Tjetje H. Padmadinata: Politik Sekarang, Panggungnya Kaum Oportunis Korup

Tjeje H Padmadinata. (ist)

BAGI mereka yang berkecimpung di dunia politik, tentu kenal dengan sosok Tjetje H. Padmadinata. Pria asal Tatar Pasundan ini sejak muda mencurahkan tenaga dan pikirannya pada aspek nasionalisme dan perkembangan politik kontemporer dalam berbangsa dan bernegara.

Ia adalah aktivis di atas aktivis. Aktivis lain menumbangkan kekuasaan, lalu mengambil alih kekuasaan. Tapi Budayawan Sunda itu tidak demikian.

Ia tak mau menjadi atasan, juga tidak ingin menjadi bawahan. ”Ia terus bersuara untuk meluruskan berbagai ketimpangan kekuasaan, hingga saya pun tersinggung, karena puluhan tahun saya berada pada kekuasaan,” demikian Ginandjar Kartasasmita menilai sosok Kang Tjetje.

Tokoh Sunda dari Zuid Bandoeng (Bandung Selatan) tersebut adalah aktivis mahiwal (unik, aneh, lain dari yang lain).

Untuk mengetahui lebih banyak soal pemikirannya, kabarjitu.com menyajikan wawancara dengan Kang Tjetje.

Apa sebenarnya rahasia Anda bisa bertahan dengan tetap penuh vitalitas hidup?

Saya ingin menghantarkan, kalau bisa menyaksikan, budaya modern tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Sunda dan Jawa Barat. Ini suatu reformasi, modernisasi, atau restorasi Sunda.

Sekalipun hal ini belum tentu berhasil, tetapi saya ingin dicatat sebagai orang yang sudah berbuat.

Adalah naif jika kita bisa mengkritik tetapi tak berbuat apa pun. Mungkin karena obsesi itulah, saya, alhamdulillah, tidak pernah sakit secara serius sampai di usia sekarang. Kecuali dua mata saya yang dioperasi, karena terlalu banyak membaca selama di penjara pada masa Orde Lama dan Orde Baru.

Apa formula yang Anda tawarkan?

Ada empat hal. Pertama, kaderisasi secara terpola, terprogram, dan tergerakkan.
Kedua, membangun formasi pemimpin-pemimpin baru (new leader formation) dari yang sifatnya personal menjadi institusional.
Ketiga, meningkatkan budaya lisan menjadi budaya tulisan.

Keempat, meningkatkan rasa Sunda menjadi daya Sunda, dari romantik menjadi dinamik. Kalau Nippon dulu berhasil melakukan “Restorasi Meiji”, mengapa Sunda sekarang tidak sanggup melakukan “Restorasi Sunda”?

Bagaimana Anda melihat orang Sunda sampai saat ini?

Sunda dalam totalitas alam, manusia, dan budayanya, akibat lama dan sering dijajah, menjadi kurang memiliki etos perlawanan. Di berbagai bidang kehidupan, manusia Sunda itu kurang memiliki “petarung” (fighter).

Apa yang menjadi harapan Anda?

Proses budaya adalah proses transformasi nilai, kebudayaan adalah kepatutan. Bagi para inohong sejati di berbagai bidang, wajib mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya kepada generasi baru. Dan, pada saatnya generasi baru itu akan menciptakan nilai-nilai baru pula. Apa yang sebaiknya tetap, apa yang sebaiknya berubah.

Apa arti politik Sunda bagi Anda?

Sunda itu politik nilai, bukan politik kekuasaan dan uang. Tanya diri kita masing-masing, apa manfaat diri kita bagi Sunda, bukan memanfaatkan Sunda bagi diri sendiri.

Bagi tokoh Sunda yang sudah usia kepala tujuh seperti saya, berilah kesempatan bagi yang muda-muda untuk tampil, jangan terus-terusan ingin menguasai “panggung” Sunda.

Nonoman Sunda seperti apa yang Anda harapkan muncul jadi pemimpin?

Dalam urusan politik praktis, saya bukan penganut asal Sunda. Itu sebabnya, kalau murni untuk Sunda, kita harus asak sasar, asak babadamian, asak jeujeuhan. Kalaupun ada risiko harus calculated risk.

Dalam khazanah Sunda ada istilah malapah gedang dan nete taraje nincak hambalan. Maka bagi siapa pun nonoman Sunda yang ingin manggung di Jakarta, dia harus “khatam” dulu di Jawa Barat. Tidak bisa ujug-ujug ingin jadi pemimpin nasional.

Jangan sampai, keinginan untuk memuliakan Sunda malah justru melecehkan Sunda dalam praktik dan akibatnya. Dan pemuda Sunda yang tampil itu diharapkan bukan sekadar bawahan yang baik, apalagi hanya menjadi badega raja.

Kalau harus menjelaskan politik Indonesia dalam satu kalimat, apa yang ingin Anda katakan?

Indonesia ini serba salah, salah strukturnya, salah sistemnya, salah praktik-praktiknya, dan terutama salah pemimpin-pemimpinnya. , Ternyata kebanyakan dari mereka itu, bodoh dan rakus! Kalimat itu saya tulis pada 1969 dalam buku “Siliwangi dan Demokrasi”, dan saya kira masih relevan sampai sekarang. Bahkan cenderung seperti kutukan.

Anda pesimis dengan kondisi politik sekarang?

Panggung politik sekarang adalah panggungnya kaum oportunis yang korup. Politik sekarang adalah politik uang dan kedudukan, bukan politik nilai atau the politics of value.

Bagaimana saya tidak pesimis? Saya kira persoalan bangsa ini tidak akan beres dalam 20 hingga 25 tahun ke depan. Kalau para pemimpin yang saat ini berkuasa tidak mampu membenahi diri, maka eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu sendiri menjadi dipertanyakan, akan seberapa lama lagi?

Apa nasehat akang bagi kaum muda yang tidak ingin tercemar oleh para oportunis korup itu?

Ada dua pegangan dasar dalam berjuang, sebagai code of honour (kode kehormatan), yaitu consistency in principle and flexibility in action (movement). Teguh dalam prinsip luwes dalam tindakan.

Lalu ada tiga syarat yang akan menjadi inner force bagi nonoman yang ingin bergerak maju, yakni tekad baja (will-power), keuletan (perseverance), dan kesabaran (patience).

Dan, jangan lupakan petuah dari John Stuart Mill, “One man with a belief is equal to a social power of ninety-nine who have only interest”.

Apa yang masih menjadi obsesi Anda di usia 3/4 abad sekarang?

Cita-cita saya itu ingin hidup tanpa punya atasan dan bawahan, itu sudah tercapai. Saat ini, bukan karena faktor usia semata. Yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya adalah perasaan dan pikiran bahwa perbedaan parpol itu sudah lewat.

Obsesi saya sekarang ialah ingin menghibahkan atau mewakafkan umur yang tersisa ini untuk kaderisasi, membantu siapa saja yang mau maju untuk kebaikan dan kemanfaatan umum.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password