diangkat menjadi pemimpin redaksi media cetak Al-Salam.

Dua tahun kemudian, media cetak Islamic Herald juga mengangkatnya sebagai pemimpin redaksi. Namun, hanya bertahan sampai 2001.

Lepas dari Islamic Herald, ia menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah Islam. Melalui tangannya, majalah itu berhasil mencetak 150 eksemplar yang didistribusikan ke wilayah-wilayah Federasi Rusia dan Persemakmuran Negara-negara Merdeka.

Tahun 2002 – 2003, Aina menjadi Asisten Atayev Arsen Atayevich, Kepala Administrasi Dewan Negara dan Pemerintahan Republik Dagestan.

Di tahun yang sama, sempat menjadi rektor Universitas Islam Kaukasus Utara hingga 2005.

Kesuksesannya membawa Aina mendirikan lembaga amal bernama ‘Path’ pada 2009. Setahun kemudian, tepatmya sejak 2010, ia menjadi pemimpin redaksi media analisis Islam.ru yang memiliki saluran televisi, radio, media cetak, hingga buku.

Sejak 2015, Aina dipercaya menjadi Wakil Rektor Sekolah Hukum di Republik Armenia.

Kariernya yang moncer terus membawanya ke berbagai aktivitas berskala internasional, mulai dari seminar, diskusi, sampai menulis buku.

sumber:
kumparan.com
kompas.com
detik.com

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password