Keputusan MK Soal Zinah dan LBGT Membenturkan Semua Agama dan Norma Pancasila

Lima Hakim Konstitusi yang menolak uji materi hukum perizinahan dan LGBT. Mereka adalah Saldi Isra, Maria Farida, I Dewa Gede Palguna, M. Sitompul, dan Suhartoyo.

MAHKAMAH Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materil yang diajukan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia terkait pasal 284, 285, dan 292 KUHP.

“Amar putusan mengadili menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya,” kata Ketua MK, Arief Hidayat di persidangan , Kamis (14/2).

Keputusan tersebut melalui ‘dissenting opinion’ (berbeda pendapat)  atau tidak dengan suara bulat majelis hakim MA, melainkan dengan perbandingan suara 5:4.

Ketua MK Arief Hidayat mengatakan ada empat hakim konstitusi yang melakukan dissenting opinion degan putusan, yakni dirinya sendiri, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, dan Aswanto.

Sedangkan lima hakim konstitusi yang menolak permohonan pemohon adalah Saldi Isra, Maria Farida, I Dewa Gede Palguna, M. Sitompul, dan Suhartoyo.

Para pemohon uji materi pasal soal zina, cabul, dan homoseksual KUHP tak bisa menyembunyikan emosinya pasca keputusan MK, yang menolak permohonan memperluas pasal perzinahan di KUHP dan LBGT.

“Putusan ini berdampak semakin rentannya masyarakat terhadap kejahatan kesusilaan,” tulis AILA Indonesia dalam pernyataan terbukanya.

Sebaliknya, kelompok pegiat Koalisi Perempuan malah menyatakan kegembiraannya berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari perempuan. “Itu menunjukkan negara menghargai dan menjaga ketahanan keluarga Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan, Dian Kartikasari.

Euis Sunarti, salah seorang anggota AILA yang juga guru besar bidang ketahanan keluarga Institut Pertanian Bogor ini, menampik salah satu pertimbangan dalam penolakan majelis adalah karena pemidanaan akan membuat penjara Indonesia tidak muat menampung.

“Jangan bandingkan persoalan teknis kerepotan itu dengan bencana sosial dan bencana moral yang terjadi,” ujar Euis.

Alasan MK
Dalam putusan yang dibacakan Kamis (14/12), dinyatakan bahwa MK tidak memiliki kewenangan untuk membuat aturan baru.

Mahkamah juga menyatakan bahwa pasal-pasal KUHP yang dimohonkan untuk diuji-materi, tidak bertentangan dengan konsitusi.

Ada tiga pasal KUHP yang dimohon untuk diuji oleh MK, yakni;

Pasal 284 tentang perzinahan, yang tadinya terbatas dalam kaitan pernikahan dimohonkan untuk diperluas ke konteks di luar pernikahan.

Pasal 285 tentang perkosaan, yang tadinya terbatas laki-laki terhadap perempuan, dimintakan untuk diperluas oleh laki-laki ke laki-laki ataupun perempuan ke laki-laki.

Dan Pasal 292 tentang percabulan anak, yang asalnya sesama jenis laki-laki dewasa terhadap yang belum dewasa dimintakan untuk dihilangkan batasan umurnya.

Kecewa pada MK

Fraksi PKS menyatakan kecewa dengan putusan MK. Menurut Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini, penolakan itu semakin mengancam masa depan generasi bangsa. Bahkan tidak sesuai dengan karakter kebangsaan Indonesia yang beradab, bermartabat, dan relijius.

“Permohonan ini adalah upaya mengokohkan kebangsaan sesuai Pancasila dan UUD 1945 sebagai nilai-nilai luhur bangsa. Sejatinya ini bagian dari tanggung jawab kita untuk menjaga moral, karakter, dan identitas bangsa,” ujar Jazuli dalam keterangan tertulis, Jumat (15/12).

Jazuli mengaku heran tehadap MK. Padahal pasal yang diuji sangat konstruktif bagi hukum positif yang berlaku, khususnya terkait kesusilaan yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan lingkungan sosial dan problematika yang ada.

“Kita tidak ingin perilaku menyimpang dan penyakit sosial itu semakin marak dan merusak masa depan bangsa kita. Di sana ruh dan semangatnya,” ujar Jazuli.

Ketua MUI Ma’ruf Amin menyayangkan keputusan MK tersebut. Menurutnya, jika berdasarkan ilmu agama, maka kumpul kebo dan LGBT dikategorikan dalam perbuatan zina yang pantas diberi hukuman.

“Keputusan MK kan sudah final, sudah mengikat. Untuk itu kita akan bahas caranya bagaimana, kalau ada putusan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk itu kita suarakan, kita dengungkan,” ungkap Ma’ruf seperti dikutip kumparan.com, Jumat (15/12).

Ia mengatakan, penolakan MK berpotensi menimbulkan benturan antara umat Islam yang ingin taat pada agama dengan aturan di negara. Apalagi jika aturan tersebut diputus tanpa memperhitungkan aturan-aturan agama.

“Nah, ini yang akan menjadi masalah. Ini merusak kesepakatan kita. Kalau bicara soal hak asasi manusia, itu kan ada batasannya. Kalau kita melanggar, menodai agama, kalau diperbolehkan, nanti rusak toh. Makanya, hak asasi yang tanpa batas harus dibatasi oleh undang-undang, oleh norma. Harus itu,” tandasnya.

Ketua Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI), Chandra Purna Irawan mengatakan LGBT sangatlah bertentangan dengan aturan hukum di Indonesia dan norma-norma agama.
“LGBT bertentangan dengan hukum, norma agama dan kesusilaan,”ujar Chandra  Jumat (15/12/17).

Menurutnya, keberadaan LGBT di Indonesia tidak sesuai dengan pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974 mengenai perkawinan. ‘Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang MahaEsa’.

“Dan ketentuan serupa mengenai isi kartu penduduk yang ditetapkan dalam Undang-Undang Administrasi Kependudukan UU No. 23/2006,” tukas Chandra.

Aturan dalam Islam
Pada ajaran Islam, LGBT itu dikenal 2 istilah yaitu Liwath (gay) , Sihaaq (lesbian). Dan, kaum gay itu memang sudah ada sejak zaman dahulu. Perbuatan menyimpang ini sudah ada sejak kaum Luth ‘Alaihis salam.

Kata Liwath merupakan sebutan untuk kaum Nabi Luth, karena merekalah yang pertama kali melakukan perbuatan menyimpang ini.

Allah SWT menyebutnya sebagai perbuatan keji (fahisy) dan juga melampaui batas (musrifun), dan Allah juga sudah menjelaskannya pada Al Qur’an :
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ . إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Dan (Kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).

Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” (QS: Al ‘Araaf. 80-81)

Dan untuk Hubungan lesbian atau Sihaaq ini sudah dijelaskan Hukumnya oleh Abdul Ahmad Muhammad Al-Khidir bin Nursalim Al-Limboriy Al-mulky {hukmu al liwath wa al sihaaq , hal 13} itu memiliki hukum haram dan hal ini juga didasari dari Dalil hadits Abu Said Al-Khudriy yang diriwayakan Al-Imam Muslim {no,388} Abu Dawud {no,4018} dan juga At-Tirmidzi{no, 2793} bahwa Rasulullah SAW berkata :

Memanglah perbuatan menyimpang ini  sangatlah dibenci oleh Allah SWT dan juga Rasulullah SAW. Bahkan telah melaknat perbuatan yang menyimpang tersebut.

Dan hal ini juga telah disampaikan pada kitab Al-Kabair di halaman 40 yang ditulis oleh Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy Rahimahullah kalau homoseksual adalah salah satu dosa besar.

Di dalam kitabnya, disebutkan, Allah telah membinasakan kaum homo karena perbuatan kejinya. Kaum Nabi Luth ini binasa dengan azab yang sangatlah dasyat. Tanah tempat tinggal mereka dibalik disertai hujan bebatuan hingga memusnahkan mereka. Hal ini juga sudah ada di dalam surat Al-Hijr pada ayat 74.
“Maka Kami jungkir balikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.

Dan sudah sangatlah jelas kalau Hukum LGBT didalam agama islam ini sangatlah dilarang dan juga haram. (rukun-islam.com)

Kristen soal LGBT
Bagaimanakah pandangan Alkitab terhadap LGBT? Alkitab secara tegas menolak LGBT.
Ada 10 bagian Alkitab yang menolak LGBT, khususnya yang berkaitan dengan gay dan lesbian. Sepuluh penolakan Alkitab tersebut ada dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Berikut kesepuluh penolakan Alkitab terhadap LGBT tersebut.
1. Rancangan Tuhan dalam Penciptaan Manusia
Bagian Alkitab pertama yang bisa dikatakan penolakan Alkitab terhadap LGBT adalah Kejadian 1:27-28.

Dalam ayat-ayat ini jelas disebutkan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Mereka diberkati-Nya serta diperintahkan-Nya untuk beranak cucu dan bertambah banyak. Jadi Tuhan hanya memberkati laki-laki dengan perempuan, bukan memberkati laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.

Dalam Kejadian 2:18; Tuhan menciptakan pasangan yang sepadan dengan Adam. Dan yang diciptakan-Nya bagi Adam adalah Hawa. Sesuai rencana Tuhan, pasangan yang sepadan bagi laki-laki adalah perempuan, bukan laki-laki. Dan pasangan seorang perempuan adalah laki-laki, bukan perempuan.

2. Kisah Pemusnahan Sodom dan Gomora
Penolakan Alkitab terhadap LGBT adalah kisah Sodom dan Gomora.
Sodom dan Gomora adalah dua kota yang dimusnahkan Tuhan, karena perbuatan homo masyarakatnya. Hal itu disebutkan dalam Kejadian 19:4-5, Kejadian 4:1, Kejadian 19:1-28).

3. Larangan Tegas Terhadap Persetubuhan Sesama Laki-laki
Penolakan Alkitab berikutnya terhadap LGBT terdapat dalam perintah Tuhan kepada orang Israel, umat pilihanNya. Tuhan memberi perintahNya kepada orang Israel,
“Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” (Imamat 18:22)

Ini adalah ayat yang sudah sangat jelas tentang larangan berhubungan seksual dengan sesama jenis, sesama laki-laki. Alasannya adalah karena hal itu suatu kekejian bagi Tuhan.

4. Hukuman Mati Bagi Para Homoseksual
Kepada umat pilihan-Nya, Israel, Tuhan kembali menegaskan bahwa, ”Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” (Imamat 20:13)

Di Perjanjian Lama, dosa-dosa yang bisa diganjar dengan hukuman mati di Israel antara lain adalah: perzinahan, pemerkosaan, dan homoseksual.

5. Peringatan Tentang Semburit Bakti atau Pelacur Laki-laki.
“Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti.” (Ulangan 23:17)

Pelacur bakti atau semburit bakti adalah praktek yang banyak dilakukan oleh para penyembah berhala di Tanah Kanaan. Di kuil-kuil dewa-dewa di Kanaan, para wanita atau laki-laki membuka “praktek” untuk orang-orang yang datang beribadah kepada para dewa.

Para pelacur/semburit bakti ini merupakan wakil dewa, jika orang-orang yang beribadah melakukan hubungan seksual dengan mereka, maka orang-orang ini seolah-olah telah “berhubungan” dengan dewa-dewa, karena mereka dianggap wakil-wakil para dewa itu.

Karena itulah orang Israel dilarang menjadi pelacur/pemburit bakti. Dan uang hasil dari pelacuran/pemburitan bakti tidak boleh dipersembahkan kepada Tuhan (Ulangan 23:18).

6. Kisah Gundik Lewi dan Orang-orang Benyamin
Penolakan Alkitab lainnya terhadap homoseksual terdapat dalam kisah tentang gundik orang Lewi dan para lelaki dari suku Benyamin. Kisah ini mirip dengan kisah Sodom dan Gomora. (Hakim-hakim 19:14-29)

7. Peringatan Rasul Paulus kepada Jemaat Roma
Rasul Paulus menulis, “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.” (Roma 1:26-27)

Rasul Paulus menyebut hal ini sebagai akibat dosa pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Jadi karena mereka tidak taat kepada Tuhan maka Tuhan menyerahkan mereka pada hawa nafsu yang memalukan, yakni cinta kepada sesama jenis (Roma 1:18-25).

8. Peringatan Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus
Peringatan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Rasul Paulus menulis, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9-10)

9. Peringatan Rasul Paulus kepada Timotius
Rasul Paulus menulis, “Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat.” (1 Timotius 1:8-10)

10. Peringatan Rasul Yudas
Rasul Yudas menulis, “… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.” (Yudas 1:7) (rubrikkristen.com)

Hindu Tolak LGBT
Ketua Umum Parisada Hindu Darma Indonesia Sang Nyoman Suwisma mengatakan agama Hindu melarang pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, apalagi hubungan sesama jenis antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.

Suwisma mengatakan agama Hindu melarang perkawinan dan hubungan antara manusia dengan jenis kelamin yang sama karena dalam sastra Hindu, Hyang Widhi menciptakan laki-laki sebagai bapak dan perempuan sebagai ibu melalui upacara perkawinan. (Antaranews)

Larangan Budha
Ketua Bidang Ajaran Walubi Suhadi Sendjaja menegaskan, aktivitas LGBT tidak dibenarkan dalam perspektif agama Buddha. Agama Budha memandang LGBT sebagai penyimpangan atau kelainan.

Oleh karena, dari perspektif agama, fenomena ini harus segera dihentikan. Namun, dari perspektif kemanusiaan pelaku LGBT patut diayomi dan dibimbing Sehingga mereka bisa kembali dalam keadaan normal.

“Kami mengharapkan semua pihak punya pemikiran untuk membimbing mereka,” ungkap Suhadi.

Suhadi juga meminta agar komunitas agama bisa meningkatkan pembinaan kepada umatnya masing-masing agar mereka bisa menjalankan arahan agama yang diyakini.

Selain agama, landasan yang paling penting lainnya adalah keharmonisan di dalam keluarga. Orangtua harus bisa mendidik anak sejak dini secara komprehensif. Tidak hanya mendidik membaca dan menulis, para orangtua juga diminta untuk memoerhatikan pertumbuhan mental anak.(republika)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password