Bamsoet Gantikan Setnov, Hubungan DPR – KPK Bisa Mirip Cecak-Buaya

istimewa

JAKARTA (kabarjitu): Bambang Soesatyo dilantik sebagai Ketua DPR menggantikan Setya Novanto. Pelantikan digelar dalam rapat paripurna di gedung Nusantara I DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/1/2018) Pukul 16.35 WIB.

Namun, pelantikan itu berasa hambar, karena hanya dihadiri oleh 187 anggota. Ini terlihat dari jumlah kehadiran di absensi. Dari 560 anggota DPR RI, 313 orang absen dan 60 orang izin.

Wakil Ketua DPR Agus Hermanto bertindak sebagai pemimpin rapat Paripurna tersebut. Tampak hadir juga Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah dan Taufik Kurniawan.

Sebelum rapat Paripurna digelar, pagi harinya Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto mengumumkan penunjukan Bambang Soesatyo sebagai pengganti Setya Novanto di kursi Ketua DPR RI.

Usai rapat dibuka, Agus Hermanto yang memimpin rapat bertanya, “Apakah pergantian Ketua DPR RI dari Setya Novanto kepada Bambang Soesatyo dapat disetujui?”

“Setuju” jawab peserta rapat tanpa ada yang menolak.

Saat membacakan sumpah jabatan, Bambang Soesatyo beberapa kali salah megucapkan kalimat. Ketika Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali membacakan sumpah, awalnya Bamsoet lancar megikutinya.

“Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban saya sebagai Ketua DPR dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara RI tahun 1945,” ucap Bamsoet.

Namun, kesalahan terjadi saat Bamsoet mengucapkan sumpah berikutnya. Kekeliruan terjadi beberapa kali ketika mengucapkan kata “serta”. Bamsoet malah mengucapkan “dengan”.

Kesalahan ucap kembali terjadi saat melafalkan kata “mengutamakan” menjadi “mengedepankan”. Ia pun mengoreksinya sampai benar-benar tepat.

“Demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara,” kata Bamsoet.

Bambang Soesatyo membacakan sumpah jabatan saat dilantik menjadi Ketua DPR RI menggantikan Setya Novanto pada Senin, 15 Jan 2018.

Singgung Korupsi
Usai dilantik, dalam pidatonya Bamsoet sempat menyinggung soal korupsi di DPR. Menurut dia, Setya Novanto meninggalkan kursi ketua DPR karena terjerat kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.

Korupsi, lanjut Bamsoet, masih menjadi persoalan pokok di DPR. “Salah satu masalah pokok yang harus kita perhatikan adalah korupsi. Dalam hal ini, masyarakat menilai citra yang sangat negatif kepada DPR RI,” ujar Bamsoet.

Menurut Bamsoet, untuk mengubahnya, harus dilakukan melalui langkah-langkah mendasar, yakni dimulai dari diri sendiri. “Insya Allah, atas bantuan semua pihak, tujuan tersebut bisa tercapai,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Bamsoet juga berterima kasih kepada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto yang telah mengajukan namanya menggantikan Setya Novanto.

DPR vs KPK
Pengamat politik Jerry Sumampouw memprediksi, dengan dilantiknya Bamsoet menjadi Ketua DPR RI, hubungan DPR RI dan KPK akan kembali tidak harmonis. Alasannya, Bamsoet adalah saksi kasus korupsi e-KTP yang kini sedang ditangani KPK.

Kekhawatiran mendasar, kata Jerry, akan munculnya konflik kepentingan yang berlanjut pada konflik antarlembaga. Bisa seperti kasus Cecak vs Buaya.

“Waktu Bamsoet dipanggil KPK, ia mangkir. Kalau Bamsoet dilantik, bisa saja konflik DPR dan KPK berjilid-jilid lagi? (Ketika Setnov Ketua DPR) konflik jilid satu dan dua pun terjadi,” ujar Jerry, Senin (15/1/2018).

Menurut Jerry, walaupun Bamsoet menjadi Ketua DPR RI, tidak serta-merta KPK bakal menghentikan kasus yang diduga melibatkannya itu. Dia akan tetap dipanggil KPK untuk memberikan keterangan.

Proses pemanggilan itulah yang dikhawatirkan bisa memperkeruh hubungan DPR RI – KPK seperti sebelumnya. “Kalau setelah dilantik, lalu KPK memanggilan lagi dan dia tidak mau juga datang, sampai ke panggil paksa, maka dunia persilatan Indonesia akan gaduh lagi,” ujar Jerry.

Menanggapi pelantikan Bamsoet, KPK menghargai proses yang dilakukan di DPR RI tersebut. Namun, tidak akan mengubah agenda pemeriksaan terhadap Bamsoet yang berstatus sebagai saksi pada kasus korupsi e-KTP.

KPK berharap, setelah menjadi Ketua DPR RI, Bamsoet bisa bersinergi dengan KPK dan ke depannya bisa konsisten dalam upaya pemberantasan korupsi.

Apalagi, kata Febri, selain program pemberantasan korupsi di partai politik, KPK juga bekerja sama dengan DPR dalam hal pencegahan.

——
Berikut ini absensi paripurna pelantikan Ketua DPR hari ini:
Fraksi PDIP: 55 dari 109 anggota
Fraksi Partai Golkar: 60 dari 91 anggota
Fraksi Partai Gerindra: 37 dari 73 anggota
Fraksi Demokrat: 21 dari 61 anggota
Fraksi PAN: 18 dari 48 anggota
Fraksi PKB: 16 dari 47 anggota
Fraksi PKS: 13 dari 40 anggota
Fraksi PPP: 11 dari 39 anggota
Fraksi NasDem: 14 dari 36 anggota
Fraksi Hanura: 5 dari 16 anggota
Total yang hadir: 247 dari 560 anggota,
Izin: 60 anggota
Absen: 313 anggota

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password