Menaker: Banyak Pekerja Karirnya Mentok Gara-gara Pemda

istimewa

JAKARTA (kabarjitu): Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri mengatakan, selama ini banyak ditemukan masyarakat Indonesia yang telah bertahun-tahun bekerja di salah satu perusahaan, namun karirnya tidak mengalami peningkatan.

Hal Ini disebabkan banyak faktor, termasuk akses dan mutu kerja kurang memadai.

Karena itulah, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu menyediakan anggaran yang memadai, guna melaksanakan pelatihan kerja untuk akses dan mutu peningkatan kerja.

“Pelatihan kerja bukan sekedar membuat masyarakat memiliki kesempatan diterima di sejumlah perusahaan namun juga dapat berdampak pada peningkatan karir tenaga kerja,” ucap Menaker seperti dikutip Antara, Sabtu (27/1/2018).

Saat ditemui wartawan pada acara pelantikan pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) se-Kalteng di Palangka Raya, Hanif mengatakan, selain masalah penyediaan anggaran memadai dalam melaksanakan pelatihan, Pemda se-Kalteng perlu memperhatikan tenaga kerja di perusahaan perkebunan.

Sebab, banyak tantangan dan kasus ketenagakerjaan yang terjadi di perusahaan perkebunan.

Dia mengatakan, Kemenaker juga terus melakukan pengawasan dan mendorong perusahaan agar melaksanakan norma-norma Ketenagakerjaan. Mulai dari upah buruh, jaminan sosial hingga mendapatkan izin cuti sesuai dengan yang diatur dalam Undang-undang.

“Kalau untuk tenaga kerja kontrak kan memang sudah ada diatur dalam undang-undang Ketenagakerjaan. Tapi memang di masa depan ini perlu dikaji kembali mengenai tenaga kontrak. Ada beberapa yang perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan kondisi kekinian,” kata Hanif.

Misal, lanjut dia, ada salah satu perusahaan di Indonesia ini mendapat kontrak dari perusahaan luar negeri di bidang pembuatan sepatu. Perusahaan di Indonesia ini hanya dikontrak selama lima tahun untuk menyediakan sepatu, sehingga perusahaan tersebut tidak mungkin merekrut tenaga kerja sampai pensiun melainkan menyesuaikan kontrak.

“Hal-hal seperti ini kan belum ada diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan. Kita tidak mau juga perusahaan sulit berkembang karena masalah ini. Kalau itu terjadi, ya masyarakat Indonesia juga yang kesulitan mendapatkan pekerjaan,” demikian Hanif. (Mh)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password